Waspada
Waspada » Siapa Pendamping Bobby Nasution
Opini

Siapa Pendamping Bobby Nasution

“Bobby masih relatif muda. Oleh karena itu, diperlukan pendamping yang memiliki kapasitas luar biasa untuk menguasai birokrasi di Pemko Medan saat setelah menjabat”

GENDERANG perang bintang menuju Pilkada Kota Medan mulai ditabuh. Atmosfer politik di Kota Medan yang dihuni sekitar 2,2 juta jiwa penduduk itu terus menggeliat. Ibarat petarung, ada yang menyatakan terus terang siap diusung dan didukung partai politik. Sebaliknya, ada yang malu-malu menyatakan kesiapannya bertarung, akibat minimnya dukungan publik.

Sederetan nama tersohor dan populer bermunculan mencalonkan diri sebelum naik ring daftar ke KPU. Banyak nama yang populer bermunculan, tapi dari banyak nama itu dalam pengamatan penulis, tanpa menafikan banyak nama yang muncul, baru dua nama yang diperbincangkan dalam belantika politik Kota Medan. Dua figur terpopuler itu adalah Akhyar Nasution yang saat ini menjabat Plt Walikota Medan, pentolan kader utama PDIP yang duduk di eksekutif dan selanjutnya Bobby Afif Nasution. Beliau dikenal luas oleh rakyat Indonesia khusus di Kota Medan sebagai menantu Presiden Joko Widodo. Dua nama besar populer ini menjadi magnet perbicangan politik yang tidak habis-habisnya, baik partai politik maupun masyarakat luas di Kota Medan. Sangat wajar jika dua nama ini terus diperbincangkan, karena dari aspek elektabilitas dua figur ini memiliki potensi luar biasa untuk memimpin Kota Medan periode lima tahun akan datang.

Ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan dalam tulisan ini. Siapakah pendamping Akhyar Nasution dan Bobby Afif Nasution di Kota Medan? Bagi saya, siapa wakil pendamping Akhyar Nasution sudah clear. Kader PDIP ini menyatakan sudah siap menerima sanksi apapun dari partai yang naiki selama ini. Akhyar Nasution dapat dipastikan memiliki tiket maju pada Pilkada Kota Medan bermodalkan Partai Demokrat dan PKS. PKS memiliki 7 kursi dan Partai Demokrat 4 kursi. Dengan demikian, Akhyar memiliki 11 kursi dan dengan jumlah itu, ia Akhyar dipastikan dapat melenggang sebagai calon Walikota Medan. Uniknya memang, Akhyar Nasution tidak terlalu sulit memilih siapa pendampingnya. Win win solution politik, atas komunikasi politik yang cerdas dari kedua belah pihak, Akhyar harus berlapang dada untuk dipasangkan dengan Salman Alfarisi kader PKS. Ya, memang dapat dipastikan demikian. Solusi politik untuk meredam siapa pendamping Akhyar, mau tidak mau ia harus menyatukan diri secara menyeluruh (kaffah) dengan PKS, kader PKS dikenal loyal dan militan luar biasa ketika memperjuangkan sekaligus memenangkan kadernya maju dalam pilkada. Jadi, apa yang diuraikan penulis, pendamping Akhyar memang sudah clear dan secara komunikasi politik, merupakan pilihan tepat memilih Salman sebagai pendamping Akhyar Nasution.

Siapa Pendamping Bobby

Konflik kepentingan masih menggerutu di internal kubu Bobby Afif Nasution. Banyak nama yang disodorkan untuk mendampingi menantu Presiden Joko Widodo itu untuk maju sebagai orang nomor satu di Kota Medan. Sederetan nama disodorkan secara sengaja, ataupun atas kehendak politik karena dikawinkan secara paksa akibat beberapa faktor politik yang tidak dapat dielakkan. Nama-nama yang sempat mencuatkan ke permukaan, ada Ikhwan Ritonga, Aulia Rahman (Gerindra), Putrama Alkhairi (Dirut PD Pembangunan), Sakhyan Asmara (akademisi USU), Wirya Al Rahman Sekda Kota Medan, Soetarto (PDIP Sumut) dan Untung (birokrasi). Sederetan nama populer itu bukan menjadi jaminan jika mendampingi Bobby sebagai wakilnya kelak Kota Medan akan lebih baik. Memang tidak ada jaminan, tetapi setidaknya perlu analisis komunikasi politik agar Bobby Afif Nasution tidak salah jalan dalam menentukan pilihan pendampingnya.

Pertama, Bobby wajib mempertimbangan capability, accepbility dan electability. Dalam hal capability, Bobby harus melihat kemampuan kecakapan pendampingnya di publik. Usia Bobby masih relatif muda. Oleh karena itu, diperlukan pendamping yang memiliki kapasitas luar biasa untuk menguasai birokrasi di Pemko Medan saat setelah menjabat. Kedua, kemahiran accepbility mutlak diperlukan. Pendamping Bobby harus memiliki jaringan luas dan dikenal orang banyak, karena hal itu juga berkaitan dengan electability pendamping. Keberterimaan pendamping Bobby secara politik harus sejalan dengan elektabilitas atau daya pilih masyarakat ketika menjatuhkan pilihan kepada Bobby. Singkatnya, Bobby tidak sekedar mencomot pendampingnya karena alasan kepentingan tertentu saja. Tetapi lebih jauh dari itu, pendamping Bobby tidak tertolak di masyarakat luas.

Pertimbangan dua point yang diuraikan itu, menurut penulis acapkali ditabrak karena kepentingan yang lebih pragmatis dan jauh lebih penting berdasarkan persepsi kelompok, kubu dan muatan politik pragmatis. Jika analisis komunikasi politik yang pertama dan kedua kita jalankan, maka menurut hemat penulis, ada dua nama yang tepat untuk mendampingi Bobby Afif Nasution. Ia adalah Untung. Untung memang tidak begitu dikenal di public Medan. Tetapi beliau dikenal sebagai birokrat murni. Mertua laki-laki berdarah keturunan India, mertua perempuan berdarah keturunan Cina. Aktif di OKP, pengusaha. Sehingga dari aspek kapasitas, kapabilitas dan elektabilitasnya patut dipertimbangkan masuk dalam bursa pendamping Bobby Afif Nasution. Atas kepiawaiannya itu, hemat penulis ia akan mampu menguasai birokrasi, mengatasi kendala saat berhadapan dengan politik birokrasi di Pemko Medan.

Nama lain yang hemat saya patut dipertimbangkan adalah Soetarto. Selain pentolan kader PDIP, sosok Soetarto dikenal sebagai akademisi yang loyal kepada pimpinan. Sebagai kader di PDIP, ia terbilang sukses mengelola manajemen kepartaian di partai yang ia geluti. Keberterimaan Soetarto di ranah belantika politik Kota Medan, para elit antarpartai tidak perlu dikhawatirkan. Ia termasuk politisi senior. Bahkan terbukti, Soetarto masih dipercaya kembali menjabat Sekretaris DPD PDIP Sumut untuk kedua kalinya. Dalam perspektif accepbility, Soetarto memilih hubungan dan jaringan yang luas. Ia termasuk salah satu jebolan doktor Komunikasi Islam UINSU Medan. Hemat saya, sinergitas sesama alumni di UINSU yang gudangnya para ustadz dan ustadzah di Kota Medan akan lebih maksimal dalam memperjuangkan alumninya mendukung Soetarto sebagai pendamping Bobby Afif Nasution.

Pertimbangan politik lain yang patut diingat Bobby Afif Nasution adalah keberlangsungan dinasti politik PDIP di Kota Medan. Peta politik di Medan bisa saja berubah sesuai mata angin yang kuat ke mana arahnya. Bias kepemimpinan Bobby andai saja dipercaya menjadi Walikota Medan bisa jadi tidak bertahan lama selama lima tahun. Figur atas kepopuleran Bobby itu dan bantuan semua pihak, baik media mainstream dan media social bisa jadi meluas ke seluruh kabupaten/kota di Sumut. Menggadang-gadang sosok Bobby Afif Nasution menjadi calon Gubernur Sumut Tahun 2023 mendatang sangat dimungkinkan. Dan fakta poliik itu, bisa jadi terjadi. Apalagi kiblat politik, kekuatan politik dan kekuasaan politik sedang berada di keluarga Bobby melalui dinasti pemerintah mertuanya Presiden Joko Widodo.

Jadi, hemat penulis tanpa menafikan kelebihan dan keunggulan pendamping lainnya, figur Soetarto patut menjadi pertimbangan utama Bobby Afif Nasution untuk berlayar mencalonkan diri di Kota Medan jika kelak diamanahkan masyarakat Kota Medan akan datang. Fakta politik lain, andai saja Bobby meninggalkan Medan menuju kontestasi pemilihan Gubsu 2023, PDIP harus sejak dini memikirkan siapa kader utamanya untuk bertahan di Kota Medan. Pilihan Soetarto hal yang mutlak dan harus dilakukan PDIP, sehingga jika akhirnya Bobby maju pada Pilgubsu Tahun 2023 akan datang, maka PDIP tidak kehilangan sosok kader sebagai cikal bakal menggantikan Bobby dari walikota.

Penulis adalah analis komunikasi politik, pengasuh mata kuliah komunikasi Politik dan Sekretaris Prodi S2 Komunikasi dan Penyiaran Islan (KPI) UINSU Medan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2