Waspada
Waspada » Belum Semua Guru Paham Fungsi Penilaian
Pendidikan

Belum Semua Guru Paham Fungsi Penilaian

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno

JAKARTA (Waspada): Pemahaman guru terhadap fungsi penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik masih kurang memadai. Pasalnya, tidak semua guru mendapatkan pelatihan tentang penilaian.

Di samping itu, pelatihan tentang penilaian tidak secara mendalam menjabarkan fungsi peniliaian khususnya fungsi assesment as learning. Dalam panduannya juga tidak dijabarkan tentang fungsi penilaitan itu sebagai assesment as learning.

Selanjutnya, kata Ikhya, penerapan fungsi penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru masih disibukan dengan assessment of learning. Hal ini disebabkan karena guru tidak mengetahui dalam menerapkan jenis-jenis penilaian sesuai dengan fungsinya dan pihak eksternal juga menuntut memasukan semua penilaian sebagai fungsi assessment of learning.

“Mayoritas guru melakukan penilaian dalam proses pembelajaran pada masa belajar dari rumah, namun tidak semua guru melakukan tindak lanjut,” kata penelliti Ikhya Ulumudin dalam penelitiannya yang berjudul Evaluasi Pelaksanaan Penilaian Kurikulum 2013 (K13) pada jenjang SD yang disajikan pada kegiatan Seminar Hasil Penelitian Tahap II yang digelar Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbang dan Perbukuan), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (7/12).

Sementara itu, peneliti Puslitjak, Fransisca Nur’aini Krisna mengaitkan antara indeks kedisiplinan, rasa senang membaca dan strategi metkognisi membaca yang memiliki pengaruh positif terhadap capaian Programme for Internasional Student Assesment (PISA) 2018.

Fransisca menambahkan ketiga indeks tersebut berpengaruh terhadap skor matematika siswa Indonesia pada PISA 2018.

Fransisca juga merekomendasikan guru untuk mempunyai passion sebagai seorang guru, sehingga merasa senang, nyaman, dan antusias dalam mengajar.

“Guru juga perlu melakukan upaya peningkatan kapasitas diri mulai dari mencari berbagai sumber informasi terkait umpan balik, metakognisi melalui buku, video pembelajaran, pengantar pembelajaran, pelatihan loka karya dan kegiatan lain,” tutur Fransisca.

Kepala sekolah juga perlu mengupayakan berbagai hal yang dapat memfasilitasi peningkatan kompetensi guru dan peningkatan literasi siswa. Sebagai manajer sekolah, kepala sekolah perlu mengupayakan berbagai hal yang dapat memfasilitasi peningkatan kompetensi guru dan peningkatan literasi siswa.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga dapat membuat program atau kebijakan yang mendukung peningkatan kompetensi guru dalam praktik mengajar,” ungkap Fransisca.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Balitbang dan Perbukuan, Totok Suprayitno mengapresiasi para peneliti yang tetap bersemangat melakukan penelitian meskipun di tengah situasi pandemi Covid-19.

“Kami menyampaikan apresiasi terhadap apa yang teman-teman lakukan dan terbukti hasil penelitian yang teman-teman lakukan sangat dibutuhkan untuk perbaikan kualitas pendidikan kita,” kata Totok saat membuka acara

Totok menyebut, sejumlah hasil kerja keras yang telah dilakukan para peneliti di tengah pandemi, mulai dari modul pembelajaran dan kurikulum darurat. Hasil-hasil penelitian tersebut memiliki manfaat bagi pengembangan kualitas pembelajaran di Indonesia.

Seminar hasil penelitian kali ini mengangkat delapan kelompok tema. Tiga kelompok tema yang dipaparkan para peneliti pada hari pertama yaitu Penjaminan Mutu Pendidikan, Tata Kelola Pendidikan, dan Peningkatan Kualitas Guru. Selanjutnya pada hari kedua, akan dipaparkan dengan tema Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai Budaya, Ketahanaan Budaya, Penguatan Kapasitas Sumber Daya Pendidikan di Masa Pandemi, Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, dan Adaptasi Perguruan Tinggi di Masa Pandemi Covid-19.(J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2