Waspada
Waspada » Sumpah Pemuda Digital
Headlines Opini

Sumpah Pemuda Digital

Ada pula (pemuda) yang menjadi pasukan siber atau pendengung, influencers, yang melakukan pembelaan atas kepentingan politik tertentu. Tujuannya tidak lain membungkam siapa saja yang mengkritik yang dibelanya

Peran pemuda dalam sejarah republik mulai menampak sewaktu mengumandangkan Sumpah Pemuda pada 1928. Sebelumnya pemuda yang mengecap pendidikan Barat dimulai awal abad ke dua puluh perlahan-lahan menggagasi pembangkangan terhadap penguasa kolonial melalui hasil pendidikannya yang diserap dari bangku sekolah yang tersebar di kota-kota satelit kolonial.

Di sekolah mereka belajar dari guru Belanda, berbahasa Belanda dan percabangan ilmu pengetahuan lainnya yang membuat mereka menjadi pintar, cerdas, dengan kemampuan bahasa Belanda dan bahasa asing lainnya yang cukup baik, malah dalam keseharian di tengah masyarakat yang jumlah orang sekolahannya relatif sedikit mereka saling bercakap, berdiskusi dan berdebat dalam bahasa Belanda. Dengan menguasai bahasa kaum penjajah, mereka melahap pengetahuan yang masuk ke negeri jajahan ini.

Pemuda berpendidikan Barat berasal dari keluarga terpandang. Selain bersungguh dan cerdas, keluarganya berkecukupan sehingga dapat menikmati pendidikan. Selama mengenyam pendidikan pemikiran, wawasan dan intelektualitasnya makin tajam, kritis dan kesadaran atas bangsanya yang dilindas kapitalisme makin melambung tinggi.

Lantaran itu selepas menyelesaikan studi mereka mengorganisir diri dalam perhimpunan, perkumpulan, sarekat, organisasi massa, menulis di media kertas, meriuhkan ruang publik dengan berdemo dan menggelar rapat akbar mengecam dan melawan kekuasaan kolonial.

Pemuda yang melakukan sumpah serapah atas kekuasaan kolonial yang menjerembabkan bangsa ke lumpur kemiskinan, diskriminasi, rasisme, dan kekerasan politik tak pelak mendapat ganjaran sangsi dan hukuman dari kekuasaan kolonial.

Meski mendapat ganjaran sangsi dan hukuman semisal kurangan penjara, tetapi pemuda berpendidikan ini tidak menyerah menghamba kepada kekuasaan kolonial. Sebaliknya pemuda ini makin melambung kesadaran politiknya memerdekakan bangsa agar terbebas dari bercokolnya kekuasaan kolonial.

Mereka menggelegarkan nasionalisme, terus menulis gagasan tentang kemerdekaan dan kebengisan kekuasaan yang menekan dan merepresi bangsa sembari menggalang massa melawan kekuasaan dan berdebat di pengadilan menggugat kesemenaan penguasa kolonial.

Tidak berhenti di sini, pembangkangan dan sumpah serapah pemuda atas kebencian kekuasaan kolonial semakin diperluas yang berujung dengan berbulat tekad mewujudkan ikrar bersatu untuk pemerdekaan bangsa. Pemuda berpendidikan yang berada di Batavia, kota yang menjadi sentrum kekuasaan kolonial, berkumpul di sebuah gedung milik China.

Pemuda bangsa yang berasal dari ragam keilmuan, ideologi, daerah dan sekolah di Batavia dan kota besar lainnya termasuk yang telah menyelesaikan studinya di negeri penjajah beserta aneka macam pemikiran besar yang berkibar di kalangan pemuda ini berkumpul dan menyatu mengikrarkan persatuan dengan lantang menyatakan, pertama kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Inilah yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Sumpah pemuda 1928 meletakkan pondasi menggelorakan persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi perekat dan pengikat bangsa menuju kesatuan Indonesia. Pemuda yang berlatar belakang beda ideologi, agama, etnik dan daerah ini yang melakukan sumpah serapah atas keangkuhan kolonial memproduksi penyatuan Indonesia yang di tahun 1945 menjadi bangsa merdeka.

Sumpah pemuda telah berlalu. Situasi pemuda saat ini berbeda dengan 92 tahun lalu yang masyarakatnya bertakuk secara sosial dan represif. Kini banyak pemuda yang tak lagi mengerti proses historis ikrar Sumpah Pemuda.

Ikrar

Semua bangsa di jagad raya sedang mengalami revolusi teknologi digital. Orientasi, pemikiran dan aspirasi pemuda tidak lagi seperti masa dicetuskannya Sumpah Pemuda yang bertekad bulat menyatukan bangsa menjadi bangsa merdeka.

Di masa teknologi teknologi digital kaum muda yang acap dikenal sebagai generasi milenial lebih kreatif, kaya gagasan, pintar, dan akrab dengan dunia digital sehingga dengan cepat dan seketika mengakses dan menguasai informasi.

Revolusi teknologi digital adalah media sosial (surat elektronik, whatsapp, facebook, youtube, twitter, instagram, dan tiktok) pemuda milenial dapat memaksimalkan media sosial untuk keberuntungan ekonomi dan menyangga survivalitas hidup.

Pemuda milineal dengan memaksimalkan multiguna media sosial dapat menebarkan pemikiran, gagasan, ide dan tentu saja mempromosi dan menjual produk yang disebar ke penjuru jagad raya. Melalui bisnis digital pemuda digital dalam waktu singkat dapat menjadi kaya raya.

Melalui aplikasi teknologi digital siapa saja dapat mengunggah momen tertentu ke youtube, instagram, tiktok atau aplikasi digital lainnya yang beroleh pengikut ratusan ribu atau jutaan orang dengan sendirinya akan mendapat keuntungan finansial yang kemudian menjadi penghasilan baru seorang youtubers.

Apalagi youtubers ini berasal dari kalangan selebriti dengan mudah meraup jumlah pengikut yang besar. Makin besar jumlah pengikut makin terbuka peluang mengalirkan uang dari kepiawaian otak atik teknologi digital. Transaksi bisnis telah bergeser dari manual ke teknologi digital dengan bermacam aplikasinya.

Media sosial tidak pernah netral dan dapat digunakan dengan tujuan berbeda. Ada yang menggunakan bisnis, memburu popularitas dan pamer diri. Namun ada pula yang menjadi pasukan siber atau pendengung, influencers, yang melakukan pembelaan atas kepentingan politik tertentu. Tujuannya tidak lain membungkam siapa saja yang mengkritik yang dibelanya.

Dengan memanfaatkan teknologi digital ini ada pula yang menggunakan untuk memuat informasi atau unggahan kegiatan yang setiap waktu terus berganti sesuai keinginan dan tujuannya semisal bernyanyi, berjoget, melucu, atau adegan apa saja yang menyangkut kemanusiaan atau narasi keseharian diunggah di media sosial.

Pemuda tidak saja sangat akrab dan mampu lagi melepaskan diri dari teknologi digital, tetapi masih banyak pemuda yang menggunakan teknologi digital atau media sosial sebagai media kritik sosial.

Kritik terhadap Undang-Undang Cipta Kerja ayau Omnibus Law yang berujung dengan aksi protes pemuda, mahasiswa dan buruh besar-besaran di berbagai kota. Mobilisasi sumpah serapah aksi protes atas diketoknya Omnibus Law di DPR memantik penggalangan massa sampai aksi protes yang mulanya disebar melalui teknologi digital atau media sosial yang dengan cepat menyebar ke berbagai tujuan dengan maksud beroleh simpati khalayak luas.

Dalam waktu seketika aksi protes dengan cepatnya menjalar ke berbagai kota. Aksi protes Omnibus Law memerlihatkan pemuda digital masih berfungsinya sebagai kelompok strategis menyuarakan aspirasi suara rakyat. Setiap kali ada kebijakan politik yang meninggalkan rakyat pemuda bersumpah serapah mengkritik pemerintah yang tidak berpihak ke massa rakyat.

Teknologi digital tidaklah netral dapat digunakan siapa saja untuk bemacam kepentingan. Ada kelompok pemuda yang bersumpah serapah ingin mempromosikan tindakan kekerasan. Pemuda yang melakukan aksi kekerasan selalu memakai dalil agama sebagai pembenar tindakan kekerasan melalui media sosial.

Menyaksikan lanskap pemuda digital yang mengandalkan aktifitasnya dari teknologi digital hendaknya harus membuka lembaran sejarah Sumpah Pemuda agar setinggi apapun kesuksesan dan prestasi berkat kehadiran teknologi digital jangan melupakan Sumpah Pemuda sebagai pondasi menegakkan kesatuan bangsa. Pemuda digital harus berikrar membangun dan memerkuat keberagaman bangsa seperti yang termuat dalam semangat Sumpah Pemuda.Waspada

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2