NUZULUL QUR’AN - Waspada

NUZULUL QUR’AN

  • Bagikan

 

Kata nuzulul Qur’an terdiri dari dua suku kata, yaitu nuzul dan al-Qur’an. Nuzul artinya turun sedang al-Qur’an artinya al-Qur’an. Jadi nuzulul Qur’an bermakna turunnya al-Qur’an atau peristiwa turunnya al-Qur’an.

Ayat pertama turun ialah pada tanggal 17 Ramadhan, yaitu surat al-‘Alaq ayat 1 sampai 4, yang artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Yang Meneciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Iqra”. Sedang ayat terakhir yang turun ialah ayat ketiga surat al-Maidah yang berbunyi: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan naikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu”.

Al-Qur’an turun secara bertahap agar secara mudah difahami kandungannya, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Isra/17: 106, yang artinya: “Dan al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau Muhammad membacanya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap”. Hal lainnya ialah karena al-Qur’an turun sebagai jawaban terhadap persoalan yang dihadapi umat Islam.

Cara turun al-Qur’an melalui malaikat Jibril, atau langsung ke Nabi, atau melalui isyarat seperti suara lonceng. Dalam kaitan al-Qur’an turun melalui Jibril, maka Jibrillah yang “menyuara hurufkan”nya. Sedangkan yang secara langsung atau melalui lonceng, Nabi Muhammadlah yang “menyuara hurufkannya” ke dalam bahasa Arab, sehingga bisa adifahami (lihat Q.S. Yusuf/12: 2).

Sebab itu, Fazlurrahman, pemikir dari anak benua India-Pakistan mengatakan bahwa “al-Qur’an 100 % dari Allah dan 100 % dari Nabi”. 100 % dari Allah karena memang kalam-Nya dan 100 % dari Nabi karena Nabilah yang menyuara hurufkannya ke dalam bahasa Arab. Gagasan ini mendapat reaksi dari masyarakat India-Pakistan, sehingga beliau terpaksa hengkang ke Amerika.

Sebetulnya, 100 % dari Nabipun dalam arti “menyuara hurufkannya”, karena beliau sendiri “dikendalikan/diarahkan saat menyuara hurufkan tersebut, sehingga al-Qur’an bukanlah ciptaan Nabi Muhammad saw, seperti digambarkan al-Qur’an surat an-Najm/53 : 3-4, yang artinya: “Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain bahwa al-Qur’an itu wahyu yang diwahyukan kepadanya”.
Sesuai priodenya al-Qur’an ada yang termasuk Makkiyah dan ada yang Madaniyah.

Makkiyah artinya ayat-ayat al-Qur’an tersebut turun ketika Nabi berada di Mekkah, sedangkan Madaniyah ialah ayat-ayat al-Qur’an tersebut turun ketika Nabi berada di Madinah. Sebagai kitab suci terakhir, kandungannya mencakup seluruh aspek kehidupan. “Dan Kami turunkan al-Qur’an kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”, begitu al-Qur’an menyebutkan pada surat an-Nahlu/16: 89.

Itulah sebabnya al-Qur’an tidak pernah alpa dalam membicarakan apapun, termasuk tentang perdukunan (thabib), sehingga dukun-dukun yang bukan Muslim sekalipun membaca manteranya dengan diawali membaca “Bismillah”, tentu dengan dialegnya.

Begitu kata Prof. DR. Rusmin Tumanggor, doktor antropologi UI yang meneliti 100 orang dukun di Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai bahan disertasinya. Begitu juga dengan berbagai teori sains dan teknologi ternyata mendapat isyarat al-Qur’an, seperti teori sidik jari (Q.S. Qiyamah/75: 3-4, teori ledakan besar (big bang, Q.S. al-Anbiya’/21: 30), teori kejiwaan (psikologi, Q.S. as-Syams/90: 9), teori medis, dan sebagainya. Namun demikian al-Qur’an bukanlah buku ilmiah, karena yang namanya ilmu pastilah bersifat relatif dan tentatif, sementara al-Qur’an abadi adanya.

Semoga peringatan nuzul al-Qur’an tahun ini akan semakin menggugah umat Islam mengamalkan kandungan kitab sucinya al-Qur’an, karena hanya dengan cara itulah al-Qur’an menjadi kompeten, bukan impoten. Semoga !. (17 Ramadhan 1442 H/29 April 2021 M).
-=o0o=-

  • Bagikan