Waspada
Waspada » Pasangan Jadi Solid Dikala Covid, Kenapa Nggak?
Opini

Pasangan Jadi Solid Dikala Covid, Kenapa Nggak?

Dia lagi, dia lagi…

Apakah itu yang Anda rasakan ketika hanya berdua dengan pasangan di rumah? Selama menjalani anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah, sekolah dari rumah dan beribadah dari rumah di masa pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua.

Kondisi ini memaksa kita untuk membatasi ruang gerak sebagai makhluk sosial dengan tetap di rumah untuk kepentingan bersama. Orang tua, anak, guru dan semua lapisan masyarakat menjalani perubahan ini, tidak terkecuali bagi pasangan suami istri.

Pasangan suami istri yang selama pandemi ini hanya menjalaninya berdua tentu juga memiliki tantangan tersendiri.B

agaimana tidak, setiap hari mereka bertemu dengan orang yang sama tanpa siapapun di rumah selama 24 jam setiap hari sejak program Work From Home (WFH) ditetapkan tanggal 16 Maret 2020 atau ketika kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilaksanakan di beberapa kota secara bertahap sejak awal April 2020 lalu.

Belinda Luscomcombe dalam sebuah artikelnya di Time.com berjudul “Can Your Relationship Survive The Togetherness of a Pandemic? Here Are 11 things couples’ Therapists Recommend” menyatakan bahwa kondisi pasangan yang selalu bersama di lingkungan yang sama secara terus menerus akan berdampak baik karena mereka mempunyai banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain dan membahas permasalahan yang selama ini mereka hindari.

Namun para pasangan ini juga dapat tertekan secara emosional karena harus mentolerir hal-hal kecil yang selama ini mereka hindari.

Lu Shijun, Manajer catatan sipil di Dazhou, Sichuan sebuah provinsi di utara-barat China menyatakan dalam sebuah reportase msn.com berjudul “Divorce Cases Rise In Chine as Couples Spend Too Much Time Together during Coronavirus Home Quarantine” bahwa 300 pasangan mengajukan gugatan cerai sejak 24 Februari 2020 karena selama di rumah mereka sering adu argumen tentang hal sepele dan ingin segera cerai.
Kondisi ini memang tidak mudah.Tidak mudah untuk kita semua.

Penulis mencoba melakukan wawancara pada empat pasang suami istri dengan latar belakang pekerjaan, usia dan lama pernikahan yang berbeda-beda.
Nurma (36 tahun) dan Agus (39 Tahun) sudah menikah 8 tahun dan tinggal berdua di daerah zona merah di DKI Jakarta. Agus masih bekerja sebagai pegawai honorer dan selama pandemi ini Nurma sudah tidak bekerja.

Walaupun berat perempuan yang hobi nonton film Korea ini selalu bersyukur dan berusaha untuk tidak gampang mengeluh karena penghasilan berkurang. “Bila salah satu mulai mengeluh saling mengingatkan untuk melihat ke bawah, banyak yang lebih kekurangan atau alihkan pembicaraan ke konten yang lebih menyenangkan” Ujar Nurma ketika ditanya bagaimana tips dan triknya menjaga hubungan selama pandemi.

Membuka ruang diskusi setelah beribadah dan makan bersama juga dapat menjadi kunci kerukunan pasangan selama di rumah.

Kris (30 tahun ) yang berprofesi sebagai pegawai negeri di Jakarta, tidak memungkiri jika selama pandemi timbul rasa sebal, kesal terhadap pasangannya Amalia (24 tahun) yang selama pandemi juga bekerja di rumah.

“Biasanya kalo udah emosi, memberikan waktu sendiri untuk meredakan tensi di hati dan pikiran, tpi nanti Saat makan bareng atau ibadah bareng segera diselesaikan dengan minta maaf terlebih dulu atau membuka ruang diskusi”. Imbuhnya.

Hobi Baru

Jenuh, bosan stres? Tidak bisa dipungkiri dialami para pasangan suami istri ini, sehingga ada dari mereka mencoba untuk memulai hobi baru bersama-sama yang sebelumnya belum pernah dicoba. “Pekerjaan selama WFH berjualan online. Sekarang berjualan online dipermudah karena paketnya bisa di jemput ke rumah dan hobi jadi nambah, ngedit video hasil rekaman yang ada di HP aja kaya bikin Cinematic sama cinematography.”

Dengan semangat Dani (24 tahun) menuturkan bahwa dia dan istri selama WFH menjadi lebih kreatif mengisi waktu luang dengan belajar sinematografi dari hasil rekaman video di telpon pintarnya ditemani sang istri Sanah (23 tahun) jualan online dari rumah mereka di Ciamis, Jawa Barat.

Dorongan untuk tetap saling mendukung antar pasangan dan berkompromi dengan situasi pandemi ini juga dialami oleh pasangan Sasa (28 tahun) dan Rega (33 tahun), yang hidup dari usaha konfeksi kecil-kecilan di Boyolali, Jawa tengah.

“Usaha kita sepi pengunjung bahkan selama pandemi ini ngga ada yang dateng ke toko lagi, omsetnya turun drastis. Tapi perubahan yang terjadi, kita lebih kompak aja kerja samanya, dulu sebelum pandemi pake ART, tapi sekarang suami yang cuci piring, yang ngepel, Tira yang nyapu ya begitulah!”

Holopis-Kuntul-Baris

Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.

Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 itu menjadi pengingat bagi kita semua masyarakat Indonesia bahwa Gotong royong sebagai karakter bangsa, dengan saling bantu dan saling menginspirasi dapat dimulai dari rumah, walau hanya berdua mereka mampu melewati kesulitan bersama-sama, terutama dalam pandemi COVID_19 ini.

Saling bantu antar suami istri menjadi harapan dukungan antar pasangan untuk saling menjaga keharmonisan rumah tangga. Jadi ketemu dia lagi di dapur, di kamar dan di depan televisi tidak masalah, dong!

Dina Ayu Mirta, Pranata Humas Muda Kemdikbud

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2