Waspada
Waspada » Waktunya Petani Go Digital di Tengah Pandemi Covid-19
Opini

Waktunya Petani Go Digital di Tengah Pandemi Covid-19

Petani go digital
Sudah waktunya bagi para petani untuk melek teknologi dan go digital di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini. Shutterstock

Sudah saatnya petani melek teknologi dan go digital di era revolusi industri 4.0, terutama di tengah pandemi virus corona (Covid-19)

Sebagian besar negara di dunia sudah melakukan lockdown atau mengisolasi diri di rumah. Setelah fase lockdown, masyarakat harus menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Namun apa yang terjadi dari kedua fase itu? Reaksi berantai. Seperti efek bola salju, lockdown memaksa masyarakat untuk menahan diri beraktivitas sosial.

Ini berarti hasrat untuk bersosialisasi, seperti berwisata dan menikmati dunia hiburan, harus diredam.

Semua demi menyelamatkan diri dari virus SARS CoV-2 penyebab penyakit Covid-19. Sektor yang paling terpukul adalah industri restoran dan pariwisata.

Karena industri restoran dan pariwisata, psikologi bisnisnya adalah sosialisasi besar atau pertemuan antar individu serta menikmati produk di tempat yang disediakan pelaku usaha.

Pusat perbelanjaan seperti mal juga merupakan salah satu industri yang melibatkan pertemuan banyak orang.

Nilai transaksi di sektor ini berjalan sangat cepat. Sehingga hanya sehari saja terganggu, bisa merusak nilai pendapatan pemilik gerai di mal. Apalagi sampai lockdown selama 14 hari.

Fase terparah

Lockdown adalah fase terparah. Saat lockdown, banyak pelaku bisnis yang mengurangi biaya produksinya serta melakukan pengurangan karyawan. Padahal di rantai ekonomi, karyawan tak lain ialah bagian dari konsumen.

Karena banyak karyawan yang dirumahkan, maka pendapatan mereka anjlok dan daya belinya merosot.

Daya beli konsumen yang lemah menyebabkan pendapatan industri turun drastis, bahkan rontok. Padahal industri adalah pemutar roda ekonomi tercepat.

Kemudian berlanjut di fase AKB atau yang dulu disebut new normal. Meski sudah dibolehkan kembali beraktivitas sosial, namun tetap tidak berskala besar dan wajib mematuhi protokol kesehatan.

Tapi, fase AKB pun tidak serta merta memulihkan perekonomian yang rusak. Meski AKB, toh pertumbuhan kasus Covid-19 masih tinggi.

Pada Jumat, 14 Agustus 2020 saja, masih tumbuh sebanyak 2.307 kasus baru. Dan setiap kasus Covid-19, selalu diikuti dengan kematian meski persentasenya kecil.

Artinya selama wabah ada, kematian mengintai siapapun. Akhirnya pemulihan ekonomi masih terhambat COVID-19, karena aktivitas masyarakat masih harus dibatasi.

Era disruptif

Tapi jangan pula menyerah oleh masalah wabah ini. Di era disruptif, di mana alur bisnis yang sudah lama terbentuk dapat dengan mudah dipangkas oleh metode daring (online), sebenarnya ada peluang untuk masalah tersebut.

Ambil contoh di sektor jasa transportasi angkutan ojek. Dahulu, tarif ojek terbentuk -salah satunya, adanya unsur setoran ke pengelola.

Kini dengan adanya aplikasi ojek online Gojek dan Grab, tarif tidak lagi mengandung unsur setoran ke pengelola.

Tarif terbentuk dari skema langsung antara pengemudi dan konsumen, sehingga jauh lebih murah ketimbang ojek biasa.

Begitu juga di sektor lainnya. Sistem online tersebut bisa diterapkan. Di bisnis kuliner misalnya, dapat digambarkan bahwa petani sebagai produsen. Industri kuliner sebagai konsumen pertama. Dan pembeli adalah konsumen kedua.

Karena konsumen pertama di era pandemi ini rontok, konsumen kedua atau konsumen akhir, harus lebih kreatif menciptakan menu makanan dan mengesampingkan hasrat berkumpul bersama di kafe.

Para petani, bisa mengambil bagian sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan cara memasarkan hasil bumi langsung ke konsumen akhit melalui e-commerce seperti Blibli.com, Shopee dan Tokopedia.

Dengan metode ini, mereka dapat mempertahankan serapan produksi tanpa harus menunggu produk diserap industri.

Dan masyarakat bisa mendapatkan  bahan pangan tanpa perlu pergi ke restoran, pasar atau supermarket.

Bagi petani, penjualan daring langsung ke konsumen juga memungkinkan mereka mengambil marjin lebih tinggi ketimbang menjual hasil bumi melalui tengkulak.

Petani belum melek teknologi

Di era revolusi industri 4.0, merupakan sebuah tuntutan kebutuhan bagi petani untuk go digital. Digitalisasi juga sejatinya menjadi bagian dari pemasaran hasil bumi oleh petani.

Digitalisasi merupakan terobosan yang menjanjikan kemudahan, efisiensi dan efektivitas bisnis hasil bumi.

Saat ini banyak orang, termasuk petani memiliki komoditas untuk dijual, tetapi mereka tidak tahu cara memasarkannya. Kemudian belum semua petani mengenal sistem pembayaran digital dalam transaksi jual beli.

Permasalahan lain yang dihadapi petani adalah kurangnya pemahaman mengenai pembukuan. Persoalan seperti ini dapat diatasi dengan penggunaan aplikasi toko online seperti Autopospay.

Dengan aplikasi yang dikembangkan Indogo.id ini petani memiliki peluang untuk memasarkan hasil bumi langsung ke konsumen tanpa harus meninggalkan rumah atau ladang.

Cukup menggunakan satu ponsel, mereka bisa menawarkan hasil bumi sekaligus menerima order.

Transaksi pembayarannya juga menggunakan uang digital sehingga praktis dan cepat. Semua transaksi otomatis tercatat sehingga petani terbantu dari sisi pembukuan serta dapat terhindar dari kerugian akibat kesalahan pencatatan.

Aplikasi toko online seperti Autopospay ini sejatinya dapat menjadi solusi digital bagi petani yang ingin beralih dari sistem pemasaran konvensional ke daring.

Dengan aplikasi ini, petani yang go digital juga berpeluang naik kelas serta dapat melewati masa pandemi dengan baik. Alhasil, efek ekonomi yang menyakitkan selama pandemi dapat diminimalisir.

 

Oleh: Vishnu Valentino

Penulis merupakan dosen jaringan komputer, dosen pengantar teknologi informasi, dosen pemrograman web nirkabel jurusan S1 Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Universitas Maranatha, Bandung.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2