Waspada
Waspada » TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Shalat Khauf Itu Dalam Peperangan
Opini

TAFSIR ALQURAN APLIKATIF: Shalat Khauf Itu Dalam Peperangan

Oleh Prof Dr Faisar A Arfa, MA

 

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kalian lengah terhadap senjata kalian dan harta benda kalian, lalu mereka menyerbu kalian dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atas kalian meletakkan senjata kalian, jika kalian mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kalian memang sakit; dan siap siagalah kalian. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir itu (QS. An-Nisaa’: 102)

Shalat Khauf banyak ragamnya, karena sesungguhnya musuh itu adakalanya berada di arah kiblat, dan adakalanya berada di lain arah. Shalat itu adakalanya terdiri atas empat rakaat, adakalanya tiga rakaat (seperti Shalat Magrib), dan adakalanya dua rakaat (seperti Shalat Subuh dan Shalat Safar).

Adakalanya mereka melakukan shalat dengan berjamaah, adakalanya perang sedang berkecamuk. Sehingga mereka tidak dapat berjamaah, melainkan masing-masing shalat sendirian dengan menghadap ke arah kiblat atau ke arah lainnya, baik dengan berjalan kaki ataupun berkendaraan.

Dalam keadaan perang sedang berkecamuk, mereka diperbolehkan berjalan dan memukul dengan pukulan bertubi-tubi, sedangkan mereka dalam shalatnya. Ada ulama mengatakan dalam keadaan perang sedang berkecamuk, mereka melakukan shalatnya satu rakaat saja.

Karena berdasarkan kepada hadis Ibnu Abbas Ishaq ibnu Rahawaih mengatakan, “Adapun dalam keadaan pedang beradu, maka cukup bagimu satu rakaat dengan cara memakai isyarat saja. Jika kamu tidak mampu, cukup hanya dengan sekali sujud karena shalat adalah zikrullah.”

Di antara ulama ada yang membolehkan mengakhirkan shalat karena uzur peperangan dan sibuk menghadapi musuh, seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW; Beliau mengakhirkan shalat Zhuhur dan Ashar dalam perang Ahzab dan mengerjakannya sesudah Magrib. Kemudian Beliau melakukan shalat Magrib dan Isya sesudahnya.

Juga seperti yang disabdakannya sesudah itu (yakni dalam Perang Bani Quraizah) ketika Beliau mempersiapkan pasukan kaum Muslim menghadapi mereka. Beliau SAW bersabda: Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian shalat Ahsar, melainkan di tempat Bani Quraizah!

Waktu shalat datang ketika mereka berada di tengah jalan. Maka sebagian dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud Rasulullah SAW hanyalah agar kita berjalan dengan cepat, bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat dari waktunya. Maka golongan ini mengerjakan shalat Ashar tepat pada waktunya di tengah jalan.

Sedangkan golongan lain dari mereka mengakhirkan shalat Ashar, lalu mereka mengerjakannya di tempat Bani Quraizah sesudah Shalat Magrib. Tetapi Rasulullah SAW tidak menegur salah satu dari kedua golongan tersebut.

Imam Bukhari dalam kitab sahihnya, dalam Bab “Shalat di saat mengepung benteng dan bersua dengan musuh”. Disebutkan Al-Auza’i mengatakan:

“Jika kemenangan berada di tangan dan mereka tidak mampu melakukan shalat, hendaklah mereka shalat dengan memakai isyarat, masing-masing orang mengerjakannya sendiri-sendiri. Jika mereka tidak mampu memakai isyarat, hendaklah mereka mengakhirkan Shalat sampai peperangan terhenti atau situasi aman dan terkendali, baru mereka melakukan shalatnya dua rakaat. Jika dua rakaat tidak mampu mereka kerjakan, maka cukup dengan satu rakaat dan dua kali sujud. Jika hal itu tidak mampu juga mereka kerjakan (karena keadaan masih sangat genting), maka tidak cukup bagi mereka mengerjakan salatnya hanya dengan takbir, melainkan mereka harus mengakhirkannya hingga keadaan benar-benar aman.”

Anas ibnu Malik mengatakan, ia ikut mengepung Benteng Tustur di saat fajar menyingsing, lalu pecahlah perang dengan serunya, hingga pasukan kaum muslim tidak dapat melakukan shalat Shubuh. Maka kami tidak mengerjakannya kecuali setelah matahari tinggi, lalu baru kami berkesempatan mengerjakannya; saat itu kami berada di bawah pimpinan Abu Musa.

Akhirnya kami beroleh kemenangan dan berhasil merebut Benteng Tustur. Sahabat Anas mengatakan, “Tidaklah aku gembira bila shalat tersebut ditukar dengan dunia dan semua yang ada padanya.”

Dan apabila kamu berada di tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka. Maksudnya, apabila kamu shalat bersama mereka sebagai imam dalam shalat khauf.

Hal ini bukan seperti keadaan yang pertama tadi, karena pada keadaan pertama shalat di-qasar-kan (dipendekkan) menjadi satu rakaat. Seperti ditunjukkan makna hadisnya, yaitu sendiri-sendiri, sambil berjalan kaki ataupun berkendaraan, baik menghadap ke arah kiblat ataupun tidak, semuanya sama.

Ali ra bercerita bahwa Allah SWT menurunkan firman-Nya di antara kedua shalat (Zhuhur dan Ashar), yaitu: jika kalian takut diserang orang-orang kafir (QS. An-Nisaa’: 101), hingga akhir ayat berikutnya. Maka turunlah ayat mengenai shalat khauf.

Maka turunlah Malaikat Jibril di antara shalat Zhuhur dan Ashar dengan membawa ayat-ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan Shalat bersama-sama mereka (QS. An-Nisaa’: 102).

Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah SAW memerintahkan mereka menyandang senjata, lalu membariskan kami di belakangnya menjadi dua saf. Kemudian Nabi SAW rukuk, dan kami semua rukuk; lalu Nabi SAW mengangkat tubuhnya dari rukuk, kami pun melakukan hal yang sama semuanya.

Sesudah itu Nabi SAW sujud bersama saf di belakangnya, sedangkan saf berikutnya dalam keadaan tetap berdiri melakukan tugas penjagaan. Setelah mereka sujud dan bangun, maka golongan yang lainnya duduk, lalu sujud menggantikan mereka yang telah sujud.

Kemudian saf kedua maju menggantikan kedudukan saf pertama, dan saf pertama mundur menggantikan kedudukan saf yang kedua. Lalu Nabi SAW rukuk, maka mereka semuanya rukuk; dan Nabi SAW mengangkat kepalanya dari rukuk, maka mereka mengangkat kepalanya pula dari rukuknya.

Hal ini dilakukan mereka secara bersama. Kemudian Nabi SAW sujud bersama saf di belakang Beliau, sedangkan saf yang lain tetap berdiri menjaga mereka. Setelah mereka duduk, maka saf yang lainnya duduk, lalu sujud. Selanjutnya Nabi SAW salam bersama mereka.

Perintah menyandang senjata dalam shalat khauf, menurut segolongan ulama di antaranya Imam As Syafii hukumnya wajib karena berdasarkan kepada makna lahiriah ayat. Dan tidak ada dosa atas kalian meletakkan senjata kalian, jika kalian mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kalian memang sakit; dan siap siagalah kalian Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir itu (QS. An-Nisaa’: 102).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2