Waspada
Waspada » Ramuan Tradisional Masa Pandemi
Headlines Opini

Ramuan Tradisional Masa Pandemi

Oleh Budi Agustono

Dengan berkembangnya ramuan (obat) tradisional tidak pelak akan berkembang pula pengetahuan tradisional masyarakat untuk memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan kesehatan nasional

Covid-19 yang mereorganisir pengelolaan kesehatan, merusak ekonomi dan melesatkan perubahan sosial di jagad raya sampai saat ini belum ada tanda-tanda melandai alias penurunan. Bukan saja belum ada sinyal penurunan penularannya , tetapi di waktu yang sama dari berbagai negara terutama dari negeri Nusantara ini justru sedang berlangsung kenaikan angka penularan yang relative tinggi.

Dari berbagai daerah memasuki Januari 2021 masyarakat yang ter (di) tular Covid-19 terus melonjak naik sehingga rumah sakit kewalahan menampung penderita penyakit ini, malah banyak rumah sakit yang menolak karena kekurangan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Di tengah meningginya penularan virus yang mematikan ini, berita menggembirakan menghampiri masyarakat, pemerintah telah mendatangkan dan melakukan vaksinisasi guna menekan penyebaran virus. Mulai dari presiden, pejabat publik, selebriti dan tenaga kesehatan telah divaksin.

Diharapkan sebaran vaksin akan segera ke khalayak luas sehingga secepatnya dapat menekuk virus ini agar terkendali. Meski vaksinasi telah dan sedang dilakukan, tetapi tidak serta merta orang yang divaksin bebas dari serangan Covid-19. Jika longgar mematuhi protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas) orang yang divaksin dapat tertular kembali. Dengan lain kata mematuhi protokol kesehatan merupakan kunci memangkas penularan Covid-19.

Sejak Covid-19 mengharubiru jagad raya, temuan baru dalam bidang kesehatan (medis) terus berlangsung. Penelitian obat modern, penditeksian peralatan kesehatan dan sebagainya sedang berlangsung untuk menekan laju penularan virus ini. Pada saat pengembangan riset kesehatatan sedang berjalan, pengobatan tradisional seperti pemakaian ramuan (obat) tradisional yang mudah ditemukan di semua wilayah bumi Nusantara yang digunakan dari generasi ke generasi yang diramu, diolah dan dipraktikkan untuk pencegahan dan penyembuhan bermacam penyakit sampai diterapkan dan dilestarikan oleh masyarakat.

Khasiat tanaman ramuan (obat) yang dipraktikkan dalam kehidupan keseharian yang telah berlangsung lama dapat dilihat dari film silat atau kungfu. Dalam setiap kali pertarungan jika ada yang terluka akibat sabetan benda tajam, keracunan atau meredakan penyakit tertentu pengobatannya selalu diberi minum ramuan (obat) tradisional atau menempelkan ramuan obat di bagian tubuh yang terluka.

Cerita film silat adakalanya beradasar cerita nyata dan fiktif, tetapi penyembuhan para petarung yang terluka selalu menggunakan cara pengobatan tradisional yang bahan bakunya diramu dari jenis tanaman tertentu. Sampai sekarang jika ada film silat para petarung dan pendekar yang terluka tetap menggunakan pengobatan ramuan (obat) tradisional.

Dari generasi ke generasi sampai sekarang ramuan (obat) tradisional masih tetap dipakai, dipraktikkan dan dilestarikan masyarakat. Tanaman ekaliptus, jahe (merah), kunyit, temulawak, buah merah, sereh, daun salam, pandan, pala, cengkih, sambiloto, brotowali, bawang putih, daun sirih, dan sebagainya merupakan ramuan (obat) tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit dan memerkuat daya tahan tubuh.

Jahe (merah) dapat mengurangi batuk, ekaliptus untuk masuk angin dan menahan serangan virus, bahkan saat ini tanaman ekaliptus sebagai ramuan utama minyak kayu putih secara luas digunakan untuk penyembuhan infeksi Covid-19.

Di samping ini kunyit untuk penyakit lambung dan pencernaan, buah mereh untuk memerkuat daya tahan tubuh, daun salam untu penderita darah tinggi, sambiloto unuk malaria dan di Thalaind digunakan pengobatan penyembuhan Covid-19.

Ramuan (obat) tradisional ini masih dikonsumsi masyarakat luas. Malah belakangan ramuan tradisional yang berasal dari ragam tanaman atau tumbuhan yang terdapat di berbagai daerah ekstraknya dipasarkan untuk pengobatan penyakit tertentu dengan olahannya yang lebih modern sesuai dengan medikasi modern.

Belum Terkendali
Ramuan (obat) tradisional tidak saja ekstraknya menghiasi dalam pengobatan modern, juga acap disediakan di hotel ternama untuk pelayanan tamu. Saat ini hotel menyediakan kunyit, temu lawak dan beras kencur untuk tamunya. Setelah minum kunyit percernaan atau lambung terasa lebih nyaman dan imunitas tubuh meningkat.

Belum lagi para penjaja jamu yang mudah dijumpai di berbagai tempat, dengan botol-botol berisi ramuan tradisional (jamu) menjajakannya dari satu pasar ke pasar lain. Peminat ramuan (obat) tradisional yang dijajakan ini yang kemudian disebut jamu ini cukup banyak pembelinya karena dianggap dapat menyembuhkan dan menghindari penyakit tertentu, malah ada yang memercayainya jika dikonsumsi secara teratur ramuan (obat) tradisional ini dapat menurunkan berat badan agar tubuh menjadi langsing (singset).

Untuk tanaman tertentu jika dikonsumsi dapat menambah keperkasaan lelaki. Begitulah khasiat ramuan (obat) tradisional dan tanaman tertentu lainnya yang masing-masing mempunyai daya sembuh sebagai pengobatan penyakit.

Ketika dunia dilanda Covid-19 yang berjalan dua belas bulan penemuan obat dan vaksin untuk mengerem penyebaran virus telah dan sedang dilakukan. Saat ini vaksin telah memasuki ruang publik. Vaksinasi di belahan dunia sedang berlangsung. Bersamaan dengan vaksinisasi, konsumsi ramuan (obat) tradisonal makin hari makin meningkat.

Meningginya penggunaan ramuan (obat) tradisional atau ekstrak tanaman obat tertentu yang sebelumnya banyak dikonsumsi masyarakat sewaktu Covid-19 melibat negara-negara dunia yang sampai hari ini masih belum terkendali penyebarannya, makin besar dikonsumsi masyarakat.

Saat ini tanaman ekaliptus yang menjadi bahan utama minyak kayu putih pemakaiannya makin meluas di masyarakat. Minyak kayu putih dianggap dapat menghambat penyebaran Covid-19 jika sering ditempelkan ke hidup, malah beberapa tetes minyak kayu putih menambah aroma uap air mendidih yang dihirup melalui hidung dikeluarkan dari mulut dan dihirup dari mulut dikeluarkan lewat hidung.

Semasa wabah Covid-19 masyarakat banyak melakukan senam pernafasan melalui uap panas membersihkan dan membunuh virus di tenggorokan dan hidung. Minyak kayu putih juga selalu disaput ke hidung untuk memfungsikan indera perasa dan indera pengecap yang hilang akibat terinfeksi virus. Karena khasiatnya minyak kayu putih yang merupakan ramuan (obat) tradisional makin meluas dipakai publik terutama penyembuhan penderita Covid-19.

Di saat penularan terus meninggi dan di waktu yang sama dengan berbagai upaya menekan pergerakan virus, masyarakat banyak yang mengonsumsi jahe (merah) yang sering dicampur dengan sereh atau pandan direbus lalu air rebusan hangat diminum yang dipercaya berkhasiat membersihkan virus di kerongkongan, membantu kesehatan pencernaan dan meningkatkan imunitas tubuh.

Juga ramuan (obat) tradisional semisal kunyit, cengkih, pala, bawang putih, temulawak, sambiloto, daun sirih dan banyak lagi tiada hentinya dikonsumsi masyarakat yang memercayainya bermanfaat untuk kesehatan tubuh agar terhindar dari serangan oasukan virus. Pun ekstrak tanaman yang menjadi bahan dasar ramuan (obat) tradisional untuk pencegahan dan pengbatan penyakit di masa pandemi global dicari dan dikonsumsi masyarakat untuk menjaga kesehatan tubuh.

Tingginya masyarakat mengonsumsi ramuan (obat) tradisional sejatinya mempromosikan tanaman berkhasiat ini menjadi salah satu jenis pengobatan dan penyembuhan berbagai jenis penyakit, apalagi jika dilakukan uji klinis tentu akan menjadi andalan dalam dunia pengobatan yang berdampingan dengan pengobatan modern.

Jika khasiat telah dibuktikan secara uji klinis akan mengintensifkan budi daya tanaman ramuan obat ini agar dikelola semakin baik. Tersebab itu, pemerintah (daerah) harus turun aktif pembinaan, penglolaan dan promosi tanaman ramuan (obat) tradisional ini agar produktivitasnya tetap terjaga.

Dengan berkembangnya ramuan (obat) tradisional tidak pelak akan berkembang pula pengetahuan tradisional masyarakat untuk memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan kesehatan nasional—untuk membantu pengurangan penularan Covid-19 yang sampai hari ini masih terus berbiak tanpa terkendali di berbagai belahan dunia. Waspada

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2