Waspada
Waspada » Pesona Wisata Takengon-Tanah Gayo Oleh Drs Indra Muda Hutasuhut, MAP
Opini

Pesona Wisata Takengon-Tanah Gayo Oleh Drs Indra Muda Hutasuhut, MAP

Penulis adalah Dosen Fisipol-UMA, Mahasiswa Program Doktoral Study Pembangunan USU.

 

Ketika memasuki Kota Takengon, suasana udara akan terasa dingin terutama pada malam hari. Warganya terbiasa dengan stelan jaket, switeer bahkan membuat kayu bakar di ruang terbuka untuk menghangatkan tubuh

Etnis Gayo merupakan salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Daerah domisilinya meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, dan Kabupaten Aceh Timur.

Mereka umumnya menganut agama Islam yang sudah dianut oleh penduduknya secara turun temurun, sedangkan bahasa sehari-hari yang dipergunakan adalah bahasa Gayo.

“Terkait dengan sejarah masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah masih belum terungkap dengan jelas. Bagi masyarakat Gayo sendiri, zaman purbanya dikenal lewat cerita dari mulut ke mulut, baik tentang asal usul, adat istiadat, seni sastra, dan lain-lainnya” (Cut Banta Rafinis, 2004).

Etnis Gayo dapat dikatakan sebagai etnis yang memiliki pandangan luas dan terbuka terhadap etnis lainnya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Mereka dapat hidup saling berdampingan dengan etnis-etnis pendatang, misalnya dengan etnis Jawa, etnis Minangkabau, etnis Tionghoa, etnis Batak/Mandailing dan beberapa etnis lainnya.

Kerukunan hidup antara etnis Gayo dengan etnis Jawa sempat terganggu semasa berlakunya status Daerah Operasi Militer dari tahun 1988-1998. Pada masa pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, banyak warga sipil menjadi korban penyiksaan dan korban jiwa akibat aparat militer salah sasaran, dan yang menjadi korbannya kebanyakan adalah masyarakat Gayo.

Dengan kondisi ini, orang Gayo beranggapan bahwa orang Jawa menjadi penunjuk jalan untuk menangkap atau mengeksekusi mereka dengan tuduhan menjadi pasukan atau partisipan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), meski tuduhan tersebut terkadang keliru.

Stagnasi sosial yang dialami masyarakat Gayo saat menyandang status Daerah Opersai Militer (DOM), sangat sulit untuk membedakan siapa yang menjadi kawan ataupun lawan. Doktrin militer lekat dengan alasan untuk memburu pasukan Gerakan Aceh Merdeka. Setelah penandatanganan perjanjian damai MoU antara NKRI – GAM tahun 2006 di Helsynki-Filandia, maka konflik Aceh secara berangsur-angsur mulai pulih, termasuk di tanah Gayo.

Pesona Wisata Tanah Gayo-Takengon
Akses menuju tanah Gayo-Takengon dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu jalur udara dan jalur darat. Jalur udara dapat dilayani melalui penerbangan dari Bandara Kualanamu Kabupaten Deli Serdang dan Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh Besar – Bandar Udara Rambele yang terletak di Gampong Bale Atu Kabupaten Beneer Meriah.

Namun operasional pesawat hanya dapat dilayani pesawat berbadan kecil dan sedang pada hari-hari tertentu seperti, Garuda Indonesia berbadan sedang, Susi Air, Wing”s, karena panjang landasan masih terbatas. Sedangkan akses jalur darat dapat ditempuh dari Kabupaten Bireun dan dari Simpang Kertas Kraff Aceh (KKA) Kota Lhokseumawe.

Para pelancong yang datang dari arah Kota Banda Aceh, biasanya akan memilih jalur Banda Aceh via Bireuen menuju Takengon. Waktu tempuh dengan menggunakan mobil pribadi adalah sekitar 7-8 jam dengan jarak tempuh lebih kurang 314 Km. Rute perjalanan melalui jalur ini tergolong sangat ekstrim, variasi jalan dengan berbagai ketajangan tikungan dan jurang senantiasa akan menemani perjalanan kita hingga sampai ke Kota Takengon.

Karenanya apabila membawa kenderaan sendiri harus dengan kondisi fisik prima karena jurang yang dalam senantiasa mengintai keselamatan perjalanan. Namun demikian, pemandangan alam di kiri-kanan jalan akan membuat suasana perjalanan terasa sejuk, nyaman dan dingin yang menyelimuti hutan tanah Gayo hingga sampai ke kota Takengon.

Bagi pelancong yang berasal dari Kota Medan atau jalur pantai Timur dan Utara Aceh, biasanya akan lebih memilih rute perjalanan dari Simpang KKA Kota Lhokseumawe. Dari Simpang KKA-Takengon jarak tempuh lebih kurang 100 Km dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.

Ini berarti dapat mengirit waktu sekitar 1,5 jam dibandingkan dengan melalui jalur Brireuen-Takengoin yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Rute perjalanan melaui Simpang KKA-Takengon juga jauh lebih bersahabat. Tikungan yang tajam dan curam tidak sebanyak dan se-ekstrim jalur Bireuen-Takengon.

Ketika memasuki Kota Takengon, suasana udara akan terasa dingin terutama pada malam hari. Dengan suasana udara tersebut, tidaklah berlebihan apabila Takengon disebut banyak pihak sebagai kota dingin, sehingga warganya terbiasa dengan stelan jaket, switeer bahkan membuat kayu bakar di ruang terbuka untuk menghangatkan tubuh.

Untuk mencari tempat penginapan sesuai dengan selera pelancong sangat mudah, karena berbagai jenis penginapan banyak tersedia mulai dari Wisma, Hotel, Homestay seperti, Grand Bayu Hill, Renggali Hotel, Uning Riverside Homestay, Pondok Wisata, Biehomstay, QQ Homestay, Verdy Wisma dan lain-lain. Tarif yang ditawarkan sangat terjangkau, mulai dari Rp150.00 – Rp1.800.000 per malam.

Setelah beristirahat satu malam di Kota dingin Takengon, salah satu tujuan wisata yang paling cocok dikunjungi adalah Bukit Pantan Terong. Momentum yang paling tepat ke tempat ini terutama pada pagi hari. Yaitu pada saat awan belum pecah sehingga kota Takengon akan terlihat dari Ketinggian Bukit Pantan Terong yang berada di bawah awan.

Dari puncak bukit ini akan jelas kelihatan suasana Kota Takengon, pemandangan indah Danau Lut Tawar dan pegunungan yang mengelilingi Kota Takengon. Ditambah dengan suasana sinar matahari pagi dengan warna kemerahan, akan menambah pesona kota Takengon yang dingin.

Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Kota Takengon ke puncak Bukit Pantan Terong lebih kurang 15 menit dengan kenderaan roda empat. Namun demikian, para pelancong yang ingin menuju tempat ini harus memeriksa kelengkapan kenderaannya terlebih dahulu karena jalan ke puncak Bukit Pantan Terong sangat terjal dan tikungan tajam.

Tempat wisata lain yang pantas dikunjungi apabila telah tiba di Kota Dingin Takengon tentunya adalah objek wisata Goa Putri Pukes. Goa ini mengisahkan sebuah legenda seorang putri Pukes yang berubah menjadi batu karena tidak menuruti petuah ibunya agar tidak menikah dengan pria asing.

Ketika memasuki goa, kita akan dipandu oleh seorang guide yang menceritakan legenda putri pukes. Meski legenda yang diceritakan sangat sulit diterima ratio manusia, tapi setidaknya suasana dalam goa dapat memberikan aura mistik yang kuat bagi yang memasukinya sehingga menjadi pengalaman yang tidak terlupakan sepanjang masa.

Tempat wisata lain yang cocok dikunjungi di Kota Dingin Takengon tentunya adalah Danau Lut Tawar. Danau ini memiliki luas sekitar 70 km2, panjang 17 km dan memiliki lebar seluas 3 km. Danau ini memiliki tingkat kedalaman 50-80 meter yang berada di ketinggian perbukitan 1.100 meter.

Lokasi wisata ini banyak dikunjungi warga sekitar pada pagi hari saat libur dan pada sore hari. Disekitar danau sudah banyak tersedia tempat bersantai bagi pengunjung seperti, kedai kopi yang menyediakan kopi khas Gayo, tempat-tempat duduk untuk bersantai sambil memandang di sekitar danau.

Bagi pengunjung yang ingin berkeliling danau dengan perahu motor, sudah banyak tersedia sarana untuk itu yang dikelola oleh masyarakat setempat. Demikian juga bagi anak-anak yang ingin memanfaatkan sepeda air, wahana untuk itu sudah banyak tersedia dengan alat pengaman yang baik.

Bagi penikmat touring yang ingin kembali ke Kota Medan atau ke Banda Aceh, dapat memanfaatkan perjalanan melalui Aceh Selatan. Bagi mereka yang ingin kembali ke Banda Aceh, dapat menempuh lintas pantai Selatan-Barat yaitu Tapak Tuan, Meulaboh, hingga melalui puncak Geurute.

Sedangkan bagi pelancong yang ingin kembali ke Medan dapat melalui perjalanan dari Aceh Selatan, Blangkejeren, Kutacane, Simardinding, Sidikalang hingga menembus kota Berastagi. Sepanjang perjalanan para pelancong tentunya akan dimanjakan dengan pemandangan indah, sejuk dan nyaman.

Pengakuan beberapa pelancong yang sudah mengunjungi Kota Dingin Takengon-Tanah Gayo, tanpa rasa malu mengatakan memiliki animo kuat untuk datang kembali…..Selamat jumpa kembali Kota Dingin Takengon-Tanah Gayo…

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2