Waspada
Waspada » Dianjurkan, Dana BOS Untuk Perbanyak Koleksi Perpustakaan Sekolah    
Pendidikan

Dianjurkan, Dana BOS Untuk Perbanyak Koleksi Perpustakaan Sekolah    

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno

JAKARTA (Waspada): Rendahnya kunjungan penduduk usia 5 tahun ke atas terekam dalam survei sosial ekonomi nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik 2019. Tercatat, hanya 13,02 persen penduduk usia lima tahun ke atas yang datang ke perpustakaan. Survey itu memotret juga rendahnya kunjungan siswa ke perpustakaan sekolah.

Alih-alih jadi gudang ilmu, banyak perpustakaan sekolah yang justeru jadi ‘gudang’ buku. Tumpukan buku yang didominasi buku teks, hanya dibaca siswa saat mendapat tugas dari guru. Banyak sekali sekolah yang tidak punya koleksi buku bacaan lain yang memperkaya wawasan dan imajinasi siswa.

“Banyak juga sekolah yang perpustakaannya sudah bagus. Tapi yang jarang sekali didatangi jauh lebih banyak. Akibatnya banyak perpustakaan sekolah yang seperti gudang buku,” ujar Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno pada kegiatan Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 yang digelar secara virtual, pada Senin, (22/3)

Rendahnya kunjungan perpustakaan disebabkan beberapa faktor. Selain karena minimnya koleksi buku, jam istirahat juga sangat singkat. Akibatnya, siswa tidak sempat bertandang ke perpustakaan apalagi berlama-lama.

Berkaca pada hasil PISA, siswa yang menghabiskan lebih banyak dalam seminggu untuk membaca sebagai hiburan di waktu luang, memiliki skor lebih tinggi dibanding dengan yang tidak atau kurang senang membaca. PISA atau Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun.

“Di lingkup negara ASEAN, skor PISA Indonesia hanya lebih baik dari Filipina. Bahkan, provinsi DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta jauh lebih baik dari skala nasional. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan mutu,” ujar Totok.

PISA juga mengungkapkan tren dan permasalahan hasil belajar pendidikan dasar dan menengah selama 10 tahun terakhir yang cenderung stagnan.

“Indonesia masih konsisten sebagai salah satu negara dengan peringkat PISA terendah,”imbuhnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah mendorong reformasi pendidikan dan menelurkan kebijakan baru, salah satunya adalah fleksibilitas penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk menambal koleksi perpustakaan sekolah.

Jika sebelumnya kebijakan pembelian buku teks dan buku bacaan dialokasikan maksimum 20 persen, kini tidak lagi. Artinya, selain membeli buku teks, sekolah dianjurkan membeli buku bacaan untuk mendukung kegiatan literasi para guru dan siswa.

“Sesuai Permendikbud Nomor 8 Tahun 2000 dan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2001 tentang petunjuk teknis BOS, pada 2020 dan 2021 alokasi untuk pembelian buku teks dan bacaan lainnya dihilangkan. Tidak ada lagi ketentuan alokasi maksimum. Namun, tujuannya tetap sama, selain memenuhi kebutuhan buku teks guru dan siswa, juga dianjurkan membeli buku bacaan untuk mendukung kegiatan literasi,” tandas Totok.

Totok juga memberi masukan agar para pustakawan terlibat dalam proses pembelajaran yang terintegrasi dengan perpustakaan. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2