Digitalisasi Kata-kata Di T-Shirt Sebagai Industri Bahasa - Waspada
banner 325x300

Digitalisasi Kata-kata Di T-Shirt Sebagai Industri Bahasa

  • Bagikan
Tim Pengabdian Pada Masyarakat USU yang diketua Dr. Drs. Hariadi Susilo, M.Si bersama para anggota pengabdian dan siswa SMAN 1 Dolok Batunanggar Simalungun. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Metode digital sebagai wirausaha produksi Industri bahasa di T.Shirt dengan penulisan kata-kata, kata mutiara, ornamen dan simbol budaya masyarakat merupakan suatu layanan yang digemari sebagai industri yang sangat menguntungkan karena kebutuhan akan kaos sablon yang sangat tinggi.

Hal itu disampaikan Dr. Drs. Hariadi Susilo, M.Si Dosen Fakultas Ilmu Budaya USU dalam pelaksanaan Forum Group Discussion (FGD) kegiatan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPM)di SMAN 1 Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun beberapa waku lalu.

Menurut Dr. Drs. Hariadi Susilo. M.Si didampingi anggota pengabdian Prof. Dr.Ikhwanuddin Nasution, dan Dr. Dwi Widayati, M.Hum perkembangan globalisasi teknologi informasi media yang semakin maju saat ini memerlukan proses digitalisasi untuk mereproduksi sebuah produk industri bahasa.

Metode teknologi komputer, rhinotec cutting RC x 69 series RH-RC-GI-II,) Polyflex Sticker, Pieces Koze Premium Comfort, dan mesin hot press 38 x 38 M 006, memiliki posisi yang strategis dalam keberadaan remaja mengemban peran-peran industri bahasa untuk berwira usaha.

Mereproduksi sebuah produk industri pabrik kata-kata di T-Shirt, berupa bentuk dan model, baik yang konvensional maupun khas, seperti unit-unit bentuk tampilan khusus menghadirkan identitas satuan-satuan lingual atau tulisan kata-kata dari berbagai bahasa yang dikemas dalam bentuk tutur (form of speech) menjadi satu kesatuan yang utuh dalam penataan yang terpadu dari satuan-satuan lingual, yakni bentuk tampilan yang dapat menimbulkan berbagai persepsi, asosiasi polisemi atau interpretasi yang berefek dalam pemakaian. Seperti kata-kata No Dhong memiliki keambiguan, No dari bahasa Inggris, Dong dari bahasa Betawi Jakarta. Jadi No + Dhong = menodong atau dibaca no dong = tidak dong. Bentuk tampilan seperti kemasan yang diminati sebagai souvenir identitas tampilan hiburan bagi remaja.

Lebih lanjut Hariadi Susilo mengatakan bagi remaja, t-shirt sebagai logo identitas tulisan kata-kata aksi asing yang merupakan gaya hidup remaja dikemas secara bebas dan beraturan. Karena yang asing itu dianggap hebat sehingga lahirlah teks lisan dan teks tulisan yang segala sesuatu dengan kreasi penulisan aksi asing, unik dan aneh. “Misalnya prokem teks tulisan pada kata-kata selera identitas bahasa asing, tetapi bentuk teks dan konteks bahasa Indonesia, contoh ”pra one two land ” dibaca untuk ”perawantulen”,” ujarnya.

Komoditas kata-kata di T -Shirt sebagai industri bahasa merupakan gaya hidup remaja dapat dilihat dari pemakaiannya, hampir semua remaja menggunakannya untuk hiburan, mejeng dan ngeceng di Plaza-plaza, olah raga, pesta, acara serimonial, bahkan pergi kuliah, digunakan kaos, dan pernik-pernik lainnya, sehingga menjadi sandangan popular dan ngetren menguraikan bentuk polisemi kelucuan, kejenakaan olahan kata di T-Shirt.

Kepala SMAN 1 Serbelawan Karnali Saragih, M.Pd yang hadir dalam kegiatan FGD itu mendukung kegiatan ini, karena dengan dengan kemampuan para remaja mendesain kata-kata di T-Shirt bisa memproduksi dan sebuah motivasi bidang pemasaran, tim pengabdian dan mitra akan mengatur sasaran penjualan produk secara online atau melalui media sosial lainnya. (h02)

 

  • Bagikan