Waspada
Waspada » Tantangan MBKM
Headlines Opini

Tantangan MBKM

Oleh Suwardi Lubis

 

Sejatinya tidak ada suatu konsep yang dibuat dalam bentuk sempurna. Karena akan selalu ada kekurangan yang menyertainya, dan tantangan yang terjadi dan harus dijawab sesungguhnya suatu proses untuk semakin menyempurnakan suatu konsep

Dalam setiap kebijakan publik akan selalu ada tantangan yang akan dilalui sebelum sampai pada suatu posisi yang disebut dengan sukses. Sukses pelaksanaan atau implementasi suatu kebijakan publik dapat diukur dengan berbagai indikator yang ditetapkan.

Begitu juga halnya dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang telah dicanangkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dari literatur yang ada, konsep MBKM di antaranya adalah pembukaan program studi baru; sistem akreditasi perguruan tinggi; kebebasan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH); hak belajar tiga semester di luar program studi.

Permendikbud No. 3, 5, dan 7 Tahun 2020 sarat dengan otonomi dan inovasi bagi peguruan tinggi (PT), yang tidak bisa diam begitu saja, melainkan harus dinamis untuk merespons berlakunya Permendikbud ini. PT wajib memfasilitasi pelaksanaan proses pembelajaran otonomi mahasiswa di Kampus Merdeka (Permendikbud No. 3 Tahun 2020 Pasal 18 Ayat 3).

Sebagai sebuah paradigma pendidikan, MBKM menjadi acuan bagi pelaksanaan pendidikan nasional. Sistem pendidikan yang berlangsung secara nasional yang dijalankan para pengelola pendidikan, akan mengacu pada konsep yang relatif baru ini. Dalam dinamikanya para pengelola pendidikan tinggi di tanah air, memiliki kemampuan yang bervariasi satu dengan yang lainnya.

Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah pengaruh global yang merupakan iklim eksternal yang sejak lama menjadi faktor yang kurang mendapat tempat prioritas, meski secara deras memberi pengaruh.

Secara umum iklim global ini memberi pengaruhi ke berbagai sektor. Cooper (2013) mencatat faktor-faktor yang mempengaruhi dunia global seperti pergeseran demografi; berubahnya kekuatan ekonomi; percepatan faktor urbanisasi; perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya alam; perkembangan teknologi.

Masing-masing negara di dunia ini menyikapi perkembangan global tersebut secara berbeda, dengan pendekatan yang berbeda pula. Pendekatan yang dilakukan ini menjadi penentu keberhasilan maupun kegagalan suatu negara dalam menjawab tantangan perubahan global yang terjadi.

Dan sepertinya MBKM adalah suatu konsep di dunia pendidikan sebagai respons atau pendekatan yang dilakukan dalam menjawab perubahan global tersebut. Tentunya dengan pendekatan ini diharapkan negeri ini akan bertahan dalam perubahan yang terjadi bahkan melakukan akselerasi dalam pembangunan.

Pendekatan yang dilakukan dalam menjadi tantangan global ini juga memiliki tantangan dalam implementasinya. Syamsul Arifin dan Moh Muslim (2020) menyebutkan, tantangan kebijakan MBKM meliputi: Mekanisme kolaborasi antara perguruan tinggi islam swasta dan program studi dengan pihak luar; Percepatan PTN go internasional dengan kebijakan PTN-BH; Mekanisme magang di luar program studi.

Sedangkan menurut Styowati (2020), tantangan yang akan dihadapi di antaranya akan adanya kemungkinan kesulitan dalam penangan administrasi mahasiswa yang pindah dari satu Prodi ke Prodi lainnya, atau ke kampus lainnya. Akan ada pula perbedaan standar penilaian antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lainnya.

Tantangan lainnya, kompetensi lulusan menjadi lebih gerenalis dan kurang spesifik dalam keilmuannya. Konsep kampus merdeka juga menghadapi tantangan dan boleh jadi akan berjalan kurang maksimal mengingat ketimpangan kualitas perguruan tinggi di Indonesia masih sangat tinggi.

Hal ini sepertinya telah menjadi diskursus di kalangan akademisi. Lilik Huriyah (2020) memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, kekhawatiran kompetensi lulusan menjadi tidak spesifik sesuai bidang keilmuannya, hal itu sudah terjawab oleh Permenristekdikti Nomor 50 Tahun 2018 tentang perubahan atas Permenristekdikti nomor 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Di sana mahasiswa diharuskan mempunyai empat kompetensi, yakni kompetensi sikap, pengetahuan, keterampilan umum dan keterampilan khusus. Kompetensi sikap dan keterampilan umum dirumuskan oleh Menteri dan perguruan tinggi boleh menambahnya. Sedangkan pengetahuan dan keterampilan khusus dirumuskan oleh perguruan tinggi.

Dijelaskan, dalam rumusan keterampilan umum program sarjana (S1) dinyatakan bahwa ‘Mahasiswa mampu memelihara dan mengembangkan jaringan kerja dengan pembimbing, kolega, sejawat baik di dalam maupun di luar lembaganya’. Artinya, ada ruang gerak yang bebas bagi mahasiswa untuk mendesain masa depannya dengan detail ramuan mata kuliah keahlian spesifik yang ditopang dengan keahlian lain yang diminatinya.

Tidak kalah menarik tantangan perguruan tinggi yang disampaikan Neni Nur Hayati (2020). Menurutnya, politik di dunia perguruan tinggi adalah sebuah keniscayaan. Tidak sedikit produk akademik dimanfaatkan oleh pihak berkepentingan. Bahkan, kadang terjadi banyak manipulatif data dan rekayasa sosial politik atas produk ilmiahnya untuk kepentingan pribadi. Lebih miris lagi, tatkala adanya kalangan terdidik yang ketika masuk ke lingkaran kekuasaan tidak sedikit yang terbelit jeratan korupsi.

Dia menyajikan data bahwa banyak proyek di kampus yang sangat menggiurkan kaum terdidik. Komisi Pemberantasan Korupsi mencatat, sekitar 86 persen pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Hal seperti ini sudah semestinya menjadi sarana mereflesksikan diri agar setelah kampus merdeka dilaksanakan pendidikan bisa jauh lebih baik dan setiap alumnus yang diluluskan memiliki kekuatan moral. Layaknya, institusi yang lain, perguruan tinggi menjadi institusi yang rentan menjadi korban sekaligus tindak pidana korupsi di dunia pendidikan.

 

Penutup

Sejatinya tidak ada suatu konsep yang dibuat dalam bentuk sempurna. Karena akan selalu ada kekurangan yang menyertainya, dan tantangan yang terjadi dan harus dijawab sesungguhnya suatu proses untuk semakin menyempurnakan suatu konsep. Dinamika yang seperti inilah yang kita harapkan muncul dalam proses MBKM.  WASPADA

 

Penulis adalah Guru Besar Fisip USU dan STIK-P Medan.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2