Waspada
Waspada » Peran Generasi Milenial Saat Resesi Ekonomi
Opini

Peran Generasi Milenial Saat Resesi Ekonomi

SAAT ini Indonesia sedang menghadapi resesi ekonomi, keadaan ketika pertumbuhan ekonomi menurun dan berlangsung lebih dari beberapa bulan, biasanya terlihat dalam PDB riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.

Resesi ekonomi sendiri disebabkan oleh penurunan yang signifikan di bidang perekonomian, lebih tepatnya turunnya daya beli masyarakat secara umum dan naiknya angka pengangguran.

Resesi ekonomi tentunya dialami oleh seluruh lini masyarakat Indonesia. Dalam kondisi seperti ini generasi milenial tidak cukup berpangku tangan, tapi harus turun tangan.

Inovasi dari generasi milenial dirasa sangat dibutuhkan guna menyelamatkan perekonomian bangsa.

Generasi milenial hendaknya mulai berpikir tentang risiko keuangan di tengah krisis ekonomi ini dan memanfaatkan kecanggihan teknologi terutama di bidang internet.

Lantas, di tengah resesi ekonomi ini, sebenarnya apa yang sebaiknya dilakukan oleh generasi yang sekarang sedang menjadi harapan bangsa? Umumnya, para milenial memang sudah berpenghasilan.

Namun karena resesi ini, mungkin saja 2020 dapat menjadi tahun terberat untuk mereka. Tentu saja, keadaan resesi ekonomi ini dihadapi oleh semua kalangan masyarakat. Walau demikian, resesi akan memiliki pengaruh besar bagi generasi milenial dalam hal keuangan.

Saat ekonomi memburuk, maka permintaan produk barang dan jasa berpotensi berkurang. Para milenial yang bekerja dalam perusahaan pasti merasakan bahwa dunia usaha juga akan terganggu sebagai hasil. Pendapatan perusahaan akan menurun karena demand yang menurun di pasaran.

Contohnya saja perusahaan penerbangan. Dikarenakan larangan untuk bepergian, jumlah penerbangan harian turun sebanyak 80%. Akibatnya, banyak sekali karyawan seperti pramugari dan pilot yang harus mengalami pemotongan gaji bahkan di-PHK.

Oleh karena itu, krusial bagi para milenial untuk menyiapkan dana darurat dan untuk meningkatkan tabungan. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang ekonominya tidak terdampak, apakah yang harusnya mereka lakukan?

Budaya konsumtif, apakah membantu?

Salah satu solusi yang dapat membantu keadaan resesi sekarang adalah justru untuk memperbanyak belanja. Perlakuan konsumtif tidak selalu buruk, apalagi di kasus seperti sekarang.

Hal ini lebih ditunjukkan untuk para milenial yang tidak terdampak dari segi ekonomi dan sudah mempunyai dana darurat dan tabungan yang cukup, Alangkah baiknya untuk milenial yang ekonominya sudah lapang untuk menunda dulu nabungnya. Bantulah warung-warung, toko-toko, pedagang dan bisnis lokal dengan berbelanja dan menambah perputaran uang.

Untuk penjelasan lebih lanjut, di saat pendapatan masyarakat turun, otomatis daya beli menurun. Sebagai dampak, pendapatan dari usaha-usaha menurun drastis, dan menyebabkan dampak lebih lanjutnya yaitu gulung tikar dan PHK karyawan.

Ketika keadaan sudah stabil dan mulai inflasi lagi, barulah silahkan berhemat lagi. Dengan mendukung usaha lokal, kita dapat membantu pasar ekonomi kita.

Contoh kasus sederhana adalah ketika seseorang membeli makanan dari sebuah warung dari gofood. Warung tersebut bisa terus beroprasi dan membeli bahan-bahan yaitu sayur, ayam, dll dari pasar.

Uangnya masuk ke pasar, kemudian para pedagang pasar dapat meneruskan membeli dari petani.

Dengan demikian, petani dapat menyalurkan uangnya untuk membeli pupuk. Disitulah perputaran uang terjadi.

Oleh karena itu, untuk para milenial yang sudah stabil dan tidak terlalu terpengaruh dengan resesi ekonomi ini, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah untuk menunda menabung dan menaikkan jiwa konsumtif.

Nanti saat keadaan sudah stabil dan mulai inflasi lagi, barulah aman untuk berhemat lagi. Namun untuk sekarang sangat krusial untuk membantu pedagang-pedagang dan usaha lokal untuk bertahan.

Mengatasi Angka Pengangguran

Pandemi Covid-19 tentunya membawa dampak yang besar pada perekonomian dan ketenagakerjaan. Salah satu yang paling major adalah angka pengangguran Indonesia yang mencapai 9,7 juta.

Baik itu dikarenakan banyaknya pekerja yang di-PHK, namun juga lulusan perguruan tinggi yang masuk ke industri ketenagakerjaan di saat sangat sulit untuk mendapat pekerjaan, juga menghitung lulusan SMA dan SMP yang semakin susah mencari profesi tetap. Para milenial yang cerdas tentunya bisa setidaknya mengurangi angka ini.

Sebagai generasi yang terkenal dengan pemikiran yang out of the box, tentunya para milenial dapat menggunakan kesempatan ini untuk mendirikan perusahaan ataupun bisnis start-up sendiri.

Dengan ide-ide kreatif yang dapat menjual, mereka dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan tidak hanya menurunkan angka pengangguran, namun juga menambah perputaran ekonomi negara.

Selain itu, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi diri sendiri menganggur. Di saat pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam diri dirumah, kreativitas dapat disalurkan ke platform-platform yang dapat memonetasi dan menghasilkan uang.

Alternatif lain bisa dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi dan media sosial menggunakan sistem dropship dimana tidak ada modal yang harus dikeluarkan. Kemudian yang terakhir yaitu dengan berinvestasi.

Berinvestasi tentunya tidak bisa dilakukan dengan sembarangan dan butuh banyak riset terlebih dahulu. Namun untungnya bagi para milenial, di zaman sekarang banyak sekali informasi gratis yang tersebar di segala platform media yang dapat membantu.

Tentu saja dengan beberapa hal ini perekonomian Indonesia dapat terbantu karena menambah perputaran uang dalam negeri dan mungkin saja akan mengembalikan ekonomi Indonesia menjadi lebih stabil.

Dengan demikian, generasi milenial adalah generasi baru harapan bangsa. Kemungkinan kemajuan negara Indonesia akan lebih besar, suatu saat nanti generasi milenial akan menaikkan taraf hidup bangsa Indonesia di mata dunia.

Penulis adalah mahasiswa di Sampoerna University, Jakarta

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2