PDA, Kau Yang Mulai Kau Yang Mengakhiri

SIGLI (Waspada): “Kau Yang Mulai Kau Yang Mengakhir” itulah sebait syair lagu bertajuk Kegagalan Cinta. Lagu yang dipopulerkan H Rhoma Irama pada era tahun 80-an, ini dinilai tepat ditujukan untuk Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Daerah Aceh (PDA) Kabupaten Pidie.

PDA, Kau Yang Mulai Kau Yang Mengakhiri
Ketua koalisi Pidie Hebat, Rakyat Berdaulat, T Zoelbaharsyah (duduk pakai topi) didampingi sejumlah pimpinan Parpol koalisi memberikan ketrangan Pers terkait keluarnya PDA dari Parpol kualisi Pidie Hebat Rakyat Berdaulat di salah satu Coffee Shop di Kota Sigli. Minggu (10/11) Waspada/Muhammad Riza

DPW PDA Kabupaten Pidie sebagai Parpol pencetus terbentuknya Koalisi Pidie Hebat, Rakyat Berdaulat di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, kini malah meninggalkan sejumlah Parpol koalisinya tersebut. Yaitu P Golkar, P Demokrat, PAN dan PKB. Sebelumnya P Nasdem sudah duluan hengkang,  dari keanggotaan koalisi yang dipimpin T Zoelbaharsyah tersebut.

Disebut-sebut, hengkangnya PDA dari koalisi itu, setelah beberapa wakil rakyat perwakilan PDA mendapat posisi jabatan  dalam Alat Kelengkapan Dewan (AKD). Yaitu ketua Komisi III (Bidang Pembangunan) dan Ketua Komisi V (Bidang Keistimewaan Aceh).

Berubahnya sikap politik PDA di Parlemen Kabupaten Pidie, sangat menyayat hati dan perasaan kawan-kawan koalisi Parpol lainya. Sebut saja Partai Golkar, P Demokrad, PAN, dan PKB. Mereka tentu merasa  “terkhianati” atas sikap DPW PDA Pidie tersebut.  

“ Pertama Nasdem keluar. Kemarin tiba-tiba tanpa pemberintahuan PDA keluar. Jadi kronologisnya, yang pertama mengajak kita berkoalisi itu Tgk Maimun dari PDA. Jadi waktu itu sempat terjadi tolak tarik dengan Golkar. Mereka menganggap Golkar pengkhianat tidak mau berkoalisi. Tapi Golkar ketika itu harus menunggu jawaban di Golkar Aceh di Banda Aceh. Jadi ketika itu memang lama karena Golkar harus memberitahukan sampai ke DPD tingkat satu. Jadi lama sampai harus menunggu tiga bulan” Ketua Koalisi Pidie Hebat, Rakyat Berdaulat. T Zoelbaharsyah. Minggu (10/11)

Menurut dia, terbentuknya koalisi ini tidak bukan saja bertumpu pada AKD. Namun lebih pada upaya membantu daerah dalam pemerataan pembangunan , sehingga anggota dewan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ketika itu kata T Zoelbaharsyah, saat proses pembentukan koalisi tersebut yang berperan sebagai ketua panitia juga Tgk Maimun dari DPW PDA Pidie, dan dalam rapat-rapat selanjutnya juga dihadiri oleh PDA yaitu Tgk Maimun.

“ Singkat ceritanya dalam beberapa pekan terakhir ini, PDA sudah tidak ada lagi dalam koalisi. Saya sempat menelphone Tgk Maimun untuk memastikan, beliau tidak angkat HP. Itu ada puluhan kali kami telphone, tetapi beliau tidak menjawab” katanya.

Sekarang informasinya dimedia dan dimasyarakat seolah-olah P. Golkar bersama koalisi Pidie Hebat, Rakyat Berdaulat , ingin memborong AKD. Padahal tujuan koalisi supaya DPRK Pidie lebih berwarna. Yang ingin kami, ada beberapa Parpol lebih berwarna di DPR. Baik dalam membantu pemerintah daerah dengan kritik-kritik yang membangun, tidak saja meng iya kan saja dan tidak terbatas pada AKD. Soal tidak dapat AKD, itu tidak ada masalah kan kita ada di dalam. Dan kami sekarang berharap  sisa epat Parpol yang tertinggal dalam koalisi tetap solid dan tidak pecah” katanya.

Menurut T. Zoelbaharsyah, dengan sisa empat Parpol dalam koalisi Pidie Hebat, Rakyat Berdaulat sekarang. Setidaknya masih tersisa 15 orang lagi di dalam DPRK Pidie. Keberadaan mereka di dalam anggota DPRK Pidie tersebut, bukan untuk menandingi atau berbicara yang bukan-bukan, namun lebih mencari hal yang positif dengan tetap melakukan kerja sama dengan para anggotab dewan yang diluar koalisi, demi memperjuangkan pembangunan dan  kesejahteraan rakyat Pidie. “ Jadi ada kontrol dalam mengambil kebijakan” katanya.

Ketua DPW PDA Kabupaten Pidie Tgk Maimun, yang dikonfirmasi waspada, melalui jaringan telphone enggan menyebut jika partai yang dipimpinnya itu keluar dari koalisi Pidie Hebat, Rakyat Berdaulat. Dia juga menolak jika PDA disebut sebagai Parpol pencetus yang mengajak Parpol lainnya untuk membangun koalisi. Namun terbentuknya koalisi tersebut berawal dari pembicaraan di Warung Kopi, lalu ditindaklanjuti bersama.

” Mungkin asumsi orang-orang. PDA keluar dari koalisi dari hasil rapat pleno AKD beberaa waktu lalu, dimana PDA mendapat jatah pimpinan dalam AKD” katanya.

Tgk Maimun, lebih lanjut menjelaskan  menyusul sebelumnya salah satu Parpol yang tergabung dalam koalisi duluan keluar, semua desain dan rencana-rencana dalam koalisi menjadi berubah, tidak lagi sesui rencana awal terbentuknya koalisi. PDA sebagai partai endang  baru di DPRK Pidie , secara politik katanya perlu mengamankan fraksi.” Ini terjadi karena desain awal saat terbentuknya koalisi sudah berubah. Dan tentu PDA bukanlah salah satu Parpol yang keluar dari koalisi, tetapi ada satu partai lainnya yang duluan keluar” tandas Tgk Maimun. (b10)