PTM Terbatas, Pembiasaan Disiplin Prokes
banner 325x300

PTM Terbatas, Pembiasaan Disiplin Prokes

  • Bagikan

Guru harus menjadi ujung tombak dalam menanamkan karakter kebiasaan baru masa pandemi kepada anak-anak. Hal ini menuntut guru punya cara pandang dan sikap yang benar terhadap Covid-19

Pemerintah tetap bertekad mulai tahun ajaran baru tahun 2021/2022 akan melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas di tengah wabah Covid-19 yang cenderung meningkat.

Ini berarti tantangannya adalah upaya meminimalisir bahkan menihilkan potensi penularan Covid-19 di sekolah. Agar PTM terbatas berlangsung efektif. Lantas, bagaimana caranya?

Sekolah yang akan melaksanakan PTM terbatas, konsep utamanya yaitu, masyarakat termasuk siswa yang sehat harus dipertahankan agar tidak jatuh sakit. Mengingat bila sudah positif Covid-19, biaya yang dibutuhkan cukup besar. Dan pasien positif Covid-19 dengan proses isolasi mengalami tekanan psikis.

Pun Prosedur Operasional Standar (POS) penanganan Covid-19 di sekolah harus lengkap dan dipastikan berjalan. Tim Satgas Covid-19 sekolah harus rajin melakukan tracing dan testing kepada guru, murid, dan semua pihak yang terlibat dalam belajar mengajar. Bila perlu berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 kecamatan melakukan testing, tracing serta treatment.

Sekolah melalui tim satgas Covid-19 mengontrol secara ketat pelaksanaan protokol kesehatan (Prokes) dan pergerakan siswa mulai berangkat dari rumah, belajar di sekolah dan kembali ke rumah.

Persoalan paling berbahaya adalah hilangnya disiplin siswa menjalankan prokes serta belum menjadi kebiasaan sehari-hari. Di banyak kasus, klaster sekolah terjadi karena mengabaikan prokes dan tidak menaati SOP PTM.

Pada PTM terbatas tidak perlu dirancang untuk menyelesaikan materi pembelajaran apalagi mencapai target kurikulum. Yang paling realistis PTM terbatas dijadikan model penanaman karakter anak untuk melawan penyebaran Covid-19. Selama ini sekolah dipercaya menjadi tempat yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter, begitupun menanamkan nilai prilaku kebiasaan baru dalam era pandemi Covid-19.

Apalagi alokasi waktu pembelajaran pada PTM terbatas hanya seminggu 2 kali pertemuan dengan maksimal 2 jam sehari. Bisa dibayangkan mengajar dengan waktu yang sangat terbatas, jelas ketuntasan materi sulit dicapai. Akan lebih bagus bila PTM terbatas ini dijadikan sarana untuk pembiasaan disiplin Prokes.

Bila melihat sedikit waktu pembelajarannya, janganlah berfikir akan mengajarkan matematika dengan seabrek soal dan rumus-rumusnya pada PTM terbatas. Tetapi berfikirlah bagaimana mengajarkan dan menanamkan kepada anak didik untuk betah dan terbiasa menggunakan masker ketika berada di luar rumah.

Tidak perlu anak dipaksa untuk menyelesaikan soal-soal latihan, tetapi tanamkan untuk selalu mencuci tangan dan menghindari kerumunan. Ajarkan peserta didik untuk peduli lingkungan dan berani menyampaikan jika menemukan teman atau keluarga yang tidak taat pada protokol kesehatan.

Jadi, saya pikir akan lebih bagus bila PTM terbatas diprioritaskan pada pembentukan karakter saja dulu. Meski wacana yang dimunculkan pemerintah adalah mengurangi ancaman learning loss atau menurunnya kualitas pembelajaran.

Sekali lagi pembelajaran tatap muka hanya 25% dari jumlah siswa, 2 jam di sekolah, dan seminggu hanya 2 kali tidak akan banyak memberikan dampak pada kualitas pembelajaran. Karena pembelajaran sejatinya tetap jarak jauh.

Makanya, kualitas pembelajaran jarak jauh perlu diperkuat dan ditingkatkan. Lebih baik dari yang sudah lalu. Sedangkan proses PTM terbatas dipergunakan untuk penguatan pendidikan karakter, terutama karakter kebiasaan baru di era wabah Covid-19. Sebab pandemi ini diperkirakan masih akan panjang.

Apalagi diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang sering abai dengan penerapan Prokes. Maka yang diperlukan sekarang adalah model pusat pendidikan pembentukan karakter yang dapat taat Prokes. Dan tempat pusat pendidikan karakter sebagai ikhtiar memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang efektif adalah sekolahan.

Habituasi

Guru harus menjadi ujung tombak dalam menanamkan karakter kebiasaan baru masa pandemi kepada anak-anak. Hal ini menuntut guru punya cara pandang dan sikap yang benar terhadap Covid-19.

Jika pemahaman guru baik dan ditunjang dengan sikap yang baik serta taat Prokes, maka akan mudah untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Bukankah satu contoh sikap jauh lebih baik dari seribu nasehat.

Tentu ini menjadi tugas pemerintah baik pusat maupun daerah yang mempunyai wewenang untuk melatih dan mengarahkan guru-guru. Agar para guru punya komitmen terhadap habituasi Prokes. Habituasi, merujuk KBBI V, merupakan pembiasaan pada, dengan, atau untuk sesuatu; atau penyesuaian supaya menjadi terbiasa (terlatih) pada habitat dan sebagainya. Artinya, guru menjadi contoh pembiasaan disiplin prokes bagi anak didik serta masyarakat atau khalayak umum.

Komitmen para guru terhadap habituasi prokes dimulai dari keikutsertaannya dalam vaksinasi. Sampai 8 Juni masih 1,7 juta guru dan tenaga kependidikan yang divaksin. Padahal targetnya 5,6 juta guru dan tenaga kependidikan divaksin sebelum tahun ajaran baru Juli 2021. Semoga ini hanya karena ketersediaan dan distribusi vaksin. Bukan karena guru menolak vaksin akibat cara berfikir yang salah terhadap Covid-19.

Lalu, meskipun telah divaksin, para guru tetap menaati Prokes. Di sekolah, guru rutin mengecek suhu tubuhnya. Kemudian telaten memakai masker, menghindari kerumunan, dan mencuci tangan dengan sabun. Bagi guru yang kondisi badannya kurang fit, dianjurkan beristirahat di rumah dan tidak perlu berangkat ke sekolah. Dengan begitu, habituasi prokes di kalangan guru terwujud dengan maksimal.

Habituasi guru dalam disiplin prokes akan berdampak pada siswa. Para siswa akan bersedia tanpa keterpaksaan menjalankan prokes lewat keteladanan guru. Mereka akan suka rela melakukan 5M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Dengan demikian, segenap warga sekolah sudah membentuk pola kebiasaan baru yang antiCovid-19. Harapannya tercipta PTM yang aman dari Covid-19. Semoga begitu.

Penulis adalah Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim.

  • Bagikan