Waspada
Waspada » Refleksi Kritis Peran KAHMI
Headlines Opini

Refleksi Kritis Peran KAHMI

Oleh Sugiat Santoso, M.SP

Korps Alumni HMI (KAHMI) pada awalnya merupakan wadah kekeluargaan alumni HMI yang lahir pada Kongres HMI VIII tahun 1966 di Solo. Melalui Munas Alumni HMI 15 September 1966 KAHMI kemudian disahkan menjadi salah satu Badan Khusus HMI sebagai tempat informasi sekaligus berfungsi sebagai wadah konsultasi.

Meskipun lebih bernuansa “paguyuban”, keberadaan KAHMI sangat diperhitungkan baik level regional maupun nasional. Jejaring KAHMI terdapat pada semua level dan semua lini baik pemerintahan maupun swasta. KAHMI juga berperan dalam konteks politik, anggota KAHMI hamper ada pada semua partai.

Demikian juga keberadaan jejaring HMI menyebar di berbagai ormas Islam baik Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan ormas besar islam lainnya. Sehingga gerak anggota KAHMI menjadi sorotan karena memiliki pengaruh yang besar di masyarakat. Akan tetapi, peran besar KAHMI untuk terus menjaga komitmen Kebangsaan sekaligus Keislaman di Indonesia menemukan tantangan yang besar pula.

Tahun 2021 seharusnya menjadi momentum KAHMI untuk melakukan refleksi prioritas perjuangan untuk dapat menjadi solusi permasalahan di masa yang akan datang. Tantangan ini hadir dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Revolusi industri 4.0 yang berbasis pada teknologi menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang harus dapat dioptimalkan oleh anggota KAHMI.

Industri 4.0 menuntut penguasaan teknologi pada bidang internet, cloud computing, augmented reality, big data, cybersecurity dan banyak lagi. Penguasaan kompetensi ini menjadi penting untuk dapat menjaga eksistensi KAHMI bagi negeri ini. Transformasi yang menjadi keniscayaan, mengutip Kuhn dalam karya The Structure of Scientific Revolutions, yang mengedapankan sifat perubahan ilmu.

Kuhn meyakini terdapat proses keilmuan berjalan. Ilmu. Pengetahuan selalu berubah mengikuti perubahan zaman yang kemudian diistilahkan olehnya sebagai paradigma. Paradigma terus berubah menyesuaikan zaman, proses perubahan keilmuan dimulai dengan tesis dari apa yang diyakini kemudian dipertentangkan oleh anti tesis yakni keyakinan yang lain.

Tesis dan antithesis kemudian melalui tahap dialektika, kemudian disusul dengan munculnya keyakinan baru yakni sintesis. KAHMI telah melalui banyak perubahan mulai dari awal pendiriannya, KAHMI di zaman orde baru, KAHMI pada zaman reformasi dan pada masa revlousi industry 4.0. KAHMI sedang dalam proses memasuki tahap adaptasi dengan era indsutri 4.0. Hal ini tercermin dalam Rakernas III KAHMI tanggal 15 Januari 2021.

Untuk pertama kalinya, Rakernas KAHMI dilaksanakan secara daring menggunakan video conference. Pembukaan Rakernas yang dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo ini. Presiden mengharapkan KAHMI terlibat dalam pengembangan terobosan di bidang SDM, teknologi dan wirausaha di Indonesia. Jokowi juga mengharapkan KAHMI terlibat dalam modernisasi dan moderasi dalam keberagaman beragama. Kedua poin penting ini merupakan prioritas utama dalam organisasi KAHMI, yaitu Keislaman dan Kebangsaan.

Namun, industri 4.0 mengharuskan KAHMI untuk bergerak beradaptasi dengan perubahan. Seperti yang diungkapkan oleh Kuhn di atas bahwa keilmuan terus berjalan yang disebut paradigma. Pada titik ini, KAHMI diharapkan mampu untuk mengadopsi perubahan zaman tersebut dengan menyesuaikan tujuan HMI itu sendiri.

Langkah strategis KAHMI untuk mewujudkan Masyarakat Cita, masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT di era disrupsi 4.0 dapat mengadopsi proses ‘taking benefit from unpredictable future, drive the future with empathy . Secara sederhana dapat diwujudkan dengan melakukan kolaborasi dalam setiap elemen yang terdapat di tubuh KAHMI.

Melaksanakan sinergitas KAHMI dengan pemerintah, BUMN, swasta, institusi Pendidikan, media massa dan lainnya. Proses kolaborasi ini juga membutuhkan penguatan kompetensi anggota KAHMI dalam penguasaan teknologi, jiwa wirausaha dan karakter cita.

Langkah strategis KAHMI di era disrupsi 4.0 dapat diwujudkan dengan kompetensi kepemimpinan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut World Economic Forum 2020 kompetensi yang harus dimiliki pada era revolusi industry saat ini adalah kemampuan analisis dan inovasi yang baik, kemampuan belajar secara aktif, kreatif, kemampuan teknologi, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan emosional serta kemampuan melakukan kolaborasi. Waspada

Penulis adalah Alumni Magister Studi Pembangunan USU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2