Waspada
Waspada » Pembubaran Kuda Kepang Oleh Budi Agustono
Opini

Pembubaran Kuda Kepang Oleh Budi Agustono

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

 

Seharusnya tatkala kuda kepang tampil di pinggiran kota memerlukan izin atau berkoordinasi dengan pemangku kepentingan seperti kelurahan atau kecamatan setempat

 

Belum lama ini tersiar cepat pertunjukan seni kuda kepang atau sering disebut kuda lumping dibubarkan oleh sebuah Ormas di Medan. Pembubaran kuda kepang dilakukan karena pertunjukannya kesenian tradisional ini dianggap syirik dan tidak seusai dengan akidah agama.

Pembubaran itu memantik baku pukul yang berujung dengan pelaporan pekerja seni kuda kepang kepada kepolisian. Ujungnya kepolisian melakukan penahanan terhadap orang melakukan pemukulan dan pembubaran pertunjukan kesenian tradisional.
Pertunjukan seni kuda kepang sudah lama menjadi bagian kesenian masyarakat Jawa.

Jauh sebelum republik lahir kuda kepang pada pertengahan abad kesembilan belas telah ada di masyarakat Jawa. Bahkan menurut sumber tertulis sewaktu meletup Perang Diponegoro kelahiran kuda kepang terkait dengan perang Jawa yang legendaris ini. Pertunjukan kuda kepang ditampilkan di ruang publik. Ada seperangkat peralatan musik seperti pemain, kendang, gamelan, cambuk, pawang, kostum, dan kuda-kudaan terbuat dari anyaman bambu.

Kuda-kudaan diwarnai merah, hitam, kuning atau biru. Peran penting dari pertunjukan kuda kepang adalah pawang, seseorang yang memiliki ilmu adiluwih disertai kekebalan terhadap benda tajam. Kostum pemain kuda kepang berwarna warni sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pertunjukan kuda kepang memerlukan ruang publik yang berlokasi di keramaian. Ini diperlukan lantaran jumlah personil pertunjukan kuda kepang sedikitnya delapan orang. Karena memerlukan orang yang tidak sedikit pertunjukan kuda kepang memerlukan tempat relatif luas.

Sewaktu orang Jawa bermigrasi ke Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara) abad kesembilanbelas untuk mencari peruntungan dan perbaikan ekonomi. Orang Jawa yang menambatkan kesetiaan leluhurnya sewaktu berpindah kerja ke Sumatera Timur, pelan tapi pasti, membawa salah satu pertunjukan keseniannya, kuda kepang.

Membawa kesenian kuda kepang tentu memboyong peralatannya ke tempat tinggal tempat bekerja atau mencari pengganti peralatan musiknya yang didaptasi dengan situasi tempatan.
Berbarengan dengan mengalir orang Jawa ke Sumatera Timur terutama di kantong-kantong perkebunan kolonial yang jumlahnya ratusan pertunjukan kuda kepang terus berkembang.

Berbeda dengan seni pertunjukan lain, kuda kepang sedari mula memerlukan pawang sebagai pengarah mengarahkan jalannya prosesi kuda kepang. Pawang diperlukan berfungsi memanggil kekuatan adiluwih merasuki tubuh pemain kuda kepang. Sebelum menjalan fungsinya pawang memanggil kekuatan lain penabuh gendang dan pemukul gamelan mendengarkan suara khas musik kuda lumping kepang.

Terkadang saat memulai permainan musik aroma kemenyan terasa terhirup di ruang publik. Lalu cambuk dikibaskan berulang ke atas dan ke bawah sehingga mengeluarkan suara cambuk yang cetar. Paralatan lain yang selalu disiapkan adalah kelapa muda atau kaca yang acap disuguhkan ketika pemain memasuki kesurupan.

Sesudah musik kuda lumping kepang diperdengarkan beberapa saat, dua atau tiga pemain kuda kepang mengayunkan tubuhnya sambil menyelipkan kuda-kudaaan di antara paha kiri dan kanan menari mengikuti irama musik. Tidak lama kemudian alunan musik yang lembut perlahan bergeser menjadi kencang.

Bersamaan dengan kencangnya musik, gerakkan tubuh terlihat makin mengencang menyeleraskan dengan alunan musik. Gamelan dan gendang ditabuh terus menguat, sedangkan pawang makin sering mengayunkan cambuk ke atas dan ke bawah mengeluarkan suara cambuk.

Pawang yang menenteng cambuk berkeliling dan bergerak pindah-pindah mengibaskan cambuknya sebagai pertanda mengontrol dan mengawasi pemain kuda kepang yang terus menggerakkan tubuhnya. Beriringan semakin kencangnya musik pemain kuda kepang mulai menuju kesurupan. Tubuhnya berkeringat dan wajahnya berubah tampak beringas pertanda kesurupan.

Pelarangan
Sewaktu kesurupan pemain kuda kepang berperilaku aneh. Gerakan tubuh tidak lagi beraturan menyesuaikan dengan musik. Ketika makhluk lain menguasai dirinya, ia melepaskan kuda lumpingnya lalu berkelakuan tidak lazim seperti mengupas kelapa dengan gigi, mengunyah kaca sambil mengganggu dan mengejar penonton. Tubuhnya tampak kaku dan memerah.

Ketika dirinya berperilaku aneh dan makin tak terkendali, pawang melontarkan cambuknya ke atas dan ke bawah mengeluakan suara. Suara cambuk inilah yang menurunkan kelakuan aneh dalam dirinya. Kalaupun cambuk tidak mampu lagi mengendalikan sikap aneh pemain, pawang mendekati dan membaca mantera tertentu untuk menguasai pemain yang acap dijatukan digeletakkan agar terkendali.

Puncak dari pertunjukan kuda kepang adalah pemain memasuki masa kesurupan dan dalam waktu beberapa saat pawang mengembalikan pemain menjadi normal. Jika pemain kembali berada masa normal menunjukkan pertunjukan kuda kepang berakhir.

Pada tahun 1970-an – 1990-an masyarakat yang bertempat tinggal di kantong perkebunan Sumatera Utara jika menggelar pesta perkawinan, sunatan, atau hari besar selalu menanggap alias mengundang pertunjukan kuda kepang menjelang sore untuk menghibur tamu. Setiap kali diadakan pertunjukan kuda kepang selalu mendapat respons tamu dan penduduk sekitar.

Di masa itu kuda lumping kepang tidak pernah sepi dari penonton. Penikmat kesenian Jawa ini ingin menyaksikan pemainnya kesurupan mempunyai sikap aneh yang acap memeragakan hewan dan laku tertentu sambil melahap kaca atau juga memakan makanan tertentu.

Sewaktu industri hiburan belum menyerbu perdesaan, pertunjukan kuda kepang menjadi salah satu hiburan masyarakat. Bersamaan dengan gelegar industri hiburan pertunjukan kuda kepang makin hari makin menurun akibat tergusur dengan organ tunggal (keyboard) dan industri hiburan lainnya yang secara masif menyerbu jantung perdesaan.

Serbuan keyboard pelan tapi pasti tidak saja meneybabkan penyempitan kuda kepang. Tetapi juga melecut perubahan sosial masyarakat pinggiran Sumatera Utara. Sampai sekarang dalam pesta perkawinan, sunatan, syukuran dan kegiatan lainnya keyboard masih tetap menguasai panggung kesenian lokal.

Ketika industri hiburan mengganti kuda kepang berdampak terhadap survivalitas seni pertunjukan kuda kepang. Ruang geraknya di perdesaan makin menciut dan makin hari yang mengundang kuda kepang terus menurun. Menurunnya pertunjukan kuda kepang menyebabkan penyangganya mencari ruang publik guna menegakkan survivalitas kesenian tradisional.

Mulanya mencari ruang publik di kota kecamatan dan kabupaten. Ekspansi ke kota atas inisiasi sendiri tidak lain untuk mencari penghidupan para keluarga pemain kuda kepang. Kedatangan kuda kepang ke ruang publk urban beroleh respons positif sehingga mendorong penopang kesenian tradisional keluar kota kecamatan atau kabupaten menuju Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara.

Di jantung kota Medan kuda kepang mencari ruang publik yang relatif menjauh dari pusat kota atau jalan protokol kota dengan suasana kampung kota (urban) agar menarik penonton. Ketika menggelar kuda kepang di pinggiran kota yang hanya ada di kognitifnya tidak lain ada tempat pertunjukan kuda kepang yang berpeluang mengundang atensi publik dengan suara musik khas disertai lecutan cambuk, aroma kemenyan. Pawang hilir mudik menata sekaligus mengendalikan anak-anak mainnya untuk melengkapi pertunjukan kesenian tradisional ini.

Seharusnya tatkala kuda kepang tampil di pinggiran kota memerlukan izin atau berkoordinasi dengan pemangku kepentingan seperti kelurahan atau kecamatan setempat. Utamanya lagi ketika badai pandemi global (Covid-19) di Medan belum ada tanda-tanda menurun berkoordinasi dengan kelurahan atau kecamatan setempat sangat diperlukan guna memecah kerumunan orang yang menyaksikan pertunjukan kuda kepang.

Meski tanpa ada pemberitahuan kelurahan dan kecamatan, pertunjukan kuda kepang tidak perlu sampai ada pelarangan atau pembubaran pertunjukan kuda kepang. Apalagi pelarangan dan pembubarannya dikaitkan dengan agama. Sejak kelahirannya sampai saat ini kuda kepang tetap memola dari apa yang sudah ada yang dilaksanakan turun menurun.

Inilah kesenian lokal yang sampai sekarang masih hidup dan terus direproduksi untuk hidup. Pelarangan atau pembubaran pertunjukan kuda kepang sama sebangun dengan melemahkan budaya dan kesenian lokal yang hidup dari generasi ke generasi.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2