Waspada
Waspada » Pancasila Dalam Catatan Sejarah NKRI
Headlines Opini

Pancasila Dalam Catatan Sejarah NKRI

Oleh Drs Indra Muda Hutasuhut, MAP

Rumusan Panitia Sembilan: 1.Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; 2.Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3.Persatuan Indonesia; 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pancasila berasal dari 2 kata yaitu ”Panca” dan ”Sila”. Panca berarti lima dan Sila berarti Dasar. Apabila kata ini digabungkan mengandung makna lima dasar, yaitu lima dasar yang dijadikan landasan Indonesia merdeka.

Jika ditelusuri secara historis Istilah Pancasila bukanlah hal yang baru, telah dikenal sejak abad VII – XII pada zaman Kerajaan Sriwijaya, dan sekitar abad XIII-XVI pada kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Kedua zaman ini dijadikan tonggak sejarah karena pada waktu itu kedua kerajaan tersebut telah memenuhi syarat sebagai bangsa yang mempunyai negara.

Unsur-unsur yang terdapat di dalam Pancasila yaitu, ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, tata pemerintahan atas musyawarah dan keadilan sosial sudah terdapat sebagai azas yang menjiwai kedua kerajaan tersebut pada waktu itu, hanya saja belum dirumuskan secara konkrit.

Dokumen tertulis yang membuktikan adanya hal tersebut adalah prasasti-prasasti Telaga Batu, Kedukan Bukit, Karang Brahi, Talang Tuo dan Kota Kapur pada Kerajaan Sriwijaya. Juga di dalam buku Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca dan buku Sutasoma karangan Mpu Tantular diuraikan tentang hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan negara tetangga, wilayah kekuasaan dan hubungan rakyatdan kerajaan.

Dalam buku Sutasoma karangan Mpu Tantular, istilah Pancasila yang berasal dari Bahasa Sansekerta memiliki dua arti yaitu, Berbatu sendi yang kelima dan Pelaksanaan kesusilaan yang lima  yang disebut dengan Pancasila Krama yang terdiri dari:

1.Tidak boleh melakukan kekerasan; 2.Tidak boleh mencuri; 3.Tidak boleh berjiwa dengki; 4.Tidak boleh berbohong; 5.Tidak boleh mabuk minuman keras.

Jika dihubungkan dengan pernyataan yang sering dikemukakan Presiden Pertama RI Ir Soekarno dalam beberapa pidatonya yang menyatakan bahwa, tanggal 1 Juni 1945 bukanlah lahirnya Pancasila melainkan peringatan tentang lahirnya Pancasila. Karena Pancasila sudah ada di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.

Hal ini merujuk kepada konsep Pancasila Krama yang telah dianut pada masa Kerajaan Sriwijaya dan masa Kerajaan Majapahit. Istilah-istilah tentang Pancasila dapat ditemukan pada beberapa tulisan pada prasasti-prasasti.

Pancasila Dalam Peristiwa Sejarah

Meletusnya Perang Pasifik, yang diawali dibomnya Perl Harbour oleh Jepang tanggal 7 – 12 – 1941, memudahkan bala tentara Jepang menduduki daerah jajahan sekutu. Pada 9 Maret 1942 Jepang masuk ke Indonesia untuk menghalau pasukan Belanda.

Untuk mendapat bantuan rakyat Indonesia, maka Jepang mempropagandakan bahwa kedatangannya adalah untuk membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah Belanda. Tipu muslihat yang dilancarkan oleh Jepang ini berjalan lancar, sehingga di berbagai tempat rakyat membantu Jepang mengusir Belanda.

Mengetahui tipu muslihat Jepang, rakyat Indonesia sangat kecewa sehingga berusaha untuk mengusir Jepang. Namun, kekuatan jepang yang semakin kokoh dan terus melakukan pelemahan terhadap berbagai elemen masyarakat, maka sangat sulit untuk melakukan perlawanan.

Setelah berkuasa lebih kurang 3,5 tahun kedudukan Jepang mulai goyah. Karena di berbagai medan pertempuran mereka banyak mengalami kekalahan atas Sekutu.

Sadar akan hal tersebut, Jepang memberi janji kepada rakyat Indonesia, yaitu akan diberikan kemerdekaan dengan syarat bersedia membantu Jepang apabila pecah perang antara Jepang-Sekutu di Indonesia.

Untuk prosesi menyerahan kemerdekaan nanti apabila perang selesai. Jepang mengusulkan para pejuang kemerdekaan/pemuda membentuk suatau badan yang siap menerima kemerdekaan yang kemudian dikenal dengan nama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dengan terbentuknya BPUPKI tanggal 29 April 1945, anggotanya dilantik satu bulan kemudian yaitu tanggal 29 Mei 1945. Maka secara legal telah dapat melakukan tugasnya mempersiapkan kemerdekaan sehingga memenuhi syarat sebagai suatu negara yang merdeka.

Tanggal 29 Mei 1945 BPUPKI memulai sidang pertamanya. Mr. Muh. Yamin mendapat kesempatan pertama  mengusulkan Lima Dasar Indonesia merdeka. Menurut beliau 5 dasar Indonesia merdeka terdiri dari:

1.Ketuhanan Yang Maha Esa; 2.Kebangsaan Persatuan Indonesia; 3.Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab; 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada hari kedua persidangan BPUPKI giliran Soepomo menyampaikan pendapatnya tentang landasan Indonesia merdeka yang terdiri dari: 1.Persatuan; 2.Kekeluargaan; 3.Keseimbangan lahir dan batin; 4.Musyawarah; 5.Keadilan Rakyat.

Pada hari ketiga persidangan BPUPKI bertepatan tanggal 1 Juni 1945 giliran Ir. Soekarno menyampaikan pendapatnya tentang landasan Indonesia merdeka. Menurut beliau landasan Indonesia merdeka supaya diletakkan di atas pondasi yaitu:

1.Kebangsaan Indonesia; 2.Internasionalisme atau Perikemanusiaan; 3.Mufakat – atau Demokrasi; 4.Kesejahteraan Sosial; 5.Ketuhanan yang berkebudayaan.

Pada 22 Juni 1945, sembilan tokoh nasional (Panitia Sembilan) mengadakan pertemuan membahas usulan-usulan mengenai azas negara pada sidang BPUPKI. Rumusan Panitia Sembilan tersebut menghasilkan rumusan yang popular dengan nama Piagam Jakarta terdiri dari:

1.Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; 2.Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3.Persatuan Indonesia; 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seiring dengan dijatuhkannya Bom Atom di Hirosima dan Nagasaki, maka Jepang menyerah kepada Sekutu. Pada saat terjadinya kekosongan kekuasaan di Indonesia. Kesempatan ini dimanfaatkan para pejuang kemerdekaan untuk memproklamirkan kemerdekaan RI.

Dalam prosesi ini, rumusan Pancasila yang dibacakan adalah rumusan yang dihasilkan Panitia 9/Piagam Jakarta. Namun, atas usulan salah seorang anggota Panitia 9 agar Sila pertama Pancasila dikembalikan kepada rumusan seperti usulan Mr. Muh. Yamin.

Yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”maka peserta sidang-pun menerimanya. Sedangkan sila ke-2, 3, 4, 5 sama dengan sila Pancasila yang berlaku hingga sekarang ini.

Penutup

Pancasila adalah harga mati yang tidak boleh diubah oleh siapapun. Ia akan tetap abadi sepanjang usia NKRI. Teriring dengan peringatan lahirnya Pancasila bertepatan tanggal 1 Juni 2021. Mari kita jadikan momentum untuk menilai, “sejauhmana kita sudah mengamalkan sila-sila yang terdapat dalam Pancasila….?.    WASPADA

Penulis adalah Dosen Fisip UMA.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2