Waspada
Waspada » Kemendikbud Luncurkan Program Guru Belajar
Pendidikan

Kemendikbud Luncurkan Program Guru Belajar

Dirjen GTK Kemendikbud Iwan Syahril

JAKARTA (Waspada): Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) berbasis beban kurikulum yang disederhanakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) meluncurkan Program ‘Guru Belajar Seri Masa Pandemi COVID-19’, Senin (28/9).

Program Guru Belajar ini seluruhnya akan dilaksanakan secara daring (online), mulai 1 sampai 19 Desember 2020. Kegiatannya terbagi dalam beberapa tahap yaitu bimtek, diklat serta pengimbasan.

“Sebanyak lima angkatan akan mengikuti bimtek, selanjutnya panitia akan menyeleksi peserta untuk mendapatkan tiga angkatan yang nantinya mengikuti tahap diklat dan pengimbasan,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) GTK, Kemendikbud, Iwan Syahril dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (29/9).

Iwan mengakui, PJJ memerlukan kemampuan guru yang lebih baik untuk beradaptasi. Di sini, guru perlu untuk terus mengembangkan kemampuan mengelola PJJ, utamanya dalam penggunaan teknologi komunikasi.

“Lebih dari itu, guru juga diajak meningkatkan kemampuan melakukan asesmen PJJ supaya kualitas belajar semakin baik,”imbuh Iwan.

Sebelumnya, program ini telah diujicobakan kepada 984 guru yang terdiri dari 208 Guru PAUD, 257 Guru SD, 261 Guru SMP, serta 258 Guru SMA dan SMK. Informasi lebih lanjut dapat mengakses laman resmi: gurubelajar.kemdikbud.go.id.

Mengenai PJJ, Iwan mengutip penelitian UNESCO yang mengungkap sebanyak 90 persen atau setara 1,3 miliar siswa di dunia terpaksa belajar dari rumah karena wabah COVID-19.

Data Kemendikbud mencatat, di Indonesia ada 96,6 persen dari sedikitnya 68 juta siswa yang belajar dari rumah. Sebanyak 86,6 persen siswa Indonesia belajar di rumah dengan mengerjakan tugas dari guru.

“Itu artinya, pembelajaran yang interaktif hanya berhasil dilakukan oleh 38,8 persen populasi,” tambah Iwan.

Iwan juga menyoroti guru-guru kesulitan melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Sebanyak 53,55% guru kesulitan mengelola kelas selama PJJ, dan 49,24% guru terhambat melaksanakan asesmen PJJ. Guru juga sulit menggunakan teknologi selama PJJ, dengan jumlah 48,45 persen,” ungkapnya.

Biaya komunikasi digital juga menjadi beban bagi guru. Rata-rata guru menghabiskan Rp 190 ribu untuk membeli kuota internet dan pulsa. Kabar baiknya, 89,1 persen orangtua terlibat mendampingi anak belajar dari rumah.(J02)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2