Waspada
Waspada » Pers Dan Informasi Publik
Headlines Opini

Pers Dan Informasi Publik

Oleh Muhammad TWH

Hasil karya seorang insan pers jangan dipandang kurang bermanfaat. Mungkin kurang berfaedah di masa sekarang. Tetapi kalau telah melewati sepuluh tahun akan dirasa bermanfaat oleh generasi penerus, apakah berbentuk karya tulis, atau karya yang bersifat monumental

Beberapa hari lalu telah berkunjung ke Medan Komisi Informasi Publik (KIP) dari Riau Dheni Kurnia yang juga Staf Khusus Gubernur Riau. Mereka bergabung dengan tokoh pers dari Sumatera Utara Eddy Syahputra dan Abdul Jalil, sedangkan tokoh pers yang datang dari Aceh adalah Tarmilin Usman Ketua PWI Aceh.

Mereka adalah anggota Komisi Informasi Publik yang ditunjuk oleh Dewan Pers Jakarta untuk memberi penilaian terhadap hasil kerja komisi yang telah bekerja menyalurkan informasi selama ini kepada masyarakat. Apakah informasi yang telah disalurkan selama ini benar atau tidak meleset dari kehendak kode etik jurnalistik dan tetap berada di atas jalur UU pokok pers, serta senantiasa bernuansa “akhlakul karimah” agar disenangi oleh masyarakat banyak.

Rupanya anggota Komisi Informasi Publik ini ketika berada di Medan mempunyai waktu luang untuk berkunjung dan melihat koleksi sejarah pers Sumatera Utara khususnya dan Indonesia umumnya. Yang mengoleksi adalah seoarang wartawan Medan yang telah sepuh. Tempat koleksi itu adalah rumah pribadinya, satu hal yang jarang terjadi.

Kedatangan tamu-tamu dari Aceh, Riau, dan Sumut itu disambut gembira oleh tuan rumah walau harus berada di atas kursi roda. Para tamu itu begitu gembira melihat koleksi surat-surat kabar pertama yang ada di Medan, Aceh, di Indonesia, dan lain-lain.

Ada suatu yang istimewa, ada surat kabar yang terbit setelah dua bulan diproklamirkannya kemerdekaan, yaitu surat kabar “Semangat Merdeka” yang terbit tanggal 19 Oktober 1945 yang dipimpin oleh A. Hasjmy. Peristiwa sejarah yang dialmi oleh harian “Semangat Merdeka” bukanlah mudah, karena pasukan Jepang masih eksis dengan senjata yang lengkap.

Apa sebenarnya terjadi, sehingga begitu Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, begitu pula surat kabar “Semangat Merdeka” terbit. Bagaimana peristiwa ini bisa terjadi? Tamu dari Aceh ketua PWI memandang koleksi surat kabar Aceh pertama dengan penuh perhatian.

Sebab peristiwa sejarah surat kabar “Semangat Merdeka” itu bisa terjadi padahal ketika itu Jepang masih berkuasa. Kepala Radio Jepang di Aceh Hosokioku (Hodoka) bernama Abdurrahman mengusulkan kepada penguasa Jepang, agar pemimpin redaksi surat kabar Jepang “Aceh Sinbun” adalah A. Hasjmy.

Usul tersebut disetujui oleh Jepang. Abdurrahman dan A. Hasjmy menyusun staf redekasi seluruhnya pemuda Indonesia tidak ada seorang pun Jepang dalam redaksi “Aceh Sinbun”. Pemuda Indonesia itu adalah A.G. Mutyara, T.A. Talsya, Abdullah, N.A., dan lain-lain.

Selama Jepang berkuasa, surat kabar Aceh adalah “Aceh Sinbun”, baru dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan terbitlah surat kabar yang menggelorakan semangat kemerdekaan “Semangat Merdeka”. Di masa peralihan itu walaupun masih ada sisa kekuasaan Jepang, tapi semangat kemerdekaan para pemuda bergelora, tidak begitu sulit mengganti surat kabar Jepang “Aceh Sinbun” dengan surat kabar “Semangat Merdeka”.

Setelah melihat surat kabar Aceh pertama “Semangat Merdeka”, ketua PWI Provinsi Aceh Tarmilin Usman melihat tokoh pejuang Sumut yang dipasang di salah satu panel. Seperti tokoh pejuang Sumut Bustanil Arifin, Hasan Perak (ayahanda mantan Gubernur Sumut H. Syamsul Arifin), dan lain-lain.

Ketua PWI Provinsi Aceh itu rupanya tertarik melihat seorang tokoh agak asing, dan bertanya “siapa ini?” Tuan rumah menjawab itu adalah seorang perwira Inggris bernama John Edward yang membelot ke pihak Indonesia, pangkatnya adalah letnan.

Setelah membelot ke pihak Indonesia oleh Kolonel Husin Yusuf Komandan Divisi X pangkatnya dinaikkan menjadi kapten dan sempat menjadi ajudan Kolonel Husin Yusuf. Setelah Radio Rimba Raya mengudara dengan kekuatan pemancar 350 watt, siarannya dapat didengar sampai ke seluruh negara Asia dan Australia.

Setelah John Edward masuk Islam namanya menjadi Abdullah sebagai penyiar tetap Bahasa Inggris. Ada dua orang lagi tentara Inggris keturunan Pakistan yang turut membelot, namanya Chandra dan Abbas. Kedua orang ini menjadi penyiar bahasa Urdu dan bahasa Hindustan.

Dengan siaran khusus bahasa Inggris, Urdu, dan Hindustan dapat dirasakan betapa derasnya informasi perang kemerdekaan yang mengalir ke negeri india, Melayu, Australia, dan lain-lain. Pemancar Radio Rimba Raya yang dibeli oleh Kapten Nip Xarim di Singapura, untuk mencari pemancar waktu itu Nip Xarim dan pasukannya bertugas di Kuala Serapuh Langkat, persiapan pasukannya menghadapi serangan Belanda terhadap Pangkalan Brandan yang bermaksud merebut Tambang Minyak Pangkalan Brandan.

Pemancar Radio Rimba Raya dan studionya ditempatkan di tengah hutan rimba raya di sebuah lembah di tepi sungai. Antenanya disamarkan di sebuah pohon besar dan tinggi. Kedudukan pemancar ini 60 km dari Bireuen menuju Takengon. Karena derasnya informasi dari radio ini Pesawat Mustang Belanda seleweran mencari kedudukan pemancar antara Bireuen dan Tankengon untuk dihancurkan.

Dengan derasnya informasi perang kemerdekaan di Indonesia, Perdana Menteri India Nehru menyelenggarakan Konferensi Asia Mengenai Indonesia yang dilangsungkan di New Delhi tanggal 20 sampai 23 Januari 1949, yang dihadiri oleh seluruh diplomat Asia dan Indonesia.

Hasil Konferensi Asia mengenai Indonesia adalah, tentara Belanda harus ditarik dari Indonesia, seluruh tawanan harus dibebaskan, Ibukota RI harus dikembalikan ke Yogyakarta, Indonesia dan Belanda harus berunding.

Pada tanggal 23 Januari 1949 Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang di Lake Succes selama 5 hari. Hasil keputusan yang diambil oleh Dewan Keamanan PBB serupa dengan keputusan Konferensi Asia mengenai Indonesia, yang bermuara dilangsungkan Konferensi Meja Bundar dengan penyerahan kembali RI kepada Indonesia.    WASPADA

Penulis adalah Veteran Pejuang Kemerdekaan, Wartawan Senior.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2