Waspada
Waspada » 75 Pelajar Dan 40 Tendik Raih Anugerah Kihajar, Mendikbud Nadiem: Teknologi Menjawab Tantangan Pendidikan
Pendidikan

75 Pelajar Dan 40 Tendik Raih Anugerah Kihajar, Mendikbud Nadiem: Teknologi Menjawab Tantangan Pendidikan

JAKARTA (Waspada):Sebanyak 75 pelajar dan 40 tenaga pendidik dari 34 provinsi berhasil meraih anugerah Kita Harus Belajar (Kihajar) 2020.

“Selamat kepada para pemenang dari seluruh kategori serta yang akan menjadi Duta Rumah Belajar di 34 provinsi. Saya berharap Bapak dan Ibu menjadi role model bagi pendidik lain untuk dapat menghadirkan inovasi dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pada Malam Anugerah Kihajar 2020 secara virtual di Jakarta, pada Jumat (4/12/2020) malam.

Sejak tahun 2006, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) secara rutin memberikan penghargaan kepada siswa, guru, pemerintah melalui Anugerah Kihajar.

Mendikbud mengatakan, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan merupakan keniscayaan untuk menjawab berbagai tantangan sektor pendidikan yang memiliki skala dan keberagaman yang luar biasa.

“Teknologi menjadi alat bantu untuk memperluas akses serta membantu mempermudah berbagai proses administrasi yang selama ini membelenggu upaya-upaya inovasi,” ujarnya.

Di samping itu, teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk memberi dukungan peningkatan kualitas pembelajaran dan membantu guru-guru menjadi pendidik yang lebih baik untuk para peserta didik.

”Saya melihat antusiasme dari berbagai pihak dalam mengimplementasikan teknologi informasi untuk pembelajaran. Ini mencerminkan semangat Merdeka Belajar yang sejati,” tutur Mendikbud.

Kepada para peserta didik, Mendikbud berpesan agar jangan mudah puas dengan prestasi yang telah diraih saat ini. Di tangan kalian tongkat estafet kepemimpinan bangsa akan diserahkan. Jangan mudah puas dengan prestasi yang ada. Terus kembangkan potensi diri dan asah kemampuan berpikir kritis, kreatif, mandiri, bergotong royong dan berkolaborasi.

“Selalu ingat banyak tanya, banyak coba, banyak karya,” ucap Mendikbud.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Kemendikbud Ainun Na’im juga turut mengapresiasi para peserta didik dan para tenaga pendidik dengan semangatnya yang tinggi telah mengikuti Kihajar 2020.

“Kami di Kemendikbud percaya bahwa antusiasme ini tidak hanya di acara Kihajar saja, tapi juga di dalam keseharian melaksanakan belajar mengajar. Bapak dan Ibu guru mendidik anak-anak kita sangat antusias termasuk dalam pengembangan diri menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan kualitas layanan guru,” ujar Ainun Na’im.

Pada kesempatan ini, Kihajar 2020 juga menganugerahkan penghargaan kepada Almarhum Hendriyawan Widiyatmoko. Hendriyawan adalah salah satu putra terbaik Pusdatin, Kemendikbud yang berkontribusi besar dalam pengembangan portal Rumah Belajar yang saat ini dimanfaatkan oleh seluruh pelajar di Indonesia, khususnya di tengah pandemi Covid-19.

“Terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada suami saya. Mas Hendri merupakan sosok yang memang bisa kita contoh karena dari Mas Hendri kita bisa belajar bagaimana cara untuk menekuni sesuatu harus dari dasarnya, harus dari bagian terkecil lebih dahulu. Insya allah kesukesan akan menyertai. Mas Hendri memang sudah tidak ada di pelupuk mata kami, namun rasa cintanya, rasa sayangnya dan semangatnya akan terus ada di hati kami,” ujar istri Almarhum Hendri, Edina Ayuningtyas.

Berbagai rangkaian kegiatan Kihajar 2020 telah usai digelar Pusdatin Kemendikbud sebagai upaya meningkatkan literasi dan juga kompetensi para siswa guru dan masyarakat Indonesia, terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Dalam rangka mencegah penyebaran pandemi Covid-19, semua rangkaian kegiatan dilakukan secara dalam jaringan (daring).

“Pandemi Covid-19 telah menunjukkan juga terjadinya peningkatan pemanfaatan teknologi secara luar biasa. Saya melihat momentum ini dapat kita gunakan untuk melakukan lompatan kemajuan pendidikan nasional,” ungkap Mendikbud.

Rangkaian kegiatan Kihajar 2020 hadir dengan format tiga varian baru yaitu Kihajar STEM, Kihajar Explorer dan Kihajar TIK Talks yang diluncurkan oleh pelaksana tugas (plt.) Kepala Pusdatin Kemendikbud, M. Hasan Chabibie pada acara Hari Anak Nasional, 23 Juli lalu.

Kihajar STEM merupakan wadah eksplorasi siswa dari seluruh jenjang melalui pendayagunaan TIK berbasis sains, teknologi, teknik dan matematika. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan keterampilan pengetahuan dan kompetensi abad 21 bagi para peserta yang disebut dengan Generasi Kihajar (Gen Kihajar). Generasi yang sejak lahir sudah dikelilingi beragam teknologi dan terbiasa berinteraksi dengan gawai dan internet.

Kihajar STEM memiliki empat fase yaitu basic, intermediate, advanced, dan final. Sebanyak 64.555 peserta Kihajar STEM adalah siswa dari berbagai jenjang pendidikan SD atau MI, SMP atau MTS, SMA atau MA, dan SMK atau MAK. Selain itu turut berpartisipasi juga pelajar dari Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).

Setelah melalui Kihajar STEM intermediate kemudian lanjut pada tahap Kihajar STEM advanced. Pada akhirnya sebanyak 301 peserta yang lolos pada tahap Kihajar advanced mengikuti tahapan selanjutnya pada Kihajar STEM final. Para Gen Kihajar yang berpartisipasi dalam Kihajar STEM ini akan berkompetisi untuk menjadi 10 Gen Kihajar terbaik dari setiap jenjang. Selain itu, akan dipilih juga lima video yang terbaik dari setiap jenjang.

Varian kedua adalah Kihajar Explorer. Kihajar Explorer merupakan wadah eksplorasi siswa dari berbagai jenjang dengan memanfaatkan konten Rumah Belajar, TV Edukasi dan Suara Edukasi. Kihajar Explorer dimulai sejak 24 Juli 2020 dan hadir setiap hari melalui akun Instagram @tvedukasi_kemendikbud dengan pertanyaan baru setiap harinya pada pukul 11.00 WIB.

Varian selanjutnya adalah Kihajar TIK Talks. Varian ini merupakan wujud apresiasi terhadap daerah dengan peserta Kihajar Stem terbanyak. Kegiatan ini berupa seminar daring yang mengangkat isu permasalahan pendidikan daerah dengan menghadirkan narasumber yang berasal dari praktisi pendidikan, ahli pembelajaran, dan dinas pendidikan daerah.

Kihajar TIK Talks dilaksanakan sebanyak 10 kali yang dimulai pada 17 Agustus sampai 25 November 2020 dengan melibatkan 10 provinsi yang terdiri dari Provinsi Sumatera Utara, D.I. Yogyakarta, Bali, Aceh, DKI. Jakarta, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Papua, dan Maluku.

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah kegiatan MemBaTIK (Membuat Bahan Ajar Berbasis TIK). MemBaTIK merupakan lomba membuat media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi bagi guru, siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum. Tahun ini pada lomba MemBaTIK terdapat beberapa jenis kategori media antara lain multimedia interaktif, video pembelajaran, game edukasi, augmented reality (AR) dan motion graphic.

Seleksi konten atau bahan ajar dilakukan secara daring dalam bentuk sosialisasi dengan tajuk Orkes (Obrolan Sukses Membatik) 2020 yang dilaksanakan mulai tanggal 20 Mei sampai 30 November 2020 melalui website MemBaTIK yaitu membatik.kemdikbud.go.id. Terkumpul sebanyak 392 karya untuk semua jenis kategori media setelah melalui seleksi berjenjang oleh tim juri Pusdatin Kemendikbud dan tim juri ahli. Pada akhirnya terpilih 15 karya terbaik dari setiap kategori media yang dilombakan.

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah PemBaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK). Kegiatan ini merupakan program peningkatan kompetensi TIK untuk pembelajaran bagi guru dan tenaga pendidik di Indonesia. Kegiatan PemBaTIK telah dilaksanakan sejak bulan Maret 2020 dan dilakukan secara berjenjang dengan seleksi dari level satu yaitu literasi. Pada level ini para guru dibuka wawasannya terkait dasar-dasar teknologi pembelajaran.

Level dua yaitu implementasi. Pada level ini para guru didorong untuk membangun strategi pengaplikasian teknologi dalam pembelajaran. Level tiga adalah kreasi. Pada level ini para guru diberikan kepercayaan diri untuk dapat menciptakan sendiri konten-konten pembelajaran hingga level empat berbagi. Para guru peserta PemBaTIK akan dibekali motivasi agar ilmu yang telah didapat selama ini tidak hanya berhenti di bapak atau ibu guru tetapi dapat disebarluaskan ke rekan sejawat guru lainnya.

Sebanyak 60.312 guru terlibat sebagai peserta awal program PemBaTIK tahun 2020 hingga akhirnya terseleksi menjadi 1020 guru dari 34 provinsi untuk mengikuti level berbagi. Guru-guru peserta level berbagi merupakan calon Duta Rumah Belajar nasional, guru-guru terlatih yang menjadi penggerak pemanfaatan TIK untuk pembelajaran dengan platform rumah belajar.

Melalui program PemBaTIK diharapkan dapat menumbuhkan motivasi, kreativitas, dan inovasi guru dalam pembelajaran berbasis TIK serta memperluas jaringan kerja sama dalam pemanfaatan TIK pada komunitas pengguna portal Rumah Belajar.

“Saya senang sekali dapat hadir disini menyapa Bapak dan Ibu guru peserta program MemBaTIK dan program PemBaTIK. Peningkatan kompetensi TIK yang luar biasa ini juga bagi siswa-siswa peserta generasi Kihajar yang hebat,” ucap Mendikbud.

“Menjadi pemenang Kihajar 2020 merupakan satu hal yang aku banggakan, aku syukuri karena bisa menjadi salah satu dari 17 ribu siswa Indonesia yang ikut dalam lomba ini. Itu benar-benar buat aku senang banget pas tahu jadi pemenang itu rasa bangga dan juga ini menjadi ajang pembuktian bahwa pandemi bukan menjadi penghalang untuk untuk tetap berprestasi,” ujar salah satu peserta Gen Kihajar 2020, Priscilla Auleader Napitupulu dari SMA Unggul Del Sumatera Utara. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2