Ketika Dongeng Menyatukan Kami

  • Bagikan
Dua anak sedang asyik mendengarkan dongeng dari Komunitas Plataran Bocah, Minggu (8/8)

Saya sempat kaget saat gawai bergetar oleh nomor tak dikenal. Bunyinya, menurut saya menyenangkan.

“Kak, kok nggak ada dongeng malam ini? Ayza ingin didongengkan lagi. Kami dari Palembang,”tulis seseorang ternyata ibunya Ayza, salah satu anggota komunitas dongeng.

Saya menjawab, dongeng kemungkinan akan ada malam selanjutnya. Artinya, setiap dua hari sekali atau tiga kali dalam seminggu, dongeng hadir lewat aplikasi zoom

Pesan singkat itu saya maknai sebagai keinginan kuat Bunda Ayza untuk menyenangkan buah hatinya. Ternyata, kegiatan membacakan beragam cerita atau dongeng ini, berkesan di hati anak usia PAUD itu. Sayapun bersyukur bisa bergabung di komunitas ini.

Awalnya, Hani, yang juga teman sesama jurnalis, mengajak saya dan beberapa teman lainnya untuk bergabung dalam komunitas dongeng untuk anak-anak. Saat itu, tanpa pikir panjang, saya mengiyakan. Membayangkan dongeng, apalagi diminta mendongeng, membuat saya bersemangat, meski belum pernah mendongeng seumur hidup.

Terlebih saat Hani cerita kalau membentuk klub dongeng itu adalah ide buah hatinya. Sebagai ibu, tentu saja Hani berupaya keras mewujudkan.

Dibantu rekannya, seorang pemusik yang juga pegiat pendidikan yang dipanggil Kak Roni, akhirnya mimpi itu terwujud. Saat itu, belum terbersit memberi nama khusus bagi grup dongeng kami. Yang penting jalan saja dulu, karena anggotanya terus bertambah. Rupanya banyak orang tua yang berminat anak-anaknya dibacakan dongeng.

Anggota grup dongeng yang terus berkembang itu berasal dari berbagai daerah. Ada yang tinggal di Kota Bekasi, Tangerang, Jakarta Timur, Kota Depok, Lampung, Palembang, sampai Madura dan beberapa kota di Jawa Tengah. Kami tidak saling kenal, tapi disatukan dalam satu tujuan yang sama, menghibur dan mencerahkan.

Siapa saja pendongengnya? Siapa saja boleh, asal mau. Usia para pendongeng mulai dari usia SMP sampai setengah baya.

Selama masa liburan akhir Juni sampai pertengahan Juli, dongeng digelar hampir tiap hari. Atas kesepakatan bersama, kegiatan mendongeng pasca liburan, terus dilanjutkan, tapi tidak setiap malam.

Kini, setelah hampir dua bulan berjalan, komunitas dongeng dalam jaringan ini telah beranggotakan lebih dari 83 nomor gawai. Satu gawai yang hadir dalam zoom itu kadang terdiri dari satu keluarga. Usia anak-anak pecinta dongeng ini berkisar usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD dan ada sebagian yang sudah masuk jenjang SMP.

Kegiatan mendongeng sendiri, sesungguhnya menyenangkan bagi dua pihak. Tidak hanya anak-anak yang mendengarkan, juga bagi pendongengnya sendiri. Saya sendiri merasakan itu. Saya jadi membuka catatan-catatan dongeng, mengingat kembali masa-masa saat saya kecil dan asyik mendengarkan dongeng. Belajar mendongeng pun jadi kegiatan baru selama sebulan terakhir.

Bagi anak-anak, mendengarkan dongeng tentu akan menambah kecerdasan, memperkaya imajinasinya dan memberi semangat, khususnya setelah penat belajar di rumah saat pandemi ini. Lewat cerita atau dongeng, pembentukan karakter dapat diwujudkan. Ada nilai-nilai moral dan sikap terpuji yang dapat diselipkan di setiap cerita yang disajikan.

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2021 memberi ruang khusus bagi pengembangan literasi bahasa pada anak. Salah satunya dengan kegiatan membacakan cerita atau mendongeng bagi anak-anak. Kemendikbudristek bahkan menggelar kegiatan mendongeng sejak 26 sampai 31 Juli lalu. Itu artinya, mendongeng telah menjadi bagian penting membentuk kecerdasan bangsa.

Seiring waktu, komunitas dongeng kami sudah punya nama, Plataran Bocah. Artinya, tempat anak-anak berkumpul dan bermain. (DianW)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *