Waspada
Waspada » Sumpah Pemuda: Wajah Sprituil Rakyat Indonesia
Opini

Sumpah Pemuda: Wajah Sprituil Rakyat Indonesia

BEN Anderson, seorang Indonesianis, dalam bukunya Java in a Time of Revolution: Occupation & Resistance (Jawa di Masa Revolusi: Pendudukan & Perlawanan) mengatakan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan pemuda. Pemuda harus mencetak sejarah hari ini untuk menentukan bagaimana masa depan.

Dulu, dengan keberanian, semangat serta keyakinan besar, para pemuda dari berbagai organisasi, aliran dan latarbelakang seperti Jong Batak, Jong Java, Jong Islamiten Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Borneo dan lainnya, terpanggil untuk bersatu dan bersama-sama melawan penjajah. Para pemuda ini di satukan oleh rasa senasib dan sepenanggungan dan mimpi bersama untuk lepas dari kolonialisme dan membangun negara yang merdeka, mandiri bebas dari penjajahan asing. Para pemuda anak zaman tersebut berjuang membangun kesadaran kolektif dan identitas kolektif untuk melawan penjajah. Para pemuda saat itu menanggalkan identitas lokal dan kepentingan sektoral yang melekat pada dirinya. Mereka berjuang sebagai bangsa Indonesia dan bersumpah:

  1. Pertama Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kedua Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Ketiga Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengawali kesadaran kebangsaan. Merupakan expresi kebangsaan Indoneia.

Isi dan Makna sumpah pemuda tersebut merupakan gambaran Wajah Sprituil dan expresi watak Nasional dari berbagai elemen rakyat yang ada di Nusantara. Apa yang di maksud dengan wajah sprituil Rakyat Nusantara?, yaitu adanya perasaan senasib dan sepenanggungan. Untuk melihat kebenaran objektif wajah sprituil atau watak nasional rakyat Nusantara saat itu, kita harus kembali menapak tilas sejarah rakyat Nusantara dalam arus besar gerakan melawan kolonialisme Belanda serta gerakan pembebasan nasional yang terjadi di belahan dunia pada awal abad 20.

Ketika kolonialisasi dan birokrasi kapitalisme Belanda mencengkram kerajaan-kerajaan serta menyatukan berbagai wilayah dan ekonomi yang ada di Nusantara, dalam bentuk pembangunan jalan, pelabuhan, kereta api, perkebunan, mata uang tunggal dan mobilisasi pribumi secara besar besaran untuk di exploitasi dalam kepentingan pembangunan Belanda, menyebabkan terjadinya kesatuan wilayah, kesatuan ekonomi dan kesatuan bahasa dalam sejarah perkembangan masyarakat nusantara di era kapitalisme yang mulai menggelobal.

Karena adanya kesatuan dari tiga komponen tersebut, mengakibatkan mayoritas rakyat nusantara terkoneksi, terintegrasi, terkomunikasikan pengalaman bersama di jajah, di hina, di tindas yang melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan tetapi di sisi lain juga melahirkan mimpi, harapan dan cita cita bersama agar lepas dan merdeka dari penindasan tersebut . inilah namanya watak nasional atau wajah sprituil rakyat nusantara yang melahirkan sumpah pemuda kala itu.

Nation Building Indonesia Terintrupsi

Pembangunan dan konsolidasi rasa kebangsaan Indonesia saat ini terintrupsi oleh gangguan luar maupun dalam negeri. Tantangan dari luar seperti konfigurasi ekonomi politik dunia internasional yang bergerak cepat dan sangat dinamis. Penuh dengan kecepatan, resiko, kejutan dan seringkali jauh dari perhitungan atau unpredictable berdampak pada dinamika dan pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain era digitalisasi yang menggelobal dan mengintervensi seluruh sendi kehidupan sangat rentan di masuki nilai dan paham yang bertentangan dengan nilai nilai kebangsaan.

Situasi ini semakin di perparah dengan mewabahnya covid 19 yang mendunia dan telah berdampak pada seluruh sektor kehidupan ekonomi politik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tercatat musibah pandemi Covid 19 sejak Maret 2020 sudah 174.796 yang terkena kasus. Sementara dampaknya secara ekonomi, menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa, membuat daya beli masyarakat hilang sebesar Rp362 triliun hingga terjadi krisis dan kontraksi ekonomi -1,1 persen hingga -2,9 persen.

Dalam situasi ekonomi yang minus pertumbuhan, pejabat birokrasi justru cenderung lambat dalam mengeksekusi program secara cepat, terukur, dan efesien, hal ini di sebabkan kultur dan SDM yang masih terjebak pada pola pikir dan budaya kerja yang lama, yaitu berbelit belit, tidak efektif dan efesien. Masalah lainnya adalah banyaknyaregulasi, lembaga atau badan negara yang tidak fungsional dan bersifat parasit yang hanya menghamburkan dana APBN/APBD.Sementara dinamika dan polarisasi politik nasional saat ini juga kurang kondusif. Beberapa aksi demontrasi yang massif dan tersebar di beberapa kota dan gerakan dari kaum oposisi serta ancaman gerakan fundamentalisme agama yang beraliran anti NKRIi turut menyumbang tergerusnya sendi sendi dalam kehiduan berbangsa dan bernegara.

Berangkat dari problem masyarakat Indonesia saat ini, menurut penulis sudah seyogyanya seluruh komponen rakyat dari berbagai sektor dan wilayahuntuk membangun kembali semangat kebangsaan Indonesia, khususnya kalangan muda milineal. Momentum pandemi covid 19 dan krisis ekonomi yang berdampak pada seluruh sektor kehidupan rakyat, harusnya menjadi langkah awal untuk membangun kebersamaan, persaudaraan, gotong royong serta rasa senasib sepenanggungan yang menjadi wajah sprituil baru atau Watak Nasional Baru Rakyat Indonesia dari sabang Sampai Merauke. Jika dahulu yang menyatukan kita (Rakyat Nusantara Menjadi Indonesia) adalah kolonialisme maka sekarang yang menyatukan kita adalah bencana kemanusiaan pandemi covid 19 dan krisis ekonomi yang semakin akut.

Penulis adalah Kordinator Forum Aktifis 98 Sumut

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2