Waspada
Waspada » Wali Kota Medan & Bangunan Bersejarah
Headlines Opini

Wali Kota Medan & Bangunan Bersejarah

Oleh Budi Agustono

Wali Kota Medan hendaknya tidak berhenti membongkar bangunan baru di kawasan cagar budaya, lebih dari itu hendaknya tetap berada di barisan terdepan menyelamatkan bangunan bersejarah

Belum lama ini ada berita Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution membongkar bangunan ilegal di Jalan Ahmad Yani Kesawan yang dianggap menyalahi aturan pembangunan kawasan cagar budaya. Pembongkaran bangunan ilegal di kawasan cagar budaya Kesawan mendadak sontak menjadi penbicaraan dan pemberitaan yang cepat beredar sampai luring dan daring (media sosial).

Apa yang dilakukan Wali Kota Medan di luar kelaziman karena sangat langka seorang, terutama lagi di Medan yang terkenal dengan masyarakatnya tak memedulikan aturan hukum. Hal ini diperlihatkan pemilik bangunan di kawasan cagar budaya Kesawan yang sudah diperingatkan tetap saja membandel mendirikan bangunan di kawasan ini.

Menata kota memerlukan kebajikan dan kebijakan yang konsisten. Tanpa ditopang konsistensi kebijakan kota akan menjadi arena perebutan kepentingan. Perebutan kepentingan jika tidak dikelola dengan baik akan mengundang ketegangan sosial politik antar penghuni kota.

Penghuni kota dalam berbagai lapisan masyarakat harus mengikuti aturan main yang disepakati bersama untuk menopang keberlangsungan kota. Itu sebabnya jika ada penghuni kota yang ingin menguasai ruang publik harus dicegah dan diminimalisir demi masa depan kota.

Sebaliknya jika abai terhadap konsistensi kebijakan kota akan menjadi arena kontestasi dari bermacam lapisan masyarakat. Rebutan ruang kota terjadi dari kelas bawah sampai ke kelas atas, termasuk para pemilik modal. Salah satu perebutan ruang kota adalah berdirinya bangunan yang tidak terkendali sampai akhirnya dirubuhkan Wali Kota Medan.

Perubuhan atau pembongkaran bangunan ini dapat dieja sebagai pemihakan memertahankan Kesawan sebagai kawasan cagar budaya. Di lapisan bawah perebutan ruang kota tercermin dari makin menggejalanya pedagang kaki lima berjualan di bahu jalan di seluruh wilayah kota Medan. Jika tidak segera diselesaikan kota Medan akan tampak acak kadut dan jauh dari kota yang nyaman.

Pemerintah kota Medan telah menetapkan Kesawan sebagai kawasan cagar budaya. Penetapan Kesawan sebagai cagar budaya ini harus dijaga dan dikawal agar tidak ada pemilik bangunan atau siapapun yang seenaknya mengubah dan menambah bangunan bersejarah.

Bangunan bersejarah yang menjadi bagian kawasan cagar budaya harus dipertahankan keasliannya karena kawasan ini tidak saja untuk penguatan jati diri kota. Melainkan juga jika dikelola dengan baik akan menjadi wilayah destinasi wisata.

Selama ini terkesan bangunan bersejarah dan kawasan cagar budaya makin hari makin tidak menentu keberadaannya karena sewaktu-waktu dapat berubah struktur bangunannnya, berpindah tangan atau di (ter)gusur demi memenuhi libido keperluan bisnis. Kekuasaan kolonial Belanda di Sumatera Utara banyak meninggalkan bangunan bersejarah, terutama lagi di sekitar kota Medan.

Namun seturut dengan pembangunan kota yang memerlukan kantong-kantong pertumbuhan ekonomi yang bertebaran di berbagai penjuru lokasi. Satu demi satu bangunan bersejarah bertumbangan, berpindah tangan dan menghilang diganti dengan bangunan baru seperti perkantoran, pusat bisnis, pemukiman, hotel dan sebagainya.

Pesona

Semua bangunan kekinian yang dipancangkan di lokasi strategis seperti ditunjukkan bekas Gedung Kerapatan Kesultanan Deli, Gedung Sekolah MULO (SMPN 1 Medan), Gedung Lindeteves Stokvis (Mega Eltra). Juga Gedung Sipef dan bangunan Deli Spoorweg Maatschappij dan Vila Kembar di Jalan Diponegoro yang merupakan warisan bangunan bersejarah masa lalu telah dirubuhkan dan diganti dengan gedung modern.

Demikian juga dengan bekas Gedung Rumah Sakit Putri Hijau yang dulunya dikenal sebagai kantor Deli Maatschappij dan gedung Warenhuis yang berlokasi di Kesawan sampai saat ini terlantar seolah tak bertuan. Masih ada lagi gedung bersejarah yang dialihfungsikan dan disulap menjadi peruntukan lain yang menghilangkan nilai sejarahnya.

Terlantarnya atau disulapnya gedung bersejarah atau bagian dari kawasan cagar budaya sangat merisaukan dan mencemaskan pecinta sejarah dan pelaku pariwisata. Bangunan bersejarah jika dirawat dan dilindungi dengan mempertimbang nilai historiknya dapat dijual menjadi destinasi wisata kota.

Apalagi jika dipromosikan dengan media digital dengan konten memesona akan menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung ke bangunan bersejarah. Sehingga dapat menjadi kota destinasi wisata (gedung bersejarah).

Di kota besar dunia pelancong dan wisatawan dari bermacam negara mengunjungi destinasi wisata salah satunya lantaran daya jual bangunan bersejarahnya sebagai warisan masa lalu. Bangunan bersejarah bernilai tinggi yang dipromosikan dengan baik dengan tata kelola pariwisata modern, kebersihan dan keamanan kota bserta keramahtamahan masyarakat akan mempopulerkan kota sebagai sebagai detinasi wisata.

Selama ini di kota Medan sering terdengar kesiapan tata kelola pariwisata menderu keras di telinga publik. Tetapi realitanya perlakuan terhadap gedung bersejarah tidak pernah bergerak maju. Kawasan cagar budaya Kesawan belum dikelola maksimal untuk menopang Medan sebagai kota wisata.

Lapangan Merdeka yang meenyejarah sampai sekarang masih terus baku ribut dengan pecinta sejarah kota karena dinilai telah beralihfungsi menjadi lokasi kuliner modal besar. Sementara dari kalangan pecinta sejarah Lapangan Merdeka dianggap mengalami pemusnahan nilai historiknya akibat modal besar kuliner menguasai lapangan (ruang publik) mendegradasi nilai sejarahnya.

Padahal kenangan sejarah harus dibangkitkan dan direproduksi untuk peneguhan dan pengokohan identitas kota. Tanpa kenangan sejarah Medan akan mengalami penurunan identitas kotanya.

Melihat persoalan struktural bangunan bersejarah dan kawasan cagar budaya. Karena dengan upaya protektif terhadap bangunan bersejarah dan kawasan cagar budaya, warisan sejarah ini akan terselamatkan dari rongrongan dan intaian modal besar menganeksasi bangunan bersejarah untuk keperluan bisnis (ekonomi).

Wali Kota Medan hendaknya tidak berhenti membongkar bangunan baru di kawasan cagar budaya, lebih dari itu hendaknya tetap berada di barisan terdepan menyelamatkan bangunan bersejarah. Dengan kerja-kerja perlindungan, penyelamat dan pemeliharaan bangunan bersejarah yang tak ternilai harganya ini ditambah lagi jika ada kemampuan dan kemampuan politik menata kembali kawasan cagar budaya Kesawan menjadi destinasi wisata Medan akan menjadi kota yang memancarkan pesona kultural di masa mendatang.  WASPADA

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2