Waspada
Waspada » Sejarah Dan Pembangunan Nasional
Headlines Opini

Sejarah Dan Pembangunan Nasional

Para pengelola pembangunan yang tuna sejarah mengabaikan pentingnya bangunan bersejarah dengan cepat merubuhkannya demi untuk berdirinya bangunan modern yang mengalirkan keuntungan ekonomi

 

Sejarah adalah ingatan kolektif masa lalu. Masa lalu adalah peristiwa sejarah yang pernah terjadi dan tidak pernah terulang kembali. Sejarah yang bertutur peristiwa masa lalu selalu merekam dan mencatat bermacam kejadian yang menghampiri masyarakat.

Bermacam peritiwa sejarah terkait persoalan sosial, ekonomi, budaya dan politik seperti kekerasan, pembantaian, pemberontakan atau gerakan sosial lainnya sering menjadi perhatian.

Peristiwa atau kejadian masa lalu dicatat dan ditulis oleh pujangga, pelancong, pejabat pemerintah, penyebar agama, penulis sejarah dan sebagainya. Karya atau tulisan dari banyak orang itulah tidak saja memuat para penguasa atau orang besar.

Melainkan berbagai peristiwa sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang berlangsung di masyarakat mana pun tersebar dan dibaca orang banyak. Terutama setelah diperkenalkan budaya tulis sehingga berbagai peristiwa yang berlangsung di belahan dunia manapun dapat dibaca jauh di luar batas wilayahnya.

Dengan demikian, bangsa yang pernah memiliki peradaban besar di jagad raya ini dapat dibaca, dipelajari dan dimengerti bangsa lainnya. Lantaran itu, perubahan sosial, budaya dan politik di China, Eropa, Timur Tengah, serta belahan dunia lainnya yang mengubah jalan dunia dapat dipelajari bangsa lain melalui sumber tertulis.

Peradaban dan peristiwa besar yang melintas dan bertahan dari berbagai bangsa serta bergemuruhnya peristiwa sejarah yang mengubah kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik bangsa-bangsa dunia dapat dipelajari dan dimengerti melalui sejarah.

Dari sana bangsa-bangsa lain dapat memetik pelajaran dan inspirasi yang tak ternilai harganya untuk perbaikan dan kemajuan bangsa saat menapaki pembangunan dan perubahan bangsa. Dari sejarah bangsa lain dapat dipejarai tantangan, hambatan dan peluang suatu bangsa menuju bangsa yang berkeadaban dan demokratis.

Jika bangsa menuju masyarakat modern dan berkeadaban harus memerkuat pondasi pembangunan nasionalnya. Pembangunan nasional sejatinya didasarkan atas nilai kesejarahan dan nilai budaya bangsa.

Sebagai bangsa mempunyai pengalaman sejarahnya masing-masing. Meski memiliki pengalaman sejarahnya sendiri dengan berbagai keunikannya, aspek kesejarahan menjadi penerang dalam pembangunan nasional.

Tanpa mendasarkan pengalaman kesejarahan sebuah bangsa tidak akan mampu bertahan dan kuat dalam menghadapi tantangan dan hambatan dalam pembangunan nasional.

Pengalaman pembangunan nasional di negara ini sejak awal sampai sekarang menempatkan pembangunan ekonomi sebagai arus utama pembangunan. Sewaktu Orde Baru mengawali pembangunan nasional lebih mengutamakan pembangunan ekonomi yang yang bersumbu dari paradigma pembangunanisme (developmentalisme) yang diimpor dari pengalaman pembangunan Barat (Amerika Serikat).

Pembangunanisme merupakan paradigma pembangunan kapitalistik yang mengandalkan modal (kapital) besar dan perusahaan multinasional dalam menggerakkan pembangunan. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi didorong bergeliat menopang pembangunan.

Kebudayaan yang menjadi nilai orientasi masyarakat dikesampingkan malah ditinggal jika tidak mendukung pembangunan ekonomi. Nilai-nilai budaya yang melekat di masyarakat, jika dianggap tidak kompatibel dengan pembangunan ekonomi diabaikan karena tidak dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

Mengarusutamakan pertumbuhan ekonomi menjadi panglima mendatangkan persoalan dalam memajukan bangsa. Kebudayaan makin hari makin tertinggal bahkan menjauh dalam arus utama pembangunan.

Kebudayaan tidak berfungsi sebagai obor arah pembangunan nasional. Sama seperti kebudayaan, sejarah yang menjadi pengalaman kolektif bangsa juga ditinggalkan dalam pembangunan nasional.

Sejarah bangsa mulai masa awal terjadinya perpindahan bangsa, kedatangan agama, terbentuknya kerajaan kebanggaan bangsa, munculnya jalur rempah (maritim), kedatangan bangsa barat dan kolonialisme, perlawanan terhadap kolonialisme.

Juga munculnya kesadaran berbangsa, bertumbuhnya organisasi, lahirnya media cetak, kehadiran sarekat dan organisasi massa, tulisan produk pendiri bangsa, perdebatan menubuhkan bangsa, menegakkan kemerdekaan dan siasat keluar dari krisis berbangsa.

Selain itu, eksperiman berdemokrasi sampai peralihan kekuasaan yang menentukan arah bangsa merupakan muatan sejarah yang dilambari pengalam tak ternilai harganya dalam mengisi perjalanan bangsa. Semua ini merupakan kekayaan khasanah sejarah bangsa.

Namun karena pembangunan nasional mendahulukan pembangunan ekonomi menyebabkan nilai budaya dan kesejarahan tertinggal dalam pembangunan nasional. Dimensi kesejarahan kian hari kian terpinggirkan dalam pembangunan nasional yang menyebabkan tereduksinya nilai kemanusiaan dalam pembangunan dalam semua aspek kehidupan.

Pembangunan di kota besar mendongkrak berdirinya gedung modern menjulang ke atas. Pembangunan perkantoran, perumahan modern dan elite, pusat bisnis , perumahan mewah, apartemen, perbelanjaan modern (mal) yang berada di jantung kota acap menggusur dan menghilangkan situs sejarah (bangunan bersejarah).

Inspirasi

Peninggalan bangunan bersejarah masa pra ssejarah dan kolonial yang sebagian besar bertebaran di jantung kota, satu demi satu tercerabut dari lokasinya karena digunakan dan diganti infrastruktur modern.

Para pengelola pembangunan yang tuna sejarah mengabaikan dan tidak menghiraukan pentingnya bangunan bersejarah dengan cepat merubuhkannya demi untuk berdirinya bangunan modern yang mengalirkan keuntungan ekonomi.

Pembangunan kota yang lapar tanah ditambah lagi dengan pengelola pembangunannya yang tuna sejarah menyebabkan dimensi kesejarahan semakin terabaikan dalam pembangunan kota. Kehadiran gedung modern yang indah lebih diprioritaskan karena mencerminkan simbol-simbol modern sebagai pertanda kemajuan dan modernisasi kota.

Dalam situasi seperti inilah terlihat pembangunan kota menampilkan wajah modern dan metropolitan, tetapi di waktu yang bersamaan aspek kemanusiaan dan sosio historis kota semakin tercerabut dalam derap pembangunan kota.

Hampir semua pembangunan kota di seluruh negeri berjalan seperti ini. Ini terjadi lantaran pembangunan kota memola rancang bangun pembangunan nasional.

Tidak dapat dimungkiri pembangunan nasional mengkreasi ketegangan dan konflik sosial. Tanah sebagai alas hidup rakyat selalu tergusur hanya lantaran diabdikan untuk kepentingan beroperasinya korporasi besar.

Rakyat yang tanahnya tergusur atas nama pembangunan jika bertahan akan menghadapi persoalan dengan aparatur pengelola pembangunan yang di masa Orde Baru selalu beroleh tekanan dan intimidasi dari aparat keamanan.

Demikian juga lokasi bangunan bersejarah yang tak ternilai harganya acap menghilang akibat dilahap modal besar. Menghilangnya dimensi kesejarahan semisal bangunan besejarah merupakan awal terkikisnya jati diri bangsa.

Narasi sejarah bangsa amat kaya dengan pelajaran berharga sehingga dapat menjadi sumber inspirasi dalam rancang bangun pembangunan nasional. Sejatinya dari pengalaman sejarah bangsa dapat menjadi inspirasi upaya penyelesai ketegangan dan konflik horizontal yang terjadi akibat dari pengelolaan pembangunan.

Di Afrika Selatan sewaktu mengawali membangun bangsa lewat pendekatan sejarah berhasil menyelesaikan persoalan rasisme dan diskriminasi sosial yang menyelimuti bangsa ini ratusan tahun lamanya.

Ketika bangsa ini menghadapi ketegangan ideologi yang berujung dengan pecahnya turbulensi politik 1965 yang menghilangkan ratusan ribu korban, upaya rekonsiliasi bangsa sampai saat ini masih belum selesai. Pendekatan sejarah dalam menuntaskan rekonsiliasi belum bekerja dengan baik.

Bangsa yang menjadi modern jika mengabaikan dimensi kesejarahan dalam menjalankan pembangunan nasionalnya akan mengalami hambatan sosial dan politik menuju bangsa bermartabat.

Bangsa ini masih menyimpan sisa ketegangan politik akibat dialektika perjalanan bangsa jika dimensi kesejarahan dimaksimalisasikan untuk berdamai dengan sejarah akan semakin kokoh dalam menjalankan pembangunan nasional di masa depan. Waspada

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2