Dosen Penggerak Dukung Kampus Merdeka - Waspada

Dosen Penggerak Dukung Kampus Merdeka

  • Bagikan
Dirjen Dikti Kemendikbud, Prof Nizam

JAKARTA (Waspada): Mendukung kesuksesan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar asosialisasi dosen penggerak. Program ini mendukung terjadinya kolaborasi antara dosen dan mahasiswa di dalam menjalankan jenis-jenis kegiatan yang terkait dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

“Para dosen yang hadir, nantinya diharapkan dapat mendampingi para mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya di luar kampus. Kegiatan ini akan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu sesi regional barat, sesi regional timur, dan sesi regional tengah,” ujar Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kemendikbud, Sofwan Effendi, dalam acara Sosialisasi Dosen Penggerak Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, pada Senin (9/11).

Dalam program ini, setiap regional akan dihadiri oleh kurang lebih 300 dosen penggerak. Dengan itu diharapkan dapat memanfaatkan informasi yang akan diberikan oleh para narasumber yang dihadirkan untuk pembelajaran Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam konteks kebijakan Kampus Merdeka.

Dirjen Dikti, Nizam dalam sambutannya mengatakan, dunia  saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis, termasuk di kalangan industri. Di sisi lain, kecepatan itu seringkali tidak dapat dikejar oleh perkembangan pendidikan tinggi.

“Kita sering mendengar keluhan dari dunia industri, bahwa lulusan perguruan tinggi selalu tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan dan selalu tertinggal dengan kemajuan yang ada di dunia kerja. Hal tersebut yang mendorong kita untuk mempersiapkan diri dan melakukan disrupsi diri agar dapat melakukan adaptasi dan transformasi yang cepat pada pendidikan tinggi, agar sesuai dengan kebutuhan society 5.0,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nizam.

Society 5.0 merupakan masyarakat yang hidup berdampingan dengan teknologi, perubahan yang cepat, dan masyarakat yang penuh kreativitas. Bidang perekonomian kedepannya akan semakin ditentukan oleh kreativitas dan inovasi dari sumber daya manusia.

Bahkan, Mckinsey memperkirakan dalam 10 tahun ke depan, 23 juta lapangan pekerjaan di Indonesia akan hilang tergantikan oleh Artificial Intelegence, Internet of Things, mesin yang dapat berpikir, dan kemampuan analisis yang semakin dahsyat. Sementara itu, kita masih mendidik para mahasiswa dengan pembelajaran era industri 2.0 atau 3.0.

Nizam mengakui, proses pembelajaran di perguruan tinggi belum banyak perubahan. Pasalnya, dosen masih menjadi satu-satunya sumber ilmu. Sedangkan sumber ilmu sudah terbuka dari manapun. Hal tesebut yang mendorong terjadinya disrupsi, karena tiap mahasiswa mempunyai garis tangan dan cita-cita yang berbeda antara satu dengan yang lain.

“Maka dari itu, hal yang dapat dilakukan adalah merubah pendekatan untuk mendapat kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para mahasiswa, karena tidak sedikit dari mahasiswa yang masih bingung saat lulus nanti akan melamar pekerjaan dimana dan sebagai apa,” ucapnya.

Berdasarkan hal tersebut, Nizam menambahkan bahwa kebijakan Kampus Merdeka hadir untuk membuka ruang-ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dan potensi sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Nizam juga menekankan peran dosen akan bergeser menjadi pendamping bagi mahasiswa untuk menjelajah kompetensi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut sangat dibutuhkan agar Indonesia dapat melahirkan sumber daya yang unggul, kreatif, inovatif, dan mempunyai kompetensi yang sesuai dengan dunia kerja.

Dia menjelaskan dua tujuan utama dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, yaitu bagaimana mengakselerasi inovasi di level pendidikan tinggi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan bagaimana menyiapkan mahasiswa yang akan masuk dunia kerja agar sesuai dengan keahlian dimilikinya.

  1. “Sebagaimana yang kita ketahui, memfasilitasi pembelajaran dan dosen penggerak di dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sudah ditetapkan di Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020,” jelasnya.(J02)

 

  • Bagikan