Wajib Belajar & Merdeka Belajar
Oleh Sabriandi Erdian M.Hum (Cand. Dr) & Arianda Tanjung S.Ikom, M.Kom.I

  • Bagikan

KITA pernah mendengar pepatah “tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”, dan pepatah tersebut masih melekat dalam ingatan kita bahwa dengan hijrahnya kita dari rumah ke sekolah untuk menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban. 

Mantan Presiden RI ke-2 Jenderal Besar H. Soeharto mencanangkan wajib belajar 9 Tahun sehingga, pembekalan siswa dan siswi di sekolah tentang adab, ilmu, budaya dan lainnya diketahui untuk kehidupan siswa-siswi tersebut ke depannya.

Sekarang, dengan inovasi yang dikembangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di bawah kepemimpinan Presiden Ir. Joko Widodo menjadikan pendidikan dengan berbasis Merdeka Belajar. 

Pengejawantahan dalam kehidupan yang canggih dengan ilmu dan teknologi membutuhkan siswa-siswi yang terampil, memiliki keahlian dan juga kompetensi dalam bidang dan bidang lainnya. Merujuk kita ke pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Pada paragrah 4 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” melalui pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi bahwa untuk persaingan yang terjadi dari dahulu hingga akan datang melalui kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang melalui pendidikan dan pengajaran yang diperolehnya, baik itu dibangku pendidikan formal ataupun di pendidikan non formal. 

Fenomena Pendidikan
Mungin kita masih ingat dengan perbedaan daerah antara kota dan desa (ataupun dapat disebut dengan kampung), tapi untuk sekarang perbedaan daerah tidak menjadi suatu ukuran dan jaminan bahwa daerah itu unggul dan terampil. Namun, melalui jaringan internet yang menyediakan kebutuhan bagi penggunanya bahwa daerah yang tertinggal sekarang sudah menjadi daerah yang cerdas dan terampil dengan ilmu dan pengetahuan yang diperolehnya tidak hanya dari pendidikan formal, namun diperolehnya dari jaringan teknologi seperti seluler yang dimilikinya dan juga komputer sebagai media pembelajaran yang ia lakukan setiap hari. 

Ia dapat menjelajah keliling dunia dengan sehari. Kita akan tahu dengan sebuah novel  Around the World in Eighty Days Karya Jules Verne 1873 menceritakan untuk keliling dunia dengan 80 hari. Dan kenyatannya sekarang, melalui teknologi untuk keliling dunia hanya satu hari. 

Itulah perkembangan dan kecanggihan teknologi berkat keahlian dan keterampilan dalam menuntut ilmu. Kebutuhan manusia sekarang dalam menuntut ilmu melalui ruang dan waktu akan mengantarkannya mejadi manusia yang mengembangkan melalui riset-riset yang berkualitas dan unggul. 

Kewajiban dan Merdeka Belajar
Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kita akan mengetahui arti dari pepatah Melayu di atas bahwa setiap orang yang melakukan usaha akan mendapatkan kemudahan dalam kesulitan yang ditemuinya. Belajar dan terus belajar sampai keliang lahat merupakan suatu kewajiban manusia untuk menjadi manusia yang beradab, berilmu dan memiliki kompetensi dalam persaingan dunia sekarang ini. 

Kita akan mengetahui bahwa rakyat Indonesia memiliki kompetensi dalam satu bidang dan juga bidang yang lainnya. Sebagai contoh, mantan Presiden Republik Indonesia Bapak B.J. Habibie adalah yang menemukan model pesawat canggih dan dapat bersaing dengan negara lain. 

Pendidikan menjadi tonggak utama dalam proses pelajaran dan pembelajaran, Kita mengetahui melalui catatan sejarah yang tak pernah terlupakan dalam kehidupan kita yaitu negara Jepang yang kalah dengan sekutu pada tahun 1945 yaitu dengan bom atom di kota Nagasaki dan Hiroshima pada tanggal 6 dan 8 Agustus dan kenyataannya sekarang sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Karena melalui pendidikan suatu negara dapat bangkit dari kekalahan.

Intinya memang, dalam kondisi kapanpun dan di mana pun semangat belajar jangan sampai pupus, terlebih hanya karena pandemi Covid-19 seperti saat ini. Karena dengan orang-orang yang berpendidikan, serta ditambah dengan niat yang baik maka diharapkan negeri ini dapat lebih baik ke depannya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *