Waspada
Waspada » Guru SMPN 3 Asahan, Gunakan Model PJJ Dengan Bermain Peran
Pendidikan

Guru SMPN 3 Asahan, Gunakan Model PJJ Dengan Bermain Peran

Guru SMP Negeri 3 Asahan, Sumatera Utara (Sumut), Isnaini, S.Pd saat melakukan pembelajaran jarak jauh selama pandemi dengan sebuah model belajar Bermain Peran kepada anak didiknya lewat aplikasi WA Gruop dan memantaunya dari laptop.
Guru SMP Negeri 3 Asahan, Sumatera Utara (Sumut), Isnaini, S.Pd saat melakukan pembelajaran jarak jauh selama pandemi dengan sebuah model belajar Bermain Peran kepada anak didiknya lewat aplikasi WA Gruop dan memantaunya dari laptop.

MEDAN (Waspada): Dampak dari Belajar Dari Rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi, para guru dituntut menciptakan pembelajaran yang aktif dan kreatif. Salah satunya dengan menggunakan model belajar dengan Bermain Peran.

Seperti yang dilakukan Guru SMP Negeri 3 Asahan, Sumatera Utara (Sumut), Isnaini, S.Pd yang merancang sebuah model pembelajaran Bermain Peran kepada siswa kelas VII-1 pada materi Menelaah struktur dan ciri kebahasaan teks prosedur. Proses pembelajaran dilakukan secara daring dengan menggunakan aplikasi whatsApp.

Isnaini yang merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation ini menyebutkan, proses pembelajaran ini dimulai dengan mengondisikan peserta didik untuk belajar daring. Cara mengondisikan peserta didik dengan mengirimkan rekaman suara yang dikirim melalui WA grup.

”Rekaman suara berisi sapa mengajak berdoa, menyampaikan tujuan pembelajaran, memberi motivasi. Selanjutnya sesi mengaktifkan peserta didik. Pada sesi ini model pembelajaran yang dipilih adalah bermain peran. Model bermain peran ini dianggap dapat mengasyikkan dan menyenangkan peserta didik dalam belajar daring,” jelasnya.

Isnaini menyebutkan, langlah-langkah belajar dengan model bermain peran ini antara lain, peserta didik membentuk kelompok secara berpasangan. Tiap pasangan membaca materi dari sumber buku paket dan internet tentang struktur dan ciri kebahasaan teks prosedur.

Setelah peserta didik membaca dan memahami materi, tiap pasangan membagi perannya masing-masing. Peserta didik dibagi menjadi dua peran. Peran sebagai guru dan peran sebagai peserta ddik.

”Bagi yang giliran mendapat peran sebagai guru dia akan mejelaskan materi kepada pasangannya yang berperan sebagai peserta didik. Begitu sebaliknya bergantian. Permainan berbagi peran ini menggunakan waktu yang telah disepakati bersama,” ungkapnya.

Setelah selesai bermain peran, secara individu peserta didik mengerjakan lembar kerja peserta didik (LKPD) yang sudah dipersiapkan guru. Kemudian guru bersama-sama peserta didik memeriksa hasil jawaban. Peserta didik yang mendapat jawaban terbaik mendapat reward berupa tanda emotion tanda jempol.

Proses pembelajaran ditutup dengan pemberian refleksi. Refleksi dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan –pertanyaan refleksi antara lain apa yang sudah dipelajari, materi apa yang sudah dipahami dan yang belum dipahami. Kemudian bagaimana perasaan ketika belajar daring dengan model bermain peran.

”Setelah diaplikasikan pada proses pembelajaran dengan model bermain peran ini, hasilnya cukup menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban peserta didik ketika menjawab pertanyaan di bagian refleksi. Mereka merasa cukup senang dan pembelajaran daring tidak membosankan walau hanya melalui aplikasi WA,” ujarnya.

Dia menyebutkan, model pembelajaran ini, didapatkan dari sistem belajar aktif dengan unsur MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) yang gaungkan Tanoto Foundation. (m31)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2