Akhiri Polemik Merdeka Belajar, Mendikbud Nadiem: Mari Fokus Ciptakan Generasi Berkarakter - Waspada
banner 325x300

Akhiri Polemik Merdeka Belajar, Mendikbud Nadiem: Mari Fokus Ciptakan Generasi Berkarakter

  • Bagikan
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim dan Pimpinan Sekolah Cikal Najelaa Shihab, Jumat (14/8) dalam temu media daring.

JAKARTA (Waspada): Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim tampil bersama dengan pemilik sekolah Cikal, Najelaa Shihab dalam temu media daring, Jumat (14/8).

Keduanya sama-sama menjelaskan tentang keberadaan istilah Merdeka Belajar dalam berbagai program besar Kemendikbud, dimana belakangan diketahui istilah tersebut sudah didaftarkan Sekolah Cikal yang dipimpin Najelaa untuk merek dagang dan jasa. Kenyataan itu sempat menjadi polemik dan tak pelak membuat Ketua DPR RI Komisi X, Syaiful Huda menyatakan keinginan untuk berdialog dengan  Nadiem Makarim dan pemilik hak dagang Merdeka Belajar, Najeela Shihab.

Dikatakan Nadiem, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan bahwa nama “Merdeka Belajar” dapat digunakan bersama selama untuk kepentingan dunia pendidikan dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan kesiapan Sekolah Cikal menghibahkan hak atas merek dagang dan merek jasa ‘Merdeka Belajar’ kepada Kemendikbud.

(Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim yang mengusung Merdeka Belajar sebagai payung besar misi kebijakan pendidikan, bahkan menyampaikan apresiasinya kepada Sekolah Cikal.

“Pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama, sehingga kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Cikal yang selama bertahun-tahun telah menggerakkan merdeka belajar dengan semangat gotong royong ke komunitas guru belajar di Indonesia dan semangat kekeluargaan terkait penggunaan nama Merdeka Belajar ini,”imbuh Mendikbud Nadiem.

Kemendikbud sendiri telah meluncurkan lima Episode Merdeka Belajar. Pada Episode 1 Merdeka Belajar mengubah Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional, menyederhanakan
rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi.

Merdeka Belajar Episode 2: Kampus Merdeka, memberikan kemudahan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Merdeka Belajar 3: perubahan mekanisme Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2020, Merdeka Belajar 4: Program Organisasi Penggerak, dan Episode 5 yaitu Guru Penggerak.

Sementara Sekolah Cikal menggunakan Merdeka Belajar sejak 2014 melalui Kampus Guru Cikal sebagai ekosistem untuk menggerakkan perubahan pendidikan dan telah dipraktikkan dalam kurikulum, pelatihan, dan publikasi Yayasan Guru Belajar. Pada 1
Maret 2018, Sekolah Cikal mendaftarkan hak atas merek dan bukan hak paten atas Merdeka Belajar ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia, sebagai upaya mencatatkan dan melindungi keberlangsungan upaya pengembangan pendidikan selama ini, yang kemudian disetujui pada 2020.

“Selanjutnya, mari kita bersama-sama kembali fokus melanjutkan misi Merdeka Belajar sesuai filosofi Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara untuk menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat, berasas gotong royong dengan menghadirkan iklim inovasi sehingga mampu menghasilkan SDM unggul dan berkarakter,”ujar Nadiem.

Dalam kesempatan bertemu media sore itu, Najeela Shihab secara gamblang minta agar polemik Merdeka Belajar ini diakhiri. Untuk selanjutnya, baik Sekolah Cikal maupun pihak lain tetap bisa menggunakan Merdeka Belajar tanpa kompensasi apapun untuk kepentingan pengembangan
pendidikan sepanjang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami, mempunyai visi yang sama dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas dan setara, keputusan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar ini kami harap akan mengakhiri polemik dan sorotan yang sempat mengemuka,” kata
pendiri Sekolah Cikal, Najelaa Shihab.(J02)

  • Bagikan