Shin Tae-yong & Timnas Indonesia
Oleh Muhammad Alkaf

  • Bagikan

Walau hasilnya Indonesia tetap gagal juara karena pertandingan berakhir dengan hasil imbang. Namun, hal demikian cukuplah membuat kita bernafas lega untuk mengatakan kalau Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong memiliki masa depan yang cerah

Penghelatan Piala AFF 2020 usai sudah. Hasilnya, kita sudah mengetahui bersama: Timnas Indonesia lagi-lagi menjadi runner-up untuk keenam kalinya. Final AFF 2020, yang turnamennya dilaksanakan tahun 2021 dan final terakhir di tahun 2022, seperti melengkapi kedukaan dari final-final sebelumnya.

Mulai dari pagelaran final Piala AFF tahun 2000, 2002, 2004, 2010, dan 2016. Namun, tidak seperti final Piala AFF 2010 yang berhasil membuat satu Indonesia sesak nafas karena gagal di saat Timnas begitu diunggulkan. Pada gelaran kali ini, kegagalan Indonesia disambut dengan senyum yang mengembang.

Tidak ada caci maki dari netizen Indonesia yang dikenal galaknya minta ampun itu. Tidak pula ada yang patah hati sampai tidak bisa tidur berhari-hari. Serta, tidak pula melahirkan konten-konten satire atau sarkas mengenai cara Timnas bermain bola. Semuanya menyambut dengan gembira. Bersorak sorai kegirangan melihat capaian timnas Indonesia kali ini.

Bagaimana tidak, pada piala AFF 2020 ini, Timnas datang dengan skuad muda. Dapat dikatakan, Shin Tae-yong membawa hampir 80% pemain di bawah umur 23 tahun. Masih muda belia.

Ditambah, sepeninggal Luis Milla, pelatih yang dicintai dan mencintai Indonesia itu, Timnas Indonesia jadi pesakitan. Lihat saja dalam babak kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022, Indonesia jadi sasaran empuk negara lain, yang celakanya datang dari tim Asia Tenggara.

Dari delapan kali bermain, hanya sekali meraih poin imbang. Itu pun setelah Shin Tae-yong mengambil alih kursi kepelatihan. Dengan keadaan demikian, jangan ditambah tentang kondisi liga sepak bola di Indonesia yang masih acak kadut, Timnas Indonesia tiba di singapura.

Berada di grup B, Indonesia diremehkan. Tidak hanya oleh Vietnam – sang juara bertahan – atau Malaysia – sang musuh bebuyutan – bahkan juga oleh Laos, tim yang di masa lalu, dari zaman Fachry Husaini sampai dengan Bambang pamungkas selalu jadi bulan-bulanan Timnas.

Tidak ada yang menjagokan Indonesia “U-23” ini akan tampil baik. Namun, pada dua pertandingan awal, Timnas Indonesia bertanding dengan impresif. Dua tim lemah di Asia Tenggara dihajar habis-habisan.

Laos yang awalnya ikut meremehkan Timnas dipaksa minta ampun dengan skor telak 5-1. Begitu juga dengan Kamboja yang dikalahkan dengan angka mencolok 4-2. Namun, bukankah itu hanya Kamboja dan Laos. Ujian berikutnya ketika melawan Vietnam.

Dalam tiga tahun terakhir, negara ini selalu menjadi momok bagi Timnas Indonesia. Belakangan ini malah, Timnas Indonesia lebih nyaman berjumpa dengan Thailand daripada melawan tim yang dilatih saudara sebangsa dan setanah air Shin Tae-yong: Park Hang-seo.

Empat kali pertemuan terakhir, dua kali di Sea Games 2019 dan dua kali di babak kualifikasi Piala Dunia 2022, Indonesia selalu kalah. Namun, di tangan Shin Tae-yong, situasi berubah. Vietnam ditahan imbang. Hasil imbang dengan rasa kemenangan.

Asa mulai terbangun. Tim yang sebelumnya diremehkan mulai diperhitungkan. Puncak gongnya ketika melawan Malaysia. Tetangga yang paling berisik kalau dalam urusan sepak bola, tentu saja, dan hal lainnya. Seperti kata pepatah bijak, kita bisa saja memilih teman, tetapi tidak bisa memilih tetangga. Begitulah hubungan Indonesia dengan Malaysia terutama dalam sepak bola.

Untuk gelaran sepak bola, Malayasia boleh menepuk dada. Di turnamen Piala AFF saja, mereka sudah sekali menjadi pemuncak. Untuk Sea Games, Malaysia telah memenangkan emas cabang sepak bola sebanyak enam kali berbanding dengan Indonesia yang hanya dua kali saja.

Belum lagi, berkali-kali Malaysia menjadi tim yang mengganggu secara langsung bagi Indonesia untuk menjadi pemuncak di level Asia Tenggara. Seperti pada final Sea Games 1979 dan 2011, serta final Piala AFF 2010.

Karena itu laga melawan Malaysia selalu menjadi berbeda dibandingkan ketika melawan negara-negara lain di wilayah ASEAN. Sampai-sampai, Evan Dimas mengatakan, sebelum pertandingan, kalau melawan Malaysia merupakan urusan harga diri.

Benar saja. Pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi. Malaysia memang berhasil mencetak gol terlebih dahulu, tetapi hasil akhir untuk Indonesia, bahkan dengan skor yang meyakinkan.

Setelah itu, Indonesia mulus ke final dengan mengalahkan tuan rumah melalui pertandingan yang paling dramatis selama sejarah PialaAFF. Di final, Indonesia berjumpa Thailand. Tim yang matang dan berpengalaman.

Di hadapan Thailand, pada final leg-1, Indonesia seperti sekumpulan anak muda yang diajari cara bermain sepak bola. Asnawi dan teman-temannya seperti lupa cara bermain sepak bola seperti yang sudah mereka lakukan pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Mereka selalu kalah dalam perebutan bola, passing yang tidak menemui sasaran, transisi permainan yang lambat, dan hampir tidak bisa merebut bola. Akhirnya, gawang Nadeo – yang tampil menawan ketika melawan Singapura – dibal-bal tanpa ampun oleh pemain Thailand.

Selidik punya selidik, permasalahan utama timnas di final leg-1 adalah tentang mental bertanding. Mereka gugup berada di final. Hal yang mungkin tidak mereka pikirkan akan dicapai.

Sampai kemudian kita menyaksikan bersama, final leg-2, Timnas kembali menjadi dirinya. Sepanjang babak pertama, kita menyaksikan Timnas yang bertanding dengan spartan, berani merebut bola, body charge, pelanggaran kecil tapi penting, passing yang akurat, berani mengambil peluang, dan transisi yang cepat.

Walau hasilnya Indonesia tetap gagal juara karena pertandingan berakhir dengan hasil imbang. Namun, hal demikian cukuplah membuat kita bernafas lega untuk mengatakan kalau Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong memiliki masa depan yang cerah.

Tetapi rasa haru dan bahagia yang dialami oleh segenap insan Indonesia ini, tidak boleh melenakan karena hal-hal tak terduga yang bisa terjadi di masa depan. Kecurigaan ini wajar muncul atas nama pengalaman.

Shin Tae-yong harus diingatkan lebih dini. Apalagi, dalam tahun ini, ada beberapa turnamen penting: Piala AFF U-23, Sea Games di Vietnam, Kualifikasi Piala Asia, dan Piala AFF 2022.

Pertama, persoalan akut dari federasi yang tidak bisa ditebak arah anginnya. Pengalaman ini yang kita saksikan selama lebih dari dua dekade. Federasi memiliki hobi unik: mengganti pelatih di tengah jalan. Tanpa angin tanpa hujan, pelatih yang baru melek diganti tanpa ampun.

Kasus Luis Milla yang paling menyita perhatian penggemar sepak bola Indonesia. Di saat kita sedang bahagia melihat timnas bermain sepak bola secara apik, baik fisik, skill, maupun mental, federasi memutuskan untuk tidak melanjutkan kontraknya.

Fans di Indonesia tidak ingin terjadi hal serupa untuk Shin Tae-yong. Jadi, belum usai gelaran Piala AFF 2020, tagar demi tagar untuk mempertahankan pelatih asal Korsel itu bermunculan. Desakan itu tampaknya berhasil. Sejauh ini, federasi masih kukuh untuk mempertahankan Shin Tae-yong.

Kedua, ancaman predator konten. Kita semua masih ingat histeria Piala AFF 2010 di Jakarta. Di saat gelar juara belum di tangan, timnas Indonesia sudah dirayakan bak pemenang medan perang. Hasilnya kita tahu, Indonesia takluk di tangan Malaysia.

Predator konten ini beragam rupa, ada pejabat setempat yang melakukan pansos melalui pemain Timnas dari daerahnya, ada konten kreator yang membuat liputan terhadap pemain dan kehidupan pribadinya, dan iklan-iklan produk yang tidak ada hubungannya dengan lapangan sepak bola.

Semuanya seperti berlomba-lomba untuk menina bobokkan pemain. Etos mereka dibunuh. Spirit mereka dibungkam. Shin Tae-yong harus memiliki skema untuk melawan serangan predator konten ini. Jangan sampai sistem dan budaya baru yang sedang dia bangun, hancur berantakan gara-gara frekuensi pendek para predator konten itu.

Ketiga, masih amburadulnya pelaksanaan kompetisi di Indonesia. Mungkin Indonesia sedikit dari negara yang kompetisinya kacau balau. Padahal dahulu, ketika kompetisi masih dibagi antara amatir (Perserikatan) dan semi professional (Galatama), wajah sepak bola Indonesia lumayan tampil cerah.

Dua medali Sea Games 1987 dan 1991 buah dari bangunan kompetisi demikian. Sekarang malah semakin anjlok. Mulai dari klub yang kelabakan mengikuti kompetisi, standar skill dan fisik yang tidak jelas, dominasi pemain asing terhadap pemain lokal, dan belum lagi isu pengaturan skor dan juara.

Keadaan-keadaan demikianlah yang harus membuat Shin Tae-yong harus memutar otak. Sebab bila tidak, penggemar timnas Indonesia akan kembali lemas sekujur badan melihat kegagalan dan kegagalan yang ada. Malah, bisa-bisa kita akan terbiasa dengan itu.

Penulis adalah Dosen IAIN Langsa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *