Waspada
Waspada » 23 Januari Hari Menulis Tangan Internasional, Mari Menulis Supaya Makin Pintar
Pendidikan

23 Januari Hari Menulis Tangan Internasional, Mari Menulis Supaya Makin Pintar

 
Kapan terakhir kali kita menggunakan pulpen dan kertas untuk menulis sesuatu?  Sekedar catatan kecil atau mungkin curahan hati di sebuah buku catatan?

Atau jangan-jangan kita  sudah lama  tidak pernah menulis dengan tangan karena asyik berkutat dengan gawai?

Setiap tahun pada  23 Januari, Hari Tulisan Tangan Internasional dirayakan di seluruh dunia. Di bawah naungan Asosiasi Produsen Alat Tulis atau Writing Instrument Manufacturers Association (WIMA),
inisiatif ini  bekerja sejak 1977. Tujuannya untuk menyoroti pengaruh tulisan tangan pada kehidupan seseorang.

“Satu hal yang pasti, kemampuan digital memungkinkan kita menghasilkan teks, khususnya dalam sisi profesional di dunia pekerjaan, yang dengan kecepatannya semakin menggantikan tulisan tangan,”ujar Public Relations Manager PT Faber-Castell International Indonesia, Andri Kurniawan, Sabtu (23/1).

 

Namun, lanjut Andri, beberapa ahli menegaskan bahwa pengunaan pena dan keyboard dapat mengaktifkan pola kognitif yang justeru sangat jauh berbeda.

Andri mengutip pendapat Direktur Ilmiah Organisasi Riset Prancis CNRS yang juga merupakan profesor psikologi perkembangan di Universitas Jenewa, Edouar Gentaz. Menurut Gentaz, tulisan tangan menuntut gerakan kompleks yang secara bersamaan memicu impuls sensorik, motorik, dan kognitif.

Itu artinya, meskipun penggemar komputer memuji keunggulan semua hal terkait digital, tetapi ahli saraf memperingatkan bahwa mengabaikan tulisan tangan dapat memengaruhi keterampilan membaca dan belajar.

Seorang anak tidak bekerja dengan keyboard dengan cara yang selalu sama, alih-alih membentuk huruf, menggunakan memori visual sesuai dengan kemampuan motorik halusnya, mereka justru menekan tuas tombol-tombol, dan melakukan gerakan-gerakan yang selalu sama.

 

“Pengalaman dan sensasi yang bisa Kamu dapatkan dengan menulis secara manual, seperti mengunting, meremas, bahkan menyobeknya merupakan sesuatu hal yang tidak bisa didapatkan jika hanya menggunakan keyboard,”tambah Gentaz.

 

Mesti sama-sama menghasilkan tulisan, menulis di kertas dinilai lebih menantang, hal ini dikarenakan saat menulis dengan alat tulis dan kertas.

 

“Materi tulisan yang menggunakan tangan, lebih terstruktur dalam hal pemikiran dan isi dan dapat dibuktikan dipelajari pada saat yang sama, berbeda dengan materi yang diketik”, tutup Gentaz.

 

Sementara itu, menulis dan menggambar dengan tangan adalah kompetensi dasar untuk banyak hal, yang dapat membantu perkembangan seseorang dalam berpikir, dan tentunya keterampilan motorik halus yang dibutuhkan melalui gengaman tangan. 

Stephanie Ingrid Müller, Pendidik Seni dan Media dari Institut Mediastep di Nuremberg mengatakan hal itu.

Marieke Longchamp dan Jean-Luc Velay, dua ahli saraf di CNRS dan Universitas Aix-Marseille, menunjukkan dalam sebuah penelitian dengan anak usia tiga hingga lima tahun bahwa anak-anak yang menyalin surat dapat mengenali huruf lebih cepat daripada anak-anak yang secara khusus hanya  menggunakan keyboard saat mempelajari huruf.

Jurnalis Amerika Anne Trubek memaparkan manfaat menulis komputer dalam sebuah artikel berjudul “Otomatisasi Kognitif “, yang menurutnya memungkinkan untuk berpikir secepat mungkin, terbebas dari kendala menulis yang sering membuat kita kehilangan alur berpikir, tepat di tengah proses pengembangan sebuah artikel.

Namun, beberapa ahli saraf ahli skeptis. Mereka percaya bahwa menulis tulisan tangan akan memiliki konsekuensi terkait kemampuan membaca dan belajar. jelas mencerminkan proses kerja yang panjang, dan memerlukan kecermatan.

Beragam manfaat yang dapat dirasakan dengan menulis tangan seperti dikatakan para pakar dunia,  mendorong Faber-Castell terus mengkampanyekan menulis secara manual.

“Selamat hari menulis tangan Internasional, apakah hari ini kamu sudah menulis?”ujar Andri. (J02)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2