Waspada
Waspada » RAMADHAN DAN KEDEWASAAN BERAGAMA
Opini

RAMADHAN DAN KEDEWASAAN BERAGAMA

RAMADHAN DAN KEDEWASAAN BERAGAMA
Oleh : H. Hasan Bakti Nasution

Tanpa terasa Ramadhan tahun 2021 telah tiba. Kehadirannya tentu direspon ragam sikap anak manusia, termasuk oleh umat Islam sendiri. Bagi yang haus beribadah (‘ubbad), Ramadhan adalah momen menambah ibadah, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Ini sejalan dengan tawaran pahala ibadah puasa Ramadhan dan ibadah lainnya selama Ramadhan, sepertti shalat Taraweh, membaca al-Qur’an, bersedekah, daan sebagainya. Bagi seorang ekonom, Ramadhan adalah momen pengembangan bisnis dalam banyak sektor, mulai dari makanan dan minuman sampai pakaian lebaran dan pernik-pernik lebaran lainnya. Maka iapun sibuk dalam berbisnis dan tidak jarang justru melupakan Ramadhan. Dan lain-lainnya.

Tulisan ini mengambil judul kedewasaan beragama, karena memang mau tidak mau Ramadhan membutuhkan kedewasaan beragama.
Mengapa !.
Tentu terkait dengan ragamnya pemahaman yang kemudian berujung pada pengamalan beragama yang berbeda, sejak penetapan awal Ramadhan apakah rukyah (melihat bulan) atau hisab (perhitungan) sampai pada penetepan akhir Ramadhan atau idul fitri, yang juga antara hisab dan rukyah.

Di antara akan banyak persoalan yang membutuhkan kedewasaan beragama, seperti jumlah rakaat shalat taraweh, metode pelaksanaannya, pakai zikir atau tidak, dan sebagainya.

MAKNA KEDEWASAAN BERAGAMA
Dewasa adalah sebuah periode kehidupan manusia pasca usia anak-anak dan remaja.

Jika masa anak-anak semua persoalan disikapi dengan serba bermain, kemudian masa remaja dilewati pebuh dengan pancaroba sesuai dengan masa pubertas yang dilewati, maka dewasa adalah masa yang penuh kehati-hatian sehingga setiap mengambil keputusan diawali dengan pertimbangan matang.
Kedewasaan beragama dengan demikian ialah sikap beragama yang penuh dengan kehati-hatian sehingga penuh dengan kearifan.

PRINSIP KEDEWASAAN BERAGAMA
Lalu apa hubungannya dengan puasa ?. Tentu berkaitan erat, yaitu mengamalkan puasa dibutukan sikap dewasa. Kedewasaan beragama dibangun di atas beberapa prinsip, di antaranya:
1. Semua pemahaman memiliki landasannya masing-masing.

Apapun sikap dan praktek Ramadhan pastilah memiliki landasannya asing-masing. Misalnya, pilihan melihat bulan sebagai dasar penetapan awal dan akhir Ramadhan atau syawal merujuk kepada dalil al-Qur’an, yaitu surat yang artinya: “Barangsiapa “. Kemudian hadits yang artinya: “berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah dengan melihat bulan”.

Pemahaman yang menggunakan hisab juga menggunakan ayat dan hadits yang sama, namun dengan pengertian yang berbeda. Kata ‘syahida” dalam al-Qur’an tersebut dimaknai secara majazi, yaitu menyaksii dengan ilmu, yaitu ilmu hisab. Begitu juga makna hadits, kata “melihat” diartikan juga secara majaziy, yaitu melihat dengan ilmu, bukan mata kepala, yaitu ilmu hisab. Oleh karena itu, dua pandangan memiliki landasannyaa masing-masing.

2. Hanya berbeda pemahaman. Prinsip kedua ialah kita hanya berbeda dalam pemahaman, karena sumber yang digunakan adalah sama.

Secara umum, perbedaan pemahaman terjadi paling tidak karena dua hal, pertama, teks al-Qur’an memberi ruang untuk berbeda, karena ada ayatnya yang memiliki makna yang pasti (qath’iy, muhkamat) dan ada yang memiliki makna ganda (zhanniy, mutasyabihat), seperti kata “syahida” dan ra’a” (melihat), yaitu bisa melihat dengan mata kepala dan bisa dengan ilmu.

Kedua, subyektifitas manusia sebagai penafsir atas nash. Subyektifitas terjadi karena perbedaan kemampuan dan latar belakang penafsir. Dalam teori filsafat dikenal apa yang disebut dengan “logosentris”, yaitu cara pandangnya masing-masing individu sesuai latar belakang dan situasi historis yang dihadapi dalam keseharian.

3. Walau berbeda pemahaman, kitab sucinya sama. Kendati terjadi perbedaan pemahaman dan kemudian pengamalan, namun kitab sucinya sama, yaitu al-Qur’an. Begitu juga haditsnya sama, yaitu hadits Rasulullah Saw. Oleh karena itu, perbedaan jangan terlalu membuat sikap saling ….

4. Perbedaan adalah rahmat. Hidup adalah pilihan, dengan munculnya banyak pemahaman yang berujung pada keragaman pengamalan akan memberi ruang bagi umat Islam untuk memilih yang sesuai dengan selera dan apa yang dihadapi. Misalnya dalam hal shaat Taraweh, 11 atau 23 atau 38 rakaat, disesuaikan saja dengan nyamannya. Jika memiliki banyak kesibukan atau sangat capek, shalat 11 saja.

Namun jika memiliki waktu luang, bisalah 23 atau bahkan lebih. Toh, Ramadhan adalah bulan ibadah.
5. Prioritas. Dalam hidup harus ditetapkan prioritas apa yang didahulukan dan dikemudiankan. Dalam hal ini, prioritas ialah puasa dan shalat taraweh. Bahwa bagaimana caranya menjadi persoalan kedua, karena yang penting orang puasa atau shalat Taraweh.

APA YANG HARUS DILAKUKAN
Dari gambaran di atas, maka yang harus dilakukan ialah menikmati ragam perbedaan dengan memandangnya sebagai pilhan-pilihan. Dalam hidup harus ada pilihan, termasuk dalam hal melaksanakan ibadah. Pilihan tentu diarahkan pada sesuatu yang dianggap sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang humanis, egaliter dan bersaudara.

Pilihan mana yang diambil harus memiliki pertimbangan, sehingga memiliki alasan dari sebuah sikap dan pengamalan agama yang ditetapkan.
Sebab itu harus dikembangkan sikap aposteriori, bukan apriori. Apriori artinya langsung memvonis salah atau benar, sedangkan aposteriori, melihat terlebih dahulu argumen dan sudut pandang yang digunakan.

Jika sudah ditemukan, maka pandangannya harus dihargai. Inilah maksud hadits bahwa perbedaan adalah rahmat (Ikhtilafu ummatiy rahmat).

PENUTUP
Dengan kedewasaan ini daharpkan akan mampu menangkap nilai-nilai kesucian agama yang humanis, egaliter dan sarat persaudaraan.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2