Waspada
Waspada » Pasca Musda PHRI
Opini

Pasca Musda PHRI

Oleh Armin Nasution

Tim dari ketua yang menolak lalu berteriak seperti tidak sadar mereka berhadapan denga siapa. Bahwa di hadapan mereka ada dua hotelier perempuan senior di Sumut yang mendapat mandate menyukseskan Musda.

PELAKSANAAN Musda ke XII BPD PHRI Sumut telah berakhir Selasa lalu. Sebenarnya sidang pleno lanjutan tersebut hanya agenda tunggal pemilihan ketua sebagai lanjutan dari yang dilakukan per Desember 2020.

Tentu saja menarik sekali mencermati Musda kali ini. Karena panitia tetap berusaha semaksimal mungkin menjalankannya dengan penuh tekanan. Bahkan di tengah pelaksanaan pemungutan suara kubu salah satu tim datang sambil meminta agar dihentikan.

Ini kejadiannya sekira jam 10.00. tiba-tiba salah satu calon ketua dan tim nya datang ke tempat pemungutan suara sambil teriak-teriak meminta proses dihentikan. Bahkan bukan di situ saja, mereka juga membawa orang yang mengaku aparat lalu meminta panitia menghentikannya.

Karena situasi memanas akhirnya perwakilan kubu calon ketua tersebut dimediasi di ruang executive Garuda Plaza Hotel. Semua masukan ditampung panitia termasuk keinginan menghentikan Musda. Tapi ya itu tadi, ketika di ruang mediasi kita bisa menilai bagaimana kualitas argumentasi yang dilakukan mereka yang menolak Musda.

Sejujurnya saat di ruang itu saya terkejut melihat kosa kata dan padanan kalimat yang dipakai mereka yeng mengaku pemilik hotel. Berteriak, menghardik dan persis seperti ricuhnya rapat organisas politik. Dalam hati saya: apa ini orang tidak malu, karena juga banyak yang mengabadikannya lewat video handphone.

Teriakan dan keinginan untuk menggagalkan Musda semakin kuat. Sampai akhirnya Ketua Kadin Sumut Ivan Batubara yang menjadi dewan penasehat PHRI Sumut datang. Akhirnya suasana menjadi lebih tenang, walaupun mereka tetap menyuarakan penolakan Musda. Tim dari ketua yang menolak lalu berteriak seperti tidak sadar mereka berhadapan denga siapa. Bahwa di hadapan mereka ada dua hotelier perempuan senior di Sumut yang mendapat mandate menyukseskan Musda.

Kedua perempuan tangguh ini adalah Eva Christina Ginting sebagai ketua panitia dan Dewi Juita Purba sebagai ketua caretaker PHRI Sumut. Saya masih ingat ketika semua tudingan dialamatkan ke panitia, Eva Christina menjawab dengan tenang. “Bapak ibu yang terhormat saya sebagai ketua panitia hanya menjalankan amanat BPP. Kalau BPP menyuruh saya berhenti maka sekarang juga Musda saya hentikan. Tapi karena BPP meminta saya meneruskan Musda maka mohon maaf semua akan tetap dijalankan.”

Bayangkan Eva Christina mengucapkan itu di tengah salah satu calon ketua yang marah, pendukungnya yang tak sungkan berteriak dan berbicara keras bahkan diikuti orang yang mengaku aparat. Semua terekam kamera jadi memang fakta tulisan ini pun ada buktinya.

Setelah menjelaskan hal itu akhirnya kubu sebelah walk out. Mereka keluar dari semua proses pemungutan suara calon ketua PHRI. Tapi yang penting mereka gagal menghentikan Musda sampai pemungutan suara dilakukan. Ketika total suara dihitung dari 60 pemilih suara maka Denny S Wardhana mengantongi angka 54 kemudian Wesly Indra Marpaung mendapatkan 6 suara.

Bisa jadi karena kondisinya begitu telak, kembali Musda ini dikritik usai pelaksanaan. Ada yang bilang kenapa jumlah suara bisa sampai 60 sementara yang hadir hanya sekitar 30. Mereka tidak tahu bahwa pemungutan suara dilakukan seperti Pemilu, para memberi memberikan suara di wadah tertutup setelah itu pulang. Tidak ada mobilisasi massa. Maka yang 30 orang yang di ruangan adalah peserta Musda dan peninjau.

Setelah itu muncul lagi tudingan seolah-olah Musda ditutup-tutupi. Padahal secara jelas pelaksanaannya dilakukan terbatas dan mengikuti protokol kesehatan yang hanya boleh mendatangkan maksimal sampai 30 orang dengan syarat ketat.

Tapi saya kira apa yang disampaikan Eva Christina Ginting bahwa pelaksanaan dan hasil Musda hanya bisa dihentikan BPP sudah tepat. Apalagi Denny S Wardhana sudah terpilih. Pasca Musda yang paling penting adalah bersinergi dan bersatu di antara sesama pemilik hotel. Tidak menghabiskan energi untuk tarung berkepanjangan apalagi saling gugat dan mengadukan.

Karena sebagai wadah hotel dan restoran yang punya target memajukan industri pariwisata membutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan semua pihak sehingga kelak mencapai titik keseimbangan terutama menghadapi pandemi covid yang belum usai.

Penulis adalah Wirausaha

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2