Waspada
Waspada » Irwansyah Harahap Dan Kiprahnya di Musik Etnik Dunia
Pendidikan

Irwansyah Harahap Dan Kiprahnya di Musik Etnik Dunia

JAKARTA (Waspada): Padepokan Seni Mahagenta di Desa Tajurhalang, Kabupaten Bogor menjadi saksi pertunjukan musik bagaikan konser mini nan syahdu milik Irwansyah Harahap. Seniman musik yang sudah malang melintang dalam dunia pertunjukan musik dunia itu, Sabtu (21/11) malam, memboyong kelompok musik etniknya, Suarasama ke padepokan milik seniman Uyung Mahagenta. Nampak hadir pemusik Jazz, Idang Rasidi, Analis Kebijakan Ahli Madya, Setditjen Kebudayaan
Kosasih Bismantara, serta sejumlah media.

Deratan lagu dengan nuansa musik etnik mengalun indah. Lagu pertama berjudul ‘Fajar di Atas Awan” dinyanyikan dengan indah oleh sang isteri, Rithaony Hutajulu. Selanjutnya ada ‘Lebah’ dan ‘Timeline’ yang menggelitik nurani lewat syair, lagu dan komposisi musiknya yang unik.

Irwansyah Harahap menjadi satu dari 196 maestro seni budaya yang meraih pembiayaan Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2020. Jenis fasilitasinya adalah penciptaan karya kreatif inovatif. FBK adalah salah satu upaya Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewujudkan strategi pemajuan kebudayaan.

Dari situs kebudayaan terungkap, ada 3.427 proposal masuk ke meja panitia seleksi FBK. Seluruhnya berasal dari perorangan, komunitas budaya dan lembaga atau organisasi kemasyarakatan di bidang kebudayaan yang telah berbadan hukum. Periodenya antara Maret dan Juli. Dari ribuan proposal masuk, Irwansyah Harahap menjadi salah satu yang lolos dan berhasil meraih anggaran.

Dikatakan Irwansyah, pertunjukan di Padepokan Seni Mahagenta adalah bagian dari upayanya memperkenalkan karya kreatif inovatifnya dalam bermusik.

Dosen etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) ini, telah lama mengarungi dunia musik etnik dan kini merambah pada musik etnis dunia. Kiprahnya telah lebih dari seperempat abad.

Lahir di Medan, 57 tahun lalu, Irwansyah remaja memberikan perhatiannya pada musik jazz. Ia mengambil Jurusan Etnomusikologi (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sumatera Utara (USU) di tahun 1983, kemudian melanjutkan pendidikan Master Etnomusikologi di University of Wellington Seattle, AS.

Semasa kuliah, Irwansyah aktif terlibat dalam kegiatan seni musik tradisional Batak di Lembaga Kesenian USU, mulai dari memainkan alat tabuh Taganing, alat petik hasapi hingga ansambel gordang sambilan Mandailing.

Dari aktivitas ini, ia pun berkesempatan mengikuti misi kesenian ke beberapa negara Eropa dan Asia

“Saya tertarik pada musik rakyat yang ada di dunia, seperti juga orang-orang asing tertarik pada aneka jenis musik daerah yang kita miliki,” ujar Irwansyah saat ditemui dalam pertunjukan malam itu.

Irwansyah mengaku sangat senang mendapatkan FBK dari Kemendikbud. Menurutnya hal ini adalah bagian penting dari kehadiran negara dalam mengapresiasi para budayawan dan komunitas budaya di Tanah Air.

“Kiprah saya terus akan berjalan, seiring berkembangnya musik etnis dunia. Musik etnis Indonesia adalah peluang bagi kita semua untuk maju. Saya meyakini itu,” ujar tokoh pegiat musik dunia di Indonesia ini.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam peluncuran program FBK beberapa waktu lalu mengatakan, anggaran FBK sebanyak Rp80 miliar diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemajuan kebudayaan di tanah air, baik kelompok maupun perorangan.

Lebih jauh Hilmar menjelaskan, FBK sebagai salah satu stimulus yang diberikan kepada perseorangan atau kelompok, bersifat non-fisik dan non-komersil, serta dapat diapresiasi masyarakat dan pemangku kepentingan secara luas.

“Dari program ini diharapkan muncul inovasi dan kreasi baru dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia. Hal itu sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang pemajuan kebudayaan,” pungkas Hilmar. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2