Balai Bahasa Jawa Timur Siapkan Kamus Bahasa Daerah

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Kelompok Kepakaran Perkamusan dan Peristilahan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur tengah menyiapkan dua program besar yang telah dijalankan sejak tahun 2019. Program pertama adalah kegiatan Penyusunan Kamus Bahasa Daerah, yaitu Kamus Istilah Kesenian di Jawa Timur yang rencananya akan disajikan dalam bentuk aplikasi daring.

Kedua adalah kegiatan Inventarisasi dan Pengolahan Kosakata yang merangkum berbagai macam kosakata bahasa Jawa dan Madura di berbagai bidang kehidupan, yaitu kesenian, kuliner, perikanan, kelautan, aktivitas harian lainnya. Kosakata yang dihimpun ini nantinya akan melalui proses verifikasi dan validasi sebelum diusulkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Tujuan kegiatan penyusunan Kamus istilah kesenian di Jawa Timur adalah untuk menghimpun kosakata istilah kesenian dalam bahasa Jawa dan Madura sebagai bahan penyusunan kamus istilah kesenian yang ada di Jawa Timur. Sedangkan tujuan kegiatan inventarisasi dan pengolahan data kosakata adalah untuk menghimpun kosakata dalam bahasa Jawa dan Madura yang memiliki kemungkinan untuk dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,”ujar Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Asrif, M.Hum, Jumat (29/10).

Sejumlah langkah kerja Langkah dilakukan. Salah satunya pengumpulan data dilakukan sepanjang pertengahan tahun ini. Lokasinya di Sumenep dan Probolinggo.

Setelah itu, dilakukan pengolahan data.  Tahapan ini dilaksanakan kegiatan lokakarya untuk melihat kelayakan kamus yang telah disusun.

Sementara itu dalam kegiatan Inventarisasi dan Pengolahan Data Kosakata harus melalui tahap yang disebut dengan Sidang Komisi Bahasa Daerah (SKBD). Sidang Komisi Bahasa Daerah ini dilakukan sebagai tahap validasi kelayakan kosakata yang akan diusulkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Tahap akhir penyusunan kamus ini meliputi penyusunan naskah, penyuntingan, cetak draf, pemeriksaan hasil cetak, penyuntingan akhir, penerbitan, dan penyebaran kamus pada pengguna.

Dikatakan Asrif, walaupun hanya memiliki dua bahasa besar, yaitu Jawa dan Madura, Jawa Timur merupakan sebuah provinsi yang memiliki kekayaan ragam kesenian dan kebudayaan. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi tim penyusun kamus untuk melakukan kodifikasi dan inventarisasi berbagai kesenian di Jawa Timur.

“Upaya penyusunan kamus kesenian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam mengenal dan memahami kesenian di Jawa Timur. Dengan disusunnya Kamus Istilah Kesenian di Jawa Timur dalam bentuk digital diharapkan jangkauan pengguna kamus akan lebih luas,” tandasnya.

Di Jawa Timur terdapat dua bahasa besar yaitu bahasa Jawa dan bahasa Madura. Dengan sedikitnya bahasa daerah di Jawa Timur ini menjadikan tantangan tersendiri bagi Jawa Timur untuk bisa menyumbangkan berbagai kosakata khas yang dimilikinya. Untuk itu dilakukan berbagai upaya untuk dapat menggali istilah-istilah khas tersebut untuk diusulkan dalam KBBI. Upaya yang dilakukan tersebut di antaranya adalah penggalian istilah dari berbagai bidang mulai dari kesenian, kebudayaan, dan kuliner khas di Jawa Timur dan penggalian istilah dari berbagai segi kehidupan masyarakat, mulai dari kehidupan masyarakat pertanian maupun masyarakat perikanan/nelayan.

Tantangan lain yang dihadapi saat pengambilan data adalah saat tim harus masuk ke desa-desa terpencil untuk bertemu masyarakat penutur yang masih asli, atau tokoh adat, misalnya saat naik ke Bromo menuju Desa Ngadisari untuk menemui dukun Suku Tengger. Kemudian, tim juga pernah berhadapan dengan banjir saat melakukan inventarisasi istilah kelautan dan perikanan di Lamongan dan Pasuruan.

“Keadaan ini menjadi tantangan tersendiri karena memaksa tim untuk melakukan perubahan rencana dalam proses pengambilan data,” imbuh Asrif.

Pemilihan narasumber juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam pengambilan data. Kadang ditemui narasumber yang kurang bisa memahami maksud dan tujuan kegiatan yang dilakukan. Untuk itu, diperlukan strategi dan pendekatan tersendiri untuk mendapatkan data yang diinginkan.

” Hal ini juga memberikan pelajaran bagi tim untuk lebih cermat melakukan survei tentang keahlian dan latar belakang narasumber sebelum dipilih,” tambahnya.

Kegiatan “Penyusunan Kamus Istilah Kesenian di Jawa Timur” ini direncanakan akan selesai dalam waktu tiga tahun (2020—2022). Hingga saat ini, program telah berjalan selama 2 tahun dengan empat tempat pengambilan data, yaitu Mojokerto, Kota Batu, Sumenep, dan Probolinggo. Hingga saat ini, telah terkumpul 1500 entri istilah kesenian yang berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Madura.(J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.