Waspada
Waspada » Pilkada 2020
Headlines Opini

Pilkada 2020

Oleh Effan Zulfiqar Harahap

Oleh Effan Zulfiqar Harahap
Oleh Effan Zulfiqar Harahap

Fenomena calon tunggal bersifat anamoli dan preseden buruk praktik demokrasi. Semakin berkurangnya jumlah Paslon dalam Pilkada, membuktikan Pilkada tak lebih dari praktik bagi-bagi kekuasaan

Berdasarkan hasil hitung cepat dipastikan Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution, anak dan menantu Presiden RI Joko Widodo menjadi pemenang Pilkada Kota Solo dan Medan. Gibran unggul telak 87,15% suara. Bobby susah payah memperoleh 55,29% suara. Keluarga elit lain yang berbau politik kekerabatan yang menang adalah Hanindhito Himawan Permana anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, mengalahkan kotak kosong di Pilkada Kediri.

Politik kekerabatan paling unik ada di Provinsi Banten. Anak, menantu dan ibu ikut kontestasi Pilkada dan menang. Mereka adalah Pilar Saga Ichsan calon Wali Kota Tangerang Selatan, anak Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menang periode kedua. Pilar juga kemenakan Wali Kota Tangerang Airin Rachmi Diany dan sepupu Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy. Di Kabupaten Pandeglang ada Tanto Warsono Arban suami anak kandung Ratu Atut Chosiyah, Andiara Aprilia terpilih untuk periode kedua sebagai Wakil Bupati.

Pilkada Tangeran Selatan, Serang dan Pandeglang sebenarnya dilakoni keluarga dari trah mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Meskipun Atut mendekam di penjara, ternyata kekuatannya masih mencengkeram kuat di Provinsi Banten.

Di Pilkada Tangerang Selatan terjadi pula pertarungan trah politik lokal dan nasional. Saraswati Djojohadikusomo kemenakan Menhan Prabowo Subianto dan Siti Nur Azizah anak Wapres Ma’ruf Amin. Keduanya adalah pesaing yang dikalahkan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichasan. Artinya jauh lebih kuat trah Ratu Atut yang mampu menumbangkan sekaligus dua calon yang berasal dari keluarga elit nasional.

Masih ada 50 kandidat lain terlibat politik kekerabatan memenangi Pilkada 2020. Antara lain calon Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati. Ikfina adalah istri mantan Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa yang masih dipenjara. Kemenangan Ikfina bakal mengukuhkan dinasti politik keluarga suaminya di Mojokerto Raya. Mengingat adik ipar Ikfina, Ika Puspitasari adalah Walikota Mojokerto sekarang.

Di Pilkada 2020 politik kekerabatan juga tidak selamanya menang ada juga yang harus tenggelam seperti Saraswati Djojohadikusomo kemenakan Menhan Prabowo Subianto atau Siti Nur Azizah anak Wapres Ma’ruf Amin. Bahkan ada keluarga petahana yang dianggap paling kuat ditumbangkan kandidat yang tidak diperhitungkan.

Ini terjadi di Pilkada Bandung, Paslon Dadang Supriatna-Syahrul Gunawan mengalahkan Kurnia Agustina-Usman Sayogi. Kurnia adalah istri Bupati Bandung petahana Dadang Naser yang sudah dua periode menjabat. Kurnia juga anak mantan Bupati Obar Sobarna (2005-2010). Kurnia sebelumnya diprediksi menggantikan suaminya ternyata kekalahan.

Terkait kemenangan Gibran dan Bobby menjadi bukti semakin eksisnya trah Jokowi di kancah politik lokal. Sejarah akan mencatat Jokowi satu-satunya Presiden petahana yang anak dan menantunya bersamaan menang di Pilkada sejak digulirkan 2005. Kemenangan Gibran dan Bobby sejak awal diprediksi karena kuatnya identitas sebagai keluarga Presiden dan faktor itu tidak dimiliki Paslon pesaingnya.

Pilkada 2020 pastinya semakin menguatkan politik kekerabatan dan oligarki. Meski peraturan membolehkan sejatinya praktik politik kekerabatan dan oligarki terutama yang berasal dari keluarga petahana yang masih berkuasa tidak mesti berlanjut terus. Dalam jangka panjang akan merusak iklim demokrasi di tingkat lokal, bila yang diharapkan demokrasi yang sehat sebagai fondasi membangun demokrasi nasional yang sehat pula.

Konflik kepentingan (conflict of interest) sangat potensial terjadi di antara mereka yang masih punya hubungan kekerabatan. Di sisi lain dari sudut etika berdemokrasi sangat tidak elok. Pastinya selama kaderisasi dan sistem rekruitmen di internal parpol tidak mengalami perubahan, maka akan selamanya politik kekerabatan menjadi alternatif terbaik bagi Parpol dalam mengusung Paslon.

Pandemi, Golput & Kotak Kosong

Sekalipun Pemerintah mengklaim tidak ada klaster baru Covid-19 pascaPilkada di daerah, terbantahkan dengan temuan di Provisi Baten. Menurut juru bicara Satgas Penaganan Covid-18 Provinsi Banten, Ati Pramudi Hastuti ada tiga daerah menjadi klaster baru. Tiga daerah itu Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang dan Pandeglang. Ketua KPU Kabupaten Tangerang Selatan, Bambang Dwitoro meninggal dunia akibat virus Covid-19. Penyebaran virus sudah terjadi saat tahapan deklarasi Paslon, pendaftaran dan kampanye.

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menyebut temuan sebanyak 1.172 petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) yang ternyata masih bertugas di TPS meskipun diketahui positif Covid-19. Temuan itu dibantah Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena menurut mereka tidak jelas dimana lokasi TPS yang petugasnya positif Covid-19 tersebut.

Sejak awal sudah diperkirakan dari 100,3 juta warga yang memiliki hak suara tidak semuanya akan menggunakan hak pilihnya. Kekhawatiran terpapar Covid-19 meskipun sudah diterapkan protokol kesehatan ketat tetap menjadi salah satu faktor penyebab berkurangnya pemilih datang ke TPS. KPU menargetkan tingkat partisipasi pemilih 77,5% dan dalam kenyataannya angka itu tidak tercapai.

Di daerah zona merah, jumlahnya pemilih yang ke TPS hanya setengah dari yang terdaftar sebagaimana Kota Medan, Depok, Tangerang Selatan, Kediri, Surabaya dan Denpasar. Tingginya jumlah warga tidak memberikan suara (Golput), tidak saja karena kekhawatiran Covid-19. Tetapi karena Paslon yang ditawarkan tidak menarik minat pemilih dan ketidakyakinan adanya perubahan siginifikan setelah terpilihnya kepala daerah baru.

Makin ramainya Paslon tunggal dibandingan tiga putaran Pilkada sebelumnya. Pilkada serentak 2015 ada 3 Paslon tunggal, tahun 2017 menjadi 19 Paslon tunggal, tahun 2018 naik menjadi 16 Paslon tunggal. Di Pilkada 2020 menjadi 25 Paslon tunggal, yang merata di seluruh Indonesia. Dari 25 Paslon tunggal, semuanya menang mutlak. Hanya di Kabupaten Humbang Hasundutan yang ada perlawanan dari kotak kosong.

Sejak kehadiran Paslon tunggal, baru di Pilkada Kota Makasar 2018 kotak kosong yang menang. Kotak kosong berhasil menumbangkan Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi meski diusung 10 partai besar. Selain munculnya fenomena calon tunggal, jumlah Paslon yang ikut Pilkada juga mulai berkurang. Hampir 50 daerah hanya diikuti dua Paslon. Selebihnya diikuti hanya tiga atau empat Paslon. Tidak ada lagi daerah yang jumlah Paslonnya di atas empat seperti sebelum Pilkada serentak.

Banyak faktor penyebab munculnya calon tunggal dan menciutnya jumah Paslon yang ikut kontestasi. Mahalnya ongkos politik dan makin praktisnya cara berpikir Parpol. Termasuk kuatnya hitung-hitungan kalah menang, menyebabkan Parpol cenderung memilih koalisi gemuk meskipun visi dan misi Parpol berbeda. Karena visinya hanya satu bagaimana bisa menang Paslon yang didukung dalam Pilkada. Hanya itu.

Terlepas dari kebijakan praktis yang dilakukan Parpol mengusungan Paslon. Fenomena calon tunggal tetap sesuatu yang bersifat anamoli dan preseden buruk terhadap praktik demokrasi. Demikian juga semakin berkurangnya jumlah Paslon dalam Pilkada, membuktikan Pilkada tak lebih dari praktik bagi-bagi kekuasaan. Sementara nilai-nilai demokrasi yang seharusnya didiseminasikan dan disosilisasikan Parpol lewat Pilkada gagal total. Waspada

Penulis adalah Staf Pengajar FISIP dan Kepala Pusat Studi Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan – Kota Padangsidimpuan.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2