Pembiaran Konflik Di Medan Labuhan

Pembiaran Konflik Di Medan Labuhan
Oleh Drs Indra Muda Hutasuhut, MAP

  • Bagikan

Kasus tawuran antar kampung di beberapa wilayah Medan Labuhan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan antara beberapa aspek misalnya, lemahnya pengawasan orang tua, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang…

Medan Labuhan merupakan salah satu Kecamtan yang berada dalam wilayah hukum Kota Medan yang terdiri dari 7 kelurahan dengan luas wilayah sekitar 36,67 Km2 . Dengan luas wilayah tersebut dihuni penduduk 133.765 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 3.648 jiwa/km persegi.

Dengan luas wilayah tersebut, Medan Labuhan memiliki batas-batas wilayah yaitu, sebelah Barat berbatasan dengan Medan Marelan, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deliserdang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deliserdang dan Medan Deli, sebelah Utara berbatasan dengan Medan Belawan.

Dengan posisi yang demikian, Kecamatan Medan Labuhan memiliki peranan penting untuk mendorong perkembangan kecamatan yang berada di Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang.

Apabila dilihat dari struktur masyarakat yang terdapat di wilayah Kecamatan Medan Labuhan, karakteristik masyarakatnya tidak jauh berbedan dengan karakteristik masyarakat pada umumnya di Kota Medan, yaitu yang meliputi unsur agama, suku etnis, budaya dan keragaman (plural) adat istiadat.

Hal ini memunculkan karakter sebagian besar penduduk Kota Medan yang bersifat terbuka. Hampir seluruh pusat pasar diisi oleh masyarakat dari berbagai etnis, suku yang berbeda, namun mereka tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya saling berdampingan, termasuk para pedagang kaki lima.

Namun, terkait dengan tempat hunian antar warga masyarakat di beberapa tempat acap kali terjadi konflik berupa aksi tawuran yang dilakukan kalangan remaja sehingga mengganggu keamanan masyarakat terutama bagi mereka yang bermukim di lokasi tawuran.

Secara demografis, Kecamatan Medan Labuhan terus mengalami masa transisi sesuai dengan perkembangan teknologi dan transportasi.

Dinamisasi masyarakat dan mobilitasnya terus berkembang sehingga tidak jarang diantara warganya berangkat bekerja pada pagi hari dan pulang pada sore atau m,alam harinya.

Suku yang mendiami wilayah ini terdiri dari suku Melayu, China, Batak dan Jawa yang merupakan suku mayoritas. Sedangkan suku lainnya terdapat dari suku Minang, Aceh, Sunda, India, Nias, Pesisir, Bugis dan lainnya.

Sekitar 73,17 % diantara penduduknya merupakan penganut agama Islam, Keristen (protestan/Katolik) 21,99 %, Budha 4,83 % dan penganut agama Hindu sebesar 0,01 %.

Pembiaran Konflik

Konflik horizontal berupa aksi tawuran antar warga sudah berlangsung cukup lama di beberapa wilayah Kecamatan Medan Labuhan.

Upaya untuk menghentikan konflik tersebut sudah dilakukan pemerintah dan kepolisian setempat dengan mendamaikan warga yang berkonlik, memberikan tindakan hukum berupa penahanan, namun hasilnya belum maksimal karena aksi tawuran masih terus terjadi.

Menurut Mulia Asri Rambe yang merupakan anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Golkar mengemukakan, “tawuran yang sering terjadi harus segera diredam, mengingat tawuran tersebut tidak hanya terjadi belakangan ini saja namun telah terjadi sejak tahun 1980-an”. (Harian Waspada, 2 Oktober 2021 hal. B2).

Aksi tawuran antar warga sepertinya tidak pernah berhenti, setiap saat aksi tawuran antar kelompok remaja bisa terjadi tanpa mengenal watu dan tempat.

Sehingga sangat menggangu aktivitas dan kenyamanan warga yang berdomisili di lokasi aksi tawuran dan bagi masyarakat yang melintasi kawasan tersebut.

Modus tawuran-pun sangat sepele misalnya, gara-gara persoalan perebutan pacaran, tatapan mata yang bertemu pandang yang dianggap sebagai suatu perlawanan terhadap kelompok atau daerah hunian/gang-nya.

Sepertri kasus tawuran yang terjadi pada Hari Kamis tanggal 30 September 2021 lalu sekitar jam 01.00 WIB sekelompok remaja di kelurahan Kecamatan Medan Labuhan terlibat saling lempar batu.

Sehingga merusak rumah-rumah penduduk dan fasilitas pemerintah yang ada di sekitar lokasi tawuran. Atas kejadian ini membawa kerugian materil dan trauma berkepanjangan bagi warga masyarakat sekitar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, tawuran merupakan bentuk kenakalan yang dilakukan para remaja yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ada disekitar mereka.

Dari beberapa kasus tawuran di Indonesia bahwa, aksi tawuran, baik antar pelajar maupun antar warga disinyalir ditunggangi orang-orang tertentu yang bertindak sebagai provokator, sehingga bentrokan yang terjadi semakin anarkis, semakin meresahkan masyarakat.

Pihak kepolisian yang paling berkompoten untuk mengendalikan situasi keamanan, belum mampu berbuat banyak. Hal ini ditandai dengan semakin meluasnya ekses aksi tawuran hingga ke daerah-daerah termasuk ke Medan Labuhan.

Kian maraknya peredaran dan penyalah gunaan narkotika dan obat-obat terlarang, dan minuman keras disinyalir telah memicu maraknya aksi tawuran.

Dengan semakin maraknya aksi tawuran, wajar saja membuat warga sekitar lokasi kejadian dan juga orang tua menjadi khawatir akan keadaan anak-anaknya, karena dari beberapa kasus tawuran tidak jarang berujung dengan maut.

Konon yang lebih ironis, bahwa beberapa remaja yang tidak terlibat dengan aksi tawuran namun karena berasal dari kampung atau gang yang sama dengan pelaku tawuran, menjadi sasaran dari para lawan dari kampung yang berbeda.

Penutup

Kasus tawuran antar kampung dan gang di beberapa wilayah Kecamatan Medan Labuhan tentunya tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan antara beberapa aspek misalnya, lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, pengawasan aparat tidak maksimal, dan terbatasnya lapangan pekerjaan.

Bagi orang tua yang memiliki anak remaja hendaknya melakukan control terhadap perilaku anaknya, apabila masih berkeliaran pada malam hari tanpa tujuan, maka para orang tua perlu mengambil tindakan.

Demikian juga oleh guru di sekolah, perlu memberikan bimbingan dan memberikan tindakan tegas kepada siswa yang ketahuan terlibat dalam aksi tawuran baik antar warga maupun antar siswa.

Peredaran Narkoba disinyalir telah memicu aksi tawuran antar warga di daerah ini, oleh karenanya pihak Kepolisian yang memiliki kompetensi untuk menertibkannya harus semakin aktif melakukan razia dan mengambil tindakan tegas.

Pengawasan oleh pihak Kepolisian tentunya harus sering dilakukan terutama pada waktu-waktu rawan tawuran pada lokasi-lokasi tertentu yang sering terjadi aksi tawuran.

Disinyalir, para remaja pelaku tawuran tidak sedikit yang putus sekolah, karenanya perlu diberikan pembinaan dan bimbingan keterampilan sehingga mereka memiliki aktivitas dan pekerjaan yang positif.

Dengan penanganan yang demikian, harapan kita tentunya aksi tawuran di Medan Labuhan akan dapat dihentikan dan masyarakat sekitar merasa nyaman untuk melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Semoga..! WASPADA

Penulis adalah Dosen Fisipol-UMA.

  • Bagikan