Waspada
Waspada » USU Yang Akan Datang
Headlines Opini

USU Yang Akan Datang

Oleh Prof Dr Marihot Manullang

Membangun konsep WCU butuh komitmen, atmosfir pendidikan yang membangun, dan kultur akademik yang saling mendukung satu sama lain. Upaya menuju WCU bukan hal yang mudah, tetapi bukan pula tidak mungkin

Pelantikan Rektor Dr Muryanto Amin oleh MWA USU kita harapkan membawa USU sebagai salah satu perguruan tinggi negeri masa depan yang bisa diandalkan. Juga menjadikan Sumut mempunyai nilai tambah sebagai icon pendidikan di negeri ini. Harapan ini tentu sangat tergantung kepada bagaimana Rektor USU yang baru mampu mengelola USU dengan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel agar bisa menjadi salah satu World Class University (WCU) dari negara ini dengan penguatan tridarma pendidikan tinggi yang berdampak pada masyarakat.

Sebagai perguruan tinggi negeri milik yang ada di Sumatera Utara, USU merupakan kebanggaan karena sudah banyak mencetak sarjana sebagai alumni yang tersebar dalam berbagai ragam profesi di negara ini, bahkan luar negeri. Bagaimana agar USU akan datang di tengah paradigma kampus merdeka bisa menjadi perguruan tinggi yang lebih baik dari sisi mutu akademik sangat kita harapkan. Apa yang akan dilakukan Rektor baru USU ini sehingga USU yang akan datang merupakan PTN dengan level WCU bisa terwujud dengan baik?

Jika kita lihat kembali kebelakang pada Juli 2020 lalu USU masuk pada tataran nasional 8 besar sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di negara ini. Capaian ini tentu sangat membanggakan kita semua karena USU mampu melakukan fungsi tridarma pendidikan tingginya dengan baik dan benar. Bagaimana meningkatkan prestasi ini ke depan agar USU mampu menjadi salah satu PTN yang disegani dalam era kampus merdeka dan di era revolusi industri 4.0.

Jika kita lihat kembali fungsi pendidikan tinggi Pendidikan Tinggi, sebagaimana disebutkan dalam UU No. 12 Tahun 2012 Pasal 4 bahwa pendidikan tinggi memiliki tiga fungsi: 1) Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; 2) Mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma;

3) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai hHumaniora. Fungsi pendidikan tinggi ini akan diterjemahkan secara teknis nantinya oleh Rektor USU yang baru dan kita harapkan fungsi ini bisa terwujud untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dalam konteks kekinian kita bisa melihat capaian sebuah negara sering kita lihat dalam konsep Human Development Index yang dicapai oleh negara yang bersangkutan. Kita sering mendengar HDI negara Indonesia masih rendah, kalau bisa disebut biasa-biasa saja. Pada dasarnya HDI adalah satuan yang dikembangkan UNDP guna mengukur kesuksesan pembangunan suatu negara.

HDI adalah angka yang diolah berdasarkan tiga dimensi; yaitu panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup (standard of living) suatu bangsa. Berangkat dari paradigma HDI tentu perguruan tinggi punya peran besar dalam meningkatkannya. Dalam hal inilah USU kembali tertentang bagaimana meningkatkan HDI bangsa ini dari Sumut dengan berbagai capaian yang bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Kini USU akan dipimpin seorang Rektor baru selama lima tahun ke depan (2021-2026). Sedikitnya dalam konteks pembangunan Sumut, USU akan menghadapi beberapa tantangan. Bagaimana USU yang akan datang tentu sangat kita harapkan menjadi salah satu PTN yang membanggakan dari Sumut sekaligus bisa jadi “icon pendidikan” dari Sumut.

Ada beberapa hal yang bisa jadi bahan pemikiran bagi Rektor baru untuk USU yang akan datang. Pertama, USU harus mampu memosisikan dirinya sebagai salah satu PTN yang berkedudukan di lokal, tetapi kualitas secara nasional dan regional, bahkan global. Maka paradigma menjadi WCU jangan hanya slogan semata. Harus bisa diaplikasikan sampai implementasi yang paling nyata dalam iklim tridarma pendidikan tinggi.

Membangun konsep WCU butuh komitmen, atmosfir pendidikan yang membangun, dan kultur akademik yang saling mendukung satu sama lain. Upaya menuju WCU bukan hal yang mudah, tetapi bukan pula tidak mungkin. Dengan potensi yang ada saat ini saya yakin USU bisa menjadi salah satu WCU dari negara ini dengan basis Sumut.

Kedua, bagaimana USU supaya punya akses pada masyarakat miskin yang punya kemampuan intelektual tetapi tidak berdaya secara finansial. Karena dilema yang dihadapi perguruan tinggi BHMN dan BHP sekarang ini adalah masalah pendanaan pendidikan. Jika masih mengandalkan pendanaan dari mahasiswa, itu adalah kebijakan klasik yang tidak perlu dirumuskan.

Maka menjual produk yang punya nilai bisnis dari penelitian akan menjadi solusi. Untuk itu memikirkan nasib masyarakat miskin atau yang tidak mampu adalah tantangan yang paling berat. Sisi bisnis tidak mungkin lepas dari USU, hanya jangan sampai mengorbankan masyarakat tidak mampu.

Ketiga, peningkatan kualitas dosen. Ini sangat sederhana. Dosen adalah salah satu kata kunci sekaligus ujung tombak dalam memajukan perguruan tinggi. Jika melihat jumlah kualitas penelitian di berbagai jurnal nasional dan internasional bereputasi dalam beberapa tahun belakangan ini USU mengalami grafik kenaikan yang sangat signifikan.

Artinya publikasi dosen USU sangat bagus sehingga peringkat USU bisa naik secara signifikan pula. Saat ini hal yang sama juga sedang dilakukan PTN luar Jawa seperti Universitas Andalas Padang dan Universitas Hasanuddin Makasar. Bagaimana Rektor baru mampu mendorong dosennya agar lebih inovatif kreatif adalah tantangan. Pengembangan kualitas dosen sebagai tenaga pendidik sangat menentukan kemajuan sebuah institusi pendidikan tinggi.

Keempat, bagaimana USU mampu memberikan solusi (problem solving) pada semua kabupaten kota di Sumut dalam konteks pengembangan daerah otonomi ke depan. Kabupaten kota dan Pemprovsu membutuhkan masukan dari USU bahkan sebagai mitra kerja dalam rangka pengembangan riset daerah untuk kemajuan daerah.

Ini harus kembali dipikirkan Rektor USU yang baru. Sebenarnya masih banyak yang tantangan yang akan dihadapi USU bersama rektor baru ke depan. Sebagai komunitas orang terdidik, semua tangangan itu pasti bisa diselesaikan dengan pendekatan yang bermetodologi untuk kemajuan USU ke depan.

Penutup

USU yang akan datang sangat kita harapkan adalah universitas yang mampu membangun kultur akademik yang bagus, atmosfir pendidikan yang mendukung tridarma dan tata kelola institusi yang transparan. Untuk itu, Rektor yang baru Dr Muryanto Amin sangat kita harapkan menjadi rektor yang visioner, yang mendukung pengembangan Iptek berbasis kebutuhan warga Sumut, dan mampu memberdayakan semua potensi akademik ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan.

Mari mendukung dalam rangka membawa USU yang akan datang sebagai perguruan tinggi yang naik level menjadi WCU dan sekaligus PTN kebanggan masyarakat Sumatera Utara. Semoga!!!!. Waspada

Penulis adalah Guru Besar Tetap UPMI Medan dan Ketua Dewan Pakar MPW Pemuda Pancasila Sumut.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2