Waspada
Waspada » Pandemi Dan Produktivitas Bangsa
Headlines Opini

Pandemi Dan Produktivitas Bangsa

Oleh M Ridwan Lubis

Di atas semua aspek produktivitas bangsa maka soal yang terpenting adalah kesediaan warganya untuk melakukan perubahan perilaku budaya guna menyesuaikan diri dengan kenyataan terjadinya perubahan sosial

 

Pandemi covid-19 sudah memasuki jangka waktu hampir setahun. Dan entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk mengakhiri pandemi ini. Telah bermacam prediksi yang dikemukakan para ahli terhadap masa depan pandemi ini dan yang jelas belum akan berakhir dalam waktu yang singkat.

Tantangan berat akibat pandemi yang dihadapi sebuah bangsa adalah menjaga agar tetap terpelihara produktivitas bangsa itu sendiri. Dengan terjaganya produktivitas sosial pada akhirnya akan mendorong kehidupan bangsa akan tetap berkembang dan paling tidak akan tetap bertahan.

Karena itu, persoalan utama yang sedang dan akan terus dihadapi oleh bangsa adalah menjaga agar tetap terpelihara produktivitas warganya. Karena apabila produktivitas tidak bisa bertahan tentu saja upaya penyembuhan yang dibutuhkan akibat dampak pandemi akan memakan waktu yang lama.

Akibat dari pandemi ini, yang dirasakan oleh masyarakat yaitu terjadinya berbagai perubahan sosial dan perubahan itu lebih menonjol dihadapi oleh masyarakat yang selama ini bergerak dalam bidang jasa yang mencakup transportasi, perdagangan, wisata, birokrasi dan lain sebagainya.

Prof Budiono, saat memberikan pidato pada Anugerah Pandu Negeri (APN) di Jakarta (25/10/2019) mengemukakan bahwa keberhasilan suatu bangsa memelihara sekaligus meningkatkan produktivitas nasional mereka tergantung pada kemampuan mereka menjalankan kehidupan bangsa dengan fokus pada tiga hal, yakni pendidikan, birokrasi, dan infrastruktur.

Pendidikan dapat diartikan sebagai pengembangan manusia (human resources) alias pembangunan manusia secara utuh. Melalui pendidikan akan terbuka cakrawala bagi para generasi baru sehingga mereka memiliki dikap yang dinamis, kreativ dan inovatif.

Melalui pendidikan, para angkatan kerja akan memiliki sikap optimis terhadap perkembangan masa depan. Sekaligus juga membuka wawasan baru terhadap berbagai peluang untuk menunjang kehidupan mereka. Kalaupun pada satu jalur, tertutup peluangnya akan tetapi segera mereka akan bisa menangkap peluang itu pada jalur yang lain.

Hal tersebut terjadi karena melalui pendidikan terbuka berbagai perspektif yang baru. Sebaliknya apabila aspek pendidik tidak mengalami perkembangan maka para generasi muda akan kesulitan menangkap berbagai kemungkinan yang baru. Dan apabila hal itu terjadi maka tentu saja dimungkinkan terbukanya berbagai penyimpangan perilaku.

Gejala terhadap hal tersebut sudah mulai dirasakan belakangan ini dengan munculnya berbagai penyimpangan perilaku sosial seperti perubahan perilaku dalam keluarga, suami membunuh isteri atau sebaliknya isteri membunuh suami, berbagai kasus,pencurian, perampokan, pelecehan seksual, konflik antar tetangga dan lain sebagainya.

Pengertian pendidikan tidak semata-mata pada lembaga pendidikannya akan tetapi juga terkait dengan beberapa faktor seperti kesehatan, tenaga kerja, penelitian, olahraga dan sebagainya. Aspek pendidikan yang menjadi sorotan adalah yang sifatnya pengayaan budi pekerti serta pengembangan aspek keterampilan.

Faktor kedua produktivitas bangsa adalah pada birokrasi. Pengertian birokrasi.disini berkaitan dengan jangkauan yang lebih luas yaitu adanya kemampuan dari aparat di lapangan menerjemahkan apa yang menjadi policy atau kebijakan, dan program yang kemudian diterjemahkan menjadi kenyataan di lapangan.

Sehingga dengan produktivitas itu tidak terjadi kemandekan dalam kehidupan sosial. Bahkan pengertian birokrasi juga mencakup institusi-institusi publik yang memberikan panduan aturan main kepada publik yang mencakup tentang pelaksanaan tata aturan hukum sehingga terpelihara keseimbangan sosial dalam memenuhi hak dan kewajiban.

Kondisi yang seperti itu tentunya akan membantu semakin menguatnya rasa percaya diri pada pelaksana institusi birokrasi demikian juga semakin menambah kepercayaan bagi masyarakat penegakan hak-hak warga. Kita tentu merasa prihatin manakala adanya institusi birokrasi yang tidak dapat melaksanakan tugasnya dalam melayani kepentingan masyarakat akibat berbagai gangguan yang mereka hadapi.

Karena itulah, dalam mengembangkan faktor birokrasi maka diperlukan pelaksanaan program menyangkut reformasi birokrasi, hukum dan politik. Dalam kondisi seperti itulah institusi birokrasi secara efektif akan dapat menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai pengatur, pelayan dan pelindung bagi masyarakat.

Faktor ketiga dari produktivitas bangsa itu adalah infrastruktur. Hal ini menjadi penting dalam pembangunan karena akan memberikan dampak ganda pada berbagai sektor kegiatan-kegiatan pembangunan.

Mudahnya sarana transportasi misalnya maka lama perjalanan untuk mencapai tujuan akan bisa terukur demikian juga proses penyaluran barang-barang keperluan masyarakat untuk sampai ke alamat tujuan dalam jangka waktu yang singkat serta biaya pengantaran yang relatif murah.

Efektivitas infrastruktur bukan hanya terletak pada benda (tangible assets) saja tetapi juga yang paling mendasar adalah harus adanya tema yaitu sistem sehingga terjadi jaringan yang saling menghubungkan antara satu sektor dengan sektor lainnya.

Di atas semua aspek produktivitas bangsa maka soal yang terpenting adalah kesediaan warganya untuk melakukan perubahan perilaku budaya guna menyesuaikan diri dengan kenyataan terjadinya perubahan sosial.

Inti dari perilaku budaya setiap warga adalah kemampuan memberikan jawaban terhadap hakikat dan tujuan hidup manusia serta bagaimana cara mewujudkannya.

Karena itu, diperlukan penguatan terhadap sumber etos yang berpijak pada keyakinan menjalankan ajaran agama yang dianutnya serta memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai budaya masyarakatnya.

Pentingnya dua unsur sumber nilai universal yaitu agama dan budaya karena seiring dengan perkembangan modernitas terjadi pergeseran cara pandangan masyarakat yang lebih mengutamakan aspek kehidupan materi dan mengabaikan pentingnya spiritualitas. Padahal melalui aspek spritualitas itulah diperoleh perjalanan kehidupan yang lebih bermakna. WASPADA

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2