Waspada
Waspada » Perubahan Sosial Pascatsunami Aceh
Headlines Opini

Perubahan Sosial Pascatsunami Aceh

Oleh Drs Indra Muda Hutasuhut, MAP

Sebelum tsunami, masih mudah kita jumpai rumah-rumah penduduk dihiasi alunan suara merdu anak-anak melantunkan ayat suci Al-Qur’an usai shalat magrib, tapi tergantikan oleh suara televisi, alunan musik dan canda melalui handphone

Tragedi Minggu pagi 26 Desember 2004 merupakan peristiwa yang tidak terlupakan masyarakat Aceh. Terutama bagi penduduk di kawasan Pantai Barat dan Selatan dalam radius 10 Km dari bibir pantai. Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter dan tsunami telah meluluhlantakkan rumah penduduk, sarana peribadatan, infrastruktur masyarakat dan korban jiwa yang tidak ternilai harganya.

Trauma yang paling dirasakan masyarakat atas peristiwa tersebut adalah rasa takut berkepanjangan tanpa mengetahui kapan bencana berakhir. Rasa takut dan trauma diperparah kondisi keamanan mencekam akibat konflik bersenjata yang tak kunjung selesai. Penulis sebagai korban langsung peristiwa tersebut, tetap memiliki fobia apabila melihat gelombang laut besar dan getaran gempa, meski gempa dan tsunami Aceh sudah 16 tahun berlalu.

Pascabencana dasyat yang menelan korban jiwa sekitar 230.000 jiwa ini, Aceh menjadi perhatian dunia, Aceh menjadi sorotan dunia. Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudoyono ketika itu menetapkan tiga hari berkabung pascakejadian 26 Desember 2004. Perhatian dunia untuk membatu derita masyarakat Tanah Rencong cukup besar. Bantuan datang dari berbagai negara baik dalam bentuk pangan, sandang maupun dalam bentuk bantuan untuk evakuasi mayat.

Kondisi Aceh pasca dua minggu Tsunami, benar-benar sangat mencekam. Mayat berserakan di berbagai tempat, puing-puing bangunan berserakan dimana-mana, jeritan histeris anak memanggil-manggil orang tuanya, lalu lalang penduduk mencari anggota keluarganya yang hilang. Kondisi ini diperparah lagi dengan ulah provokator yang menyebarkan isu bahwa air laut di beberapa tempat di Kota Banda Aceh naik kembali.

Warga yang berada dalam kondisi depresi, trauma dan rasa takut, sangat mudah terprovokasi sehingga melarikan diri ke berbagai tempat tanpa arah untuk menanyakan kebenaran isu tersebut. Mudahnya warga terprovokasi atas isu tersebut terutama disebabkan getaran gempa yang terus belangsung meski dalam skala yang lebih kecil dibandingkan dengan gempa utama pada tanggal 26 Desember 2004.

Relawan yang datang untuk menyalurkan bantuan kepada korban gempa dan tsunami Aceh dihadapkan kepada medan yang sangat berat, karena kondisi jalan dipenuhi oleh mayat, puing-puing reruntuhan bangunan, kayu dan tiang-tiang listrik yang melintang di badan jalan. Para pengungsi umumnya tinggal di tenda-tenda darurat dan tempat-tempat relokasi sementara seperti, gedung sekolah, gedung pemerintah di bawah koordinasi TNI, LSM, Dinas Sosial dan instansi terkait lainnya.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk membersihkan badan jalan, untuk menyalurkan bahan makanan, pakaian, obat-obatan, maka kebutuhan para korban secara perlahan dapat diatasi. Namun, bagi masyarakat yang bermukim di beberapa tempat seperti, Lhoknga, Leupung, Lhoong, Lhokseudu, Krueng Raya, dan lain-lain, para korban terpaksa berjalan kaki ke daerah terdekat untuk memperoleh bantuan.

Karena sulitnya menjangkau daerah tersebut dengan menggunakan transportasi darat sehingga penyaluran bantuan dilakukan melalui transportasi udara dan laut. Penyaluran melalui udara dan laut praktis memakan waktu lebih lama, karena selain medan yang dilalui sangat sulit, keberadaan mereka terpencar-pencar sehingga menjadi kendala bagi relawan mengalokasikan bantuan secara cepat dan merata.

Perubahan Sosial

Selo Sumardjan, mengemukakan “perubahan sosial adalah perubahan lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang berpengaruh pada sistem sosialnya”. Perubahan ini mencakup nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempercepat terjadinya perubahan sosial diantaranya adalah, terjadinya perang atau konflik, pengaruh kemajuan teknologi dan globalisasi, dan terjadinya bencana alam.

Merujuk kepada faktor yang ke-3 (tiga) ini yaitu, terjadinya bencana alam, kini sangat dirasakan masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam. Perilaku, tatanan nilai, dan pola pergaulan masyarakat terutama di daerah terdampak Tsunami seperti Kota Banda Aceh telah banyak mengalami perubahan karena banyaknya arus urbanisasi secara lokal, antar daerah dan dari luar daerah Aceh, sementara penduduk yang kokoh mempertahankan tatanan nilai kearifan lokal Aceh pada masa sebelumnya, sebagian besar menjadi korban Tsunami.

Sebelum peristiwa Gempa dan Tsunami menerpa Nanggroe Aceh, masih mudah kita jumpai rumah-rumah penduduk dihiasi alunan suara merdu anak-anak melantunkan asma Allah melalui bacaan ayat suci Al-Qur’an manakala usai shalat magrib, kini banyak yang tergantikan oleh suara televisi, alunan musik dan canda melalui Handphone.

Ketika azan berkumandang di masjid atau meunasah, aktivitas masyarakat terhenti tanpa komando dan secara spontan mereka bersama-sama menuju tempat ibadah untuk menunaikan shalat berjamaah terutama pada waktu mag’rib. Muda-mudi terutama di perdesaan yang dulunya lekat dengan pakaian yang bercirikan Islam, kini banyak berubah dengan gaun dan celana yang serba transparan.

Musik-musik Aceh yang dulunya berkumandang menghiasi pesta perkawinan atau pada acara-acara tertentu dengan musik rebana, musik nasyid, rafa’i, kini telah banyak tergantikan oleh keyboard. Konon, pada beberapa pesta pernikahan ada yang tertunda karena keterlambatan personil keyboard terlambat tiba di tempat pesta.

Kehidupan sosial masyarakat yang dahulunya santun dalam ikatan pergaulan Islami, kini sudah jauh berubah. Kebiasaan turun temurun masa lalu masyarakat Aceh salah satunya adalah, apabila mengetahui seorang pendatang seakidah dengannya, akan dianggap sebagai saudara kandung dan tidak perlu takut kelaparan karena mereka akan disambut dengan baik.

Kini hanya tinggal kenangan, karena yang terjadi sekarang adalah orang asing yang belum dikenal apabila masuk kampung perlu dicurigai. Hal ini mungkin dampak dari pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) tempo dulu, yang mana pria dewasa Aceh sering dicurigai aparat militer terlibat pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pascagempa bumi dan tsunami tahun 2004, menyebabkan mobilitas penduduk luar Aceh yang besar ke daerah ini, karenanya banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk relokasi Aceh. Dengan mobilitas penduduk tersebut banyak mempengaruhi prilaku sosial masyarakat Aceh yang dibawa oleh kaum pendatang tersebut. Kehidupan modern dengan menggunakan HP, wifi, televisi, pola pergaulan bebas, tumbuh suburnya tempat hiburan seperti cafe, disinyalir menjadi faktor penyebab masjid dan meunasah kian sepi dari jamaahnya.

Konon, pada beberapa tempat di Kota Banda Aceh seperti, terminal labi-labi Keudah, pinggiran jembatan pante perak dan beberapa tempat lainnya di malam hari menjadi tempat transaksi prostitusi dan waria. Suasana kehidupan masyarakat Aceh yang pernah saya alami pada tahun 80-an dengan ciri khas ke-Islamannya, kini tidak saya temukan lagi. WH dan institusi terkait yang bertugas untuk menegakkan sariah Islam sepertinya belum dapat berbuat banyak.

Penutup

Untuk membawa masyarakat Aceh kembali kepada kehidupan yang Islami, damai dan selalu dalam lindunganNya, perlu evaluasi berbagai pihak baik Pemda Aceh maupun seluruh lapisan masyarakatnya. Bumi Aceh yang telah mengilhami perkembangan Islam di Negeri ini adalah titipan Ilahi yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Karenanya, pada peringatan peristiwa Gempa dan Tsunami Aceh yang ke-16 bertepatan tanggal 26 Desember 2020 ini, mari kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan intropeksi diri agar Syariah Islam secara Kaffah tetap terjaga di Bumi Serambi Makkah… Semoga..!. Waspada

Penulis adalah Dosen Fisipol UMA, Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2