Waspada
Waspada » Pandemik Corona (Covid-19) Dalam Perspektif Hubungan Internasional
Opini

Pandemik Corona (Covid-19) Dalam Perspektif Hubungan Internasional

Fenomena pandemik Corona Virus Diseas 2019 (Covid-19) dikategorikan sebagai bagian dari isu-isu global kontemporer, dapat dianalisa berdasarkan dua aspek.

Pertama, berdasarkan aspek low politics , Corona merupakan bagian dari international non conventional security yang mengancam human security. Misalnya, dari sisi ekonomi, wabah Corona dapat diasumsikan ada korelasinya dengan perang dagang antara dua economic great powers, yaitu Amerika Serikat (USA) dan China.

Kedua, dari aspek high politics yang bisa diasumsikan bahwa penyebaran Covid-19 merupakan salah satu upaya yang ditempuh USA untuk meredam (sementara waktu) pergerakan agresivitas China di Laut China Selatan. Selain itu, juga untuk menghambat konsistensi perluasan kekuatan ekonomi China di seluruh dunia guna mengubah peta perdagangan dunia yang didominasi China.

Akan tetapi, kedua asumsi low and high politics wabah Covid-19 ini lemah. Karena, faktanya justru mengindikasikan bahwa USA sendiri ternyata tak pula bebas dari Corona karena sudah puluhan korban tewas akibat virus tersebut.

Jika pandemik Covid-19 diasumsikan sebagai Biochemical Weapon dalam trade war antara USA vs China sekalipun, faktanya Corona hadir justru saat ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian. Kemunculan Corona jelas menghambat export-import di seluruh dunia dan memukul sektor pariwisata di hampir semua negara. Terutama negara-negara yang mengandalkan perolehan devisa utamanya dari sektor pariwisata.

Seperti halnya ‘nuclear war’, dampak Corona meluas tanpa pandang bulu dan menghantam perekonomian semua negara. Tak ada satu pun negara yang bebas dari Corona dan tak ada negara yang sektor perekonomiannya aman akibat pandemik virus tersebut. Termasuk USA tentunya yang sektor ekonominya juga bergantung pada perkembangan ekonomi dunia.

Jika Corona memang merupakan “grand design” USA, berarti USA telah melakukan ‘blunder sendiri’ karena ternyata Corona juga menyebar di sana. Apalagi, korban-korban dengan jumlah besar juga menimpa sejumlah negara Uni Eropa, seperti, Italia, Jerman, dan Prancis yang notabene juga merupakan sekutu dekat USA di bidang ekonomi dan politik internasional.

Jadi, tak ada win-win solution atau zero sum-game dalam ‘kesengajaan’ penyebaran Covid-19 ini jika memang dilakukan secara sengaja sebagai bagian dari strategi grand design USA untuk menghantam China. Tak ada satu pun negara yang diuntungkan. Karena, semua negara justru dirugikan secara bersamaan sebagai dampak meluasnya pandemik Corona.

Di sisi lain, bisa jadi blunder tersebut tercipta akibat USA miskalkulasi terhadap dampak penyebaran Covid-19 yang ternyata bukan hanya menjadi endemik atau bahkan epidemik semata. Tetapi faktanya penyebarannya sudah berkembang menjadi pandemik, meski beberapa minggu lalu PBB masih malu-malu dan menganggapnya sebatas epidemik.

Sementara itu, berdasarkan sifatnya, Covid-19 merupakan molekul yang dapat dikategorikan sebagai perpaduan antara makhluk hidup layaknya bakteri karena alamiahnya yang menggandakan diri, sekaligus juga sebagai benda mati yang tetap hidup tanpa memerlukan oksigen.

Jika dikaitkan dengan asumsi yang mengandung unsur-unsur high politics, maka berdasarkan sifatnya yang ‘antara hidup dan mati, Corona dapat saya istilahkan sebagai ‘Senjata Biokimia’ (Biochemical Weapon) mutakhir yang muncul pasca era Virus Anthrax, SARS, MERS, dan seterusnya. Covid-19 terbukti merupakan instrumen senjata soft war yang paling mematikan pada abad ini.

Meskipun baru-baru ini China telah mengklaim kemenangannya atas Covid-19 yang ditunjukkan melalui kunjungan Presiden Xi Jinping ke Wuhan, tetapi dunia harus tetap waspada. Karena biar bagaimana pun juga, Partai Komunis China (CCP) akan menyampaikan apapun kepada dunia luar to look good demi kepentingan nasional mereka. Terutama terkait perekonomian China yang kini terancam bangkrut akibat pandemik Corona.

Karena sifat dan dimensi penyebaran wabahnya yang lintas batas negara, maka meskipun beberapa negara melakukan lock down, penanganan Corona tetap memerlukan kerjasama antarnegara di seluruh dunia. Yakni, dengan bersama-sama berusaha menemukan vaksin untuk mengatasi Covid-19 yang dikoordinir oleh WHO sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Dengan demikian, pandemik Corona dalam perspektif hubungan internasional merupakan bagian dari isu global kontemporer yang mengancam keamanan manusia. Sehingga, jika tidak dapat diatasi secepatnya, maka Covid-19 berpotensi menghambat proses human development yang secara tidak langsung juga akan mengancam sustainable development secara global. Dan dalam jangka panjang, bisa jadi akan mengancam peradaban umat manusia. Who knows?

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2