Perang Saudara (1) Oleh Shohibul Anshor Siregar - Waspada

Perang Saudara (1) Oleh Shohibul Anshor Siregar

  • Bagikan
Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

 

 

Kebanyakan perang saudara terjadi dalam masyarakat relatif miskin… kekurangan ekonomi dan keluhan tentang itu sebagai motif utama

 

Wikipedia tak ingin menghakimi untuk sejumlah istilah yang selalu digunakan banyak pihak tentang perang saudara. Ada kekerapan bergantian dan dipertukarkan antara penggunaan istilah “perang intrastate”, “perang internal”, dan “perang domestik”. Semua istilah itu sah dan dapat difahami apa yang dimaksudkannya.

 

Meski sering juga digunakan secara bergantian “perang saudara”, tetapi “perang internal” dapat digunakan dalam arti lebih luas—mengacu pada konflik apa pun dalam satu negara, terlepas dari partisipasi pasukan sipil. Jadi, perang suksesi apa pun menurut definisi ini adalah perang internal, tetapi tidak harus perang saudara.

 

Wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_civil_wars) menyusun daftar panjang atas berbagai konflik intrastate yang memenuhi definisi yang ditetapkan dalam artikel ini. Dimulai dengan data dari zaman kuno dan abad pertengahan (ancient and medieval).

 

Dinyatakan sebagai “periode gelap” dalam sejarah Mesir kuno (kira-kira 125 tahun, c. 2181-2055 SM). Perang Saudara Kerajaan Tentara Salib Yerusalem antara Raja Baldwin III dan janda Ratu Melisende (1152-1153), Perang Saudara Ordo Livonia dan kota Riga serta Keuskupan Agung Riga (1297-1330), Perang Petani Jerman (1524-1525), Kazakh Khanate (1522-1538), dan lain-lain.

 

Dari zaman modern awal (1550-1800) Wikipedia mencatat Perang Saudara di Vietnam (1533-1789). Perang Agama Prancis (1562-1598) antara umat Katolik dan Huguenot (Protestan Reformed / Calvinis) di Kerajaan Prancis yang diperkirakan menewaskan 3 juta orang (apa yang dianggap perang agama paling mematikan kedua dalam sejarah Eropa). Perang ini hanya dapat dilampaui Perang Tiga Puluh Tahun, yang merenggut 8 juta nyawa,

 

Perang saudara Maria (1568-1573) di Skotlandia yang terjadi setelah pengunduran diri Maria, Ratu Skotlandia, dan pelariannya dari Kastil Lochleven. Waktu itu mereka yang memerintah atas nama putranya yang masih bayi, James VI, bertempur melawan pendukung Ratu, yang diasingkan di Inggris. Pemberontakan Zebrzydowski (1606-1609).

 

Perang Tiga Kerajaan (1639-1651), serangkaian konflik saling terkait di kerajaan Inggris, Skotlandia dan Irlandia (kerajaan terpisah yang memiliki raja yang sama, yakni Charles I), karena masalah pemerintahan dan agama. Perang Saudara Acadian (1640-1645) antara para gubernur provinsi Acadia di Prancis. Gubernur Charles de Saint-Étienne de la Tour (seorang Protestan) telah diberikan satu wilayah oleh Raja Louis XIV, dan Charles de Menou d’Aulnay (seorang Katolik) telah diberikan wilayah lain.

 

Dari era Modern (1800-1945) dicatat antara lain ekspedisi Gutiérrez-Magee (1812-1813) yang dipicu pemberontakan Pastor Miguel Hidalgo y Costilla melawan Royalis Spanyol di Meksiko yang akan memulai Perang Kemerdekaan. Juan Bautista de las Casas (1811) juga memimpin pemberontakan melawan Spanyol di San Antonio, merebut jabatan gubernur Spanyol. Pastor Hidalgo dan de las Casas dan rekan-rekannya dieksekusi.

 

Perang Saudara Argentina (1814-1880) dengan pertarungan utama pada tingkat geografis, Provinsi Buenos Aires melawan provinsi lain di Argentina modern. Pada tingkat politik, Partai Federal versus Partai Unitarian. Penyebab utama konflik adalah sentralisme berlebihan oleh para pemimpin Buenos Aires dan, untuk jangka waktu lama, monopoli pelabuhan Buenos Aires sebagai satu-satunya sarana perdagangan internasional.

 

Peserta pada waktu tertentu termasuk Uruguay, yang merdeka dari Provinsi Bersatu Río de la Plata pada 1828, dan kerajaan Inggris dan Prancis. Terutama dalam blokade Prancis di Río de la Plata 1838 dan blokade Anglo-Prancis dari Río de la Plata yang berakhir tahun 1850.

 

Perang Saudara Yunani (1823-1825) yang memiliki dimensi politik dan regional, karena mengadu Roumeliotes (orang Yunani Kontinental) dan Kepulauan (pemilik kapal, terutama dari pulau Hydra), melawan Peloponnesia atau Moreotes. Revolusi 1830, gelombang revolusioner di Eropa disusul gelombang revolusi lebih dahsyat yang dikenal Revolusi 1848.

 

Rentetan perang Carlist yang berepisode itu (1833-1839, 1846-1849, dan 1872-1876), adalah rentetan perang saudara di Spanyol yang menunjukkan upaya para pesaing untuk berjuang menegakkan klaim atas tahta. Beberapakali selama 1833-1876 para Carlist (pengikut Infante Carlos dan keturunannya) bersatu dengan seruan “Tuhan, Negara, dan Raja”. Berjuang untuk tujuan tradisi Spanyol (Legitimisme dan Katolik) melawan liberalisme.

 

Kemudian republikanisme, dari pemerintah Spanyol saat itu. Perang Carlist memiliki komponen regional kuat (wilayah Basque, Catalonia). Terlebih karena kehadiran rezim yang mempertanyakan pengaturan dan kebiasaan hukum khusus wilayah selama berabad-abad.

 

Tidak semua perang saudara yang dicatat Wikipedia dapat disarikan dalam artikel ini. Di antara yang dikutip, untuk mewakili karakter untuk sebuah analisis penyebab, motif, dan dampaknya. Kristian Skrede Gleditsch (https://www.britannica.com/topic/civil-war) menyebut beberapa hal yang kiranya amat perlu dicermati dalam setiap perang saudara.

 

Pertama, perang saudara tertentu seringkali menggabungkan beberapa elemen. Misalnya, basis etnis dan ideologis. Memang tujuan pemberontak dapat bergeser setiap waktu. Mungkin saja dari pemisahan diri untuk wilayah terbatas menjadi mengendalikan seluruh negara bagian tertentu. Di sini ia memaksudkan penjelasan soal motif dan tujuan perang saudara.

 

Kedua, ketika menelisik tren dari pertengahan abad ke-20 ia menemukan beberapa karakteristik perang saudara. Katanya, tantangan bersenjata untuk otoritas negara sama tuanya dengan negara itu sendiri. Meskipun perang antarnegara relatif sedikit, perang saudara telah menjadi biasa—meskipun konflik antarnegara cenderung singkat, perang saudara sering berlangsung lama, dan kemungkinan besar akan terulang kembali.

 

Ketiga, banyak ahli menganggap konflik sipil baru segera setelah Perang Dingin adalah bukti dunia akan lebih bergejolak dan penuh kekerasan setelah stabilitas jangka panjang.

 

Keempat, meski pun jika diukur dari korban kematian dalam perang saudara umumnya tidak separah perang antarnegara bagian. Namun perang saudara lebih sering dan lebih lama, dan sebagian besar kematian dalam pertempuran sejak Perang Dingin berasal dari perang saudara.

 

Kelima, dampak tidak langsung substansial pada kesejahteraan manusia selain hilangnya nyawa secara langsung begitu besar dengan antara lain penurunan tajam produk domestik bruto dan tidak pernah pulih dari lintasan pertumbuhan ekonomi sebelumnya.

 

Keenam, perang saudara juga mengganggu perdagangan dan investasi dan meninggalkan warisan sosial yang besar pada mantan kombatan yang menganggur dan orang terlantar.

 

Ketujuh, karena itu, konsekuensi negatif dari perang saudara tidak terbatas pada negara yang mengalaminya. Negara tetangga juga menerima imbas dampak ekonomi yang mungkin lebih rentan terhadap kekerasan itu sendiri.

 

Kedelapan, kebanyakan perang saudara terjadi dalam masyarakat relatif miskin. Kontribusi awal mempelajari kekerasan dalam masyarakat cenderung berfokus pada kekurangan ekonomi dan keluhan tentang itu sebagai motif utama.

 

Ted Robert Gurr (1970) dalam “Why Men Rebel” telah berusaha menyoroti ketidaksetaraan dan bagaimana kelompok tertentu dapat melakukan pemberontakan jika mereka tidak puas dengan status ekonomi mereka saat ini (relatif tidak memuaskan) dibandingkan terhadap aspirasi mereka (https://www.routledge.com/Why-Men-Rebel/Gurr/p/book/9781594519147).

 

40 Tahun setelah terbit bukunya, konflik serius kelanjutan terjadi di Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Meski tidak selalu cocok dengan penjelasannya, namun konflik yang terjadi belakangan menjadi momentum Gurr memperkenalkan kembali karya pentingnya.

 

Rasanya, dalam keterbukaan atas berbagai sudut pandang, Why Men Rebel tetap sangat relevan dengan dunia yang penuh kekerasan dan tidak stabil saat ini—dengan pemahamannya yang holistik dan berbasis masyarakat tentang penyebab protes dan pemberontakan politik.

 

Bersesuaian dengan analisis Ted Robert Gurr, James Fearon dan David Laitin (https://www.researchgate.net/publication/2834579_Ethnicity_Insurgency_And_Civil_War) yakin perang saudara pada dasarnya masalah yang inherent dengan keadaan khas negara lemah yang merujuk sangat erat dengan pembangunan ekonomi.

 

Prevalensi perang internal saat ini terutama merupakan hasil akumulasi konflik berkepanjangan sejak tahun 50-an dan 60-an daripada perubahan mendadak terkait sistem internasional baru pasca-Perang Dingin. Mereka menemukan, setelah mengontrol pendapatan perkapita, negara yang lebih beragam secara etnis atau agama tidak lagi mungkin mengalami kekerasan sipil yang signifikan dalam periode ini.

 

Faktor yang menjelaskan negara berisiko mengalami perang saudara bukanlah karakteristik etnis atau agama mereka. Melainkan kondisi yang mendukung pemberontakan. Termasuk kemiskinan, menandai negara lemah secara finansial dan birokrasi juga mendukung perekrutan pemberontak, ketidakstabilan politik, medan berat, dan populasi besar.

 

Dari sini jelas, banyak negara mestinya mementingkan catatan perang saudara yang pernah dialaminya. Mestinya pula tidak berselera untuk selalu berhenti pada penjelasan formal yang tak memuaskan terutama ketika tidak begitu memadai penjelasan yang diberikan tentang mengapa orang harus memberontak dan tak takut perang saudara.

 

 

  • Bagikan