Neokomunisme Indonesia - Waspada

Neokomunisme Indonesia
Oleh Shohibul Anshor Siregar

  • Bagikan

Dengan segenap reputasinya masa lalu Neokomunisme bukan sesuatu yang asing. Ini lebih dari sekadar adanya peramu isu komunis dan PKI sebagai tujuan instrumental untuk kekuasaan politik (proxy maker)

Dalam preambule Manifesto Komunis yang ditulis tahun 1884 oleh Karl Max dan Ferederick Engels disebutkan bahwa Partai Komunis adalah sebuah keniscayaan belaka yang serta merta akan memberi jawaban atas perbaikan tata dunia.

                                             

Dengan data akurat, logika yang kuat dan sastra yang demikian tajam, antara lain ditegaskan dalam Manifesto ini bahwa hantu Komunisme itu telah memaksa Eropa kuno membangun aliansi suci mereka, di antara Paus dan Tsar, melibatkan Metternich dan Guizot, begitu pun Radikal Prancis, dan juga dengan memobilisasi mata-mata polisi Jerman.

Hantu Komunis itu begitu dahsyat dan menakutkan Eropa. Namun semua upaya untuk melenyapkannya sia-sia belaka.

Setiap partai oposisi waktu itu dicap sebagai komunis. Oposisi pun melemparkan kembali celaan merek komunisme itu, terhadap partai-partai oposisi yang lebih maju, serta terhadap musuh-musuh reaksionernya.

Implikasi dari kedua fakta itu ialah pengakuan Eropa atas kekuatan Komunisme dan momentum untuk mempublikasikan pandangan, tujuan, kecenderungan dan memenuhi kisah kekanak-kanakan tentang momok Komunisme ini dengan sebuah manifesto partai yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai Bahasa dunia setelah terlebih dahulu ke dalam bahasa-bahasa di sekitar Eropa.

Empat Penjelasan Manifesto Komunis

Setelah preambule yang memuat dua fakta itu (pengakuan eksistensi serta kedahsyatan bola salju gerakan perlawanan komunisme) Manifesto Komunis memberi penegasan atas 4 hal pokok.

Pertama, hubungan antagonistik borjuis dan proletar. Sejarah abadi semua masyarakat adalah perjuangan kelas, antara penindas dan tertindas, yang selalu berdiri berhadap-hadapan dalam pertentangan konstan satu sama lain.

Eksekutif negara modern, apa pun bentuknya, hanyalah sebuah komite untuk mengelola urusan bersama seluruh borjuasi belaka. Dalam satu kata, untuk eksploitasi, terselubung oleh ilusi agama dan politik, telah menggantikan eksploitasi telanjang, tak tahu malu, langsung, brutal.

Ilusi agama mereka sebut begitu terus terang, adalah sesuatu yang terkait dengan agama yang dianut secara resmi oleh kekuasaan dominan di Eropa waktu itu.

Kedua, hubungan proletar dan komunis. Komunis tidak membentuk partai terpisah yang bertentangan dengan partai kelas pekerja lainnya di mana pun berada. Perbedaannya semu, hanya dalam perjuangan nasional di berbagai negara dan dalam berbagai tahap perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas pekerja melawan borjuasi.

Tujuan Komunis sama dengan tujuan semua partai proletar. Pembentukan proletariat menjadi sebuah kelas, penggulingan supremasi borjuis, dan penaklukan kekuasaan politik oleh proletariat. Teori Komunis dapat diringkas dalam satu kalimat: Penghapusan kepemilikan pribadi.

Ketiga, kajian dan penjelasan literatural sosialis dan komunis yang sangat mendalam. Bagian ini sangat akademik dan selalu mengundang kontroversi tajam. Akhirnya, pertengahan 1800-an, bagian ini didebat oleh kelompok-kelompok politik dan ideologi, Marx dan Engels menepis.

Dalam publikasi-publikasi tertentu tentang Manifesto Komunis, bagian ini tak jarang dipandang tak perlu disertakan.

Tetapi Manifesto Komunis membagi sosialisme menjadi Sosialisme Reaksioner (Sosialisme Feodal, Sosialisme Burjuis Kecil, dan Sosialisme Jerman atau Sosialisme “Sejati”), Sosialisme Konservatif atau Sosialisme Borjuis, dan Sosialisme dan Komunisme Kritis yang Utopis dengan segenap catatan.

Keempat, posisi komunis dalam kaitannya dengan berbagai kelompok oposisi yang ada dijelaskan tangkas oleh Manifesto Komunis. Komunis di mana-mana mendukung setiap gerakan revolusioner melawan tatanan sosial dan politik yang ada, itu ditegaskan begitu kuat.

Dalam semua gerakan ini mereka membawa ke depan, sebagai pertanyaan utama dalam setiap kasus yang aa di permukaan bumi, pentingnya pertanyaan tentang properti, tidak peduli apa tingkat perkembangannya pada saat itu.

Komunis tidak suka menyembunyikan pandangan dan tujuan mereka. Itu sikap dasarnya. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan penggulingan paksa semua kondisi sosial yang ada.

Linimasa Komunisme
Menarik untuk melihat Komunisme dalam garis waktu setelah dideklarasikan oleh Manifesto Komunis tahun 1848.

Karl Marx dan Friedrich Engels menerbitkan Manifesto Komunis ini, menyerukan pemberontakan kelas pekerja melawan kapitalisme, tanggal 21 Februari 1848. Pemikiran oposisional yang demikian keras terjadi di mana-mana.

Kurang lebih setengah abad kemudian, dengan Vladimir Lenin di pucuk pimpinan, kaum Bolshevik, yang menganggap diri sebagai Marxisme sejati, merebut kekuasaan selama Revolusi Oktober Rusia dan dipandang menjadi pemerintahan komunis pertama di dunia. Itu tercatat tanggal 7 November 1917.

Terinspirasi oleh Revolusi Rusia, Partai Komunis China pun dibentuk pada tanggal 1 Juli 1921. Kemudian, di bawah pemerintahan Joseph Stalin, 1 juta orang warga Uni Sovyet dieksekusi pada tanggal 21 Januari 1924.

To be or not tobe, apa pun resikonya, terkadang perubahan dan revolusi itu mahal ongkosnya. Itu yang terjadi dalam sejarah komunisme di mana-mana.

Beberapa pelembagaan dalam bentuk negara beroleh momentum bahwa dengan paksa atau sebaliknya, Komunisme berdiri di sejumlah negara antara tahun 1940 hingga 1979.

Negara-negara itu antara lain Estonia, Latvia, Lithuania, Yugoslavia, Polandia, Korea Utara, Albania, Bulgaria, Rumania, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, China, Tibet, Vietnam Utara, Guinea, Kuba, Yaman, Kenya, Sudan, Kongo, Burma, Angola, Benin, Tanjung Verde, Laos, Kampuchea, Madagaskar, Mozambik, Vietnam Selatan, Somalia, Seychelles, Afghanistan, Grenada, Nikaragua, dan lainnya.

Fidel Castro menggulingkan rezim Fulgencio Batista yang korup, dan Kuba menjadi negara komunis, 1 Januari 1959. Korut serbu Korsel untuk menciptakan negara komunis bersatu. Perang berakhir penandatanganan gencatan senjata Korea Utara, Cina, dan PBB, 5 Juli 1950.

Setelah perang saudara, Mao Zedong mendeklarasikan pembentukan RRC, 1 Oktober 1949. Pidato PM Inggris Winston Churchill “Tirai Besi” di Missouri, memperingatkan Amerika tentang perpecahan antara Uni Soviet dan sekutu Barat, 5 Maret 1946.

Pidato Presiden Harry S. Truman di depan Kongres (Doktrin Truman) mendasari masuknya AS ke perang Vietnam dan Korea. Doktrin itu menjadi dasar bagi kebijakan Perang Dingin Amerika, 12 Maret 1947.

Uni Soviet menang atas Nazi Jerman (Perang Dunia II). Dengan kekalahan Jepang, Korea terbagi komunis Utara (diduduki Soviet) dan Selatan (diduduki Amerika), 9 Mei 1945.

Vietnam Selatan direbut komunis dan dipersatukan kembali sebagai Republik Sosialis Vietnam di bawah pemerintahan Komunis pada tanggal 25 April 1976. Amerika Serikat menginvasi Grenada. Pemerintah pro-Marxis di bawah pimpinan Perdana Menteri Maurice Bishop digulingkan tanggal 25 Oktober 1983.

Militer menembaki demonstran yang menyerukan demokrasi di Lapangan Tiananmen yang berakhir dengan ratusan hingga ribuan kematian 4 Juni 1989.

Tembok Berlin runtuh sebagai sesuatu yang dapat dipandang begitu simbolik, dan seiring dengan itu pada tahun 1989-90 rezim komunis Cekoslowakia, Hongaria, Bulgaria, Polandia, Rumania, Benin, Mozambik, Nikaragua dan Yaman runtuh. Itu tercatat pada tanggal 9 Nopember 1989.

Akhirnya Mikhail Gorbachev mengundurkan diri, Uni Soviet bubar. Presiden baru Rusia Boris Yeltsin melarang Partai Komunis tanggal 25 Desember 1991. Komunisme segera berakhir di Afghanistan, Albania, Angola, Kongo, Kenya, Yugoslavia, dan negara-negara lain. Cina, Kuba, Laos, Vietnam tetap di bawah kekuasaan komunis. Korea Utara tetap komunis nominal, meskipun pemerintah Korea Utara tidak menyebut dirinya komunis.

Neokomunisme
Era komunis dianggap berakhir. Apa kata para ilmuan? Eric Hobsbawm (1998) menyebut bahwa Manifesto Komunis yang dicetuskan menjelang revolusi tahun 1848 adalah salah satu teks politik paling cemerlang dan tajam yang pernah ditulis.

Sebuah karya sastra yang daya dobrak, daya eksplanasi serta wawasan sejarahnya sangat besar. Suka atau tidak, selama satu setengah abad sejarah dunia telah dibentuk dan diterangi oleh Manifesto Komunis.

Tetapi ia menyadari bahwa “Zaman ekstrem” telah berakhir dan kapitalisme tampaknya menang di mana-mana, seperti yang terjadi seratus lima puluh tahun yang lalu.

Namun dilihat dari berbagai elemen yang membentuk bangunan struktural dunia, kata Eric Hobsbawm, justru manifesto itu lebih relevan untuk zaman sekarang daripada untuk waktu sebelumnya. Apa? Manifesto Komunis justru lebih relevan untuk zaman sekarang?

Eric Hobsbawm berkeyakinan seperti itu. Selaian itu, menurutnya, Manifesto Komunis tetap menjadi teks bawah tanah selama beberapa dekade dan tidak beredar dalam skala massal, atau mencapai status kanonik, hingga relatif beroleh apresiasi pada tingkat tertentu baru-baru ini.

Apakah komunisme, melawan segala rintangan, masih memiliki sesuatu yang menarik untuk dikatakan kepada kita hari ini? Pertanyaan ini diajukan oleh Filip spagnoli (2010). Tesis Filip Spagnoli berintikan tiga pendirian.

Pertama, tidak ada teori besar yang cukup bagus dalam praktiknya seperti di atas kertas. Penilaian yang jujur pasti dapat melihat beberapa elemen teori komunis yang layak diselamatkan.

Kedua, akan segera tiba tarung baru ‘neo-komunisme’ vs kapitalisme yang menyengsarakan dunia saat ini. Ketiga, penolakan habis-habisan terhadap negara komunis dan teori komunis adalah contoh kemalasan intelektual. Tetapi penolakan itu sudah hampir selesai.

Apa yang harus ditolak dan apa yang terus berguna atau bahkan perlu? Hasil analisis semacam itu akan menjadi inti dari neo-manifesto komunis’.

Secara metodologis Filip Spagnoli menilai harus dijelaskan kepada pemerintah dan semua penguasa di mana saja bahwa semua kekuatan bersenjata yang diarahkan melawan proletariat akan terus dilanjutkan untuk perlawanan panjang dengan cara damai jika memungkinkan, dan dengan senjata jika diperlukan.

Di atas segalanya, para pekerja harus melawan, sebanyak mungkin, selama konflik dan segera setelah perjuangan, kaum borjuis berusaha untuk meredakan badai, dan harus memaksa kaum demokrat untuk melaksanakan frase teroris mereka saat ini.

Tindakan mereka harus ditujukan sedemikian rupa untuk mencegah agar kegembiraan revolusioner langsung tidak ditekan lagi segera setelah kemenangan. Sebaliknya, mereka harus tetap hidup selama mungkin.

Jauh dari menentang apa yang disebut ekses, contoh balas dendam populer terhadap individu yang dibenci atau bangunan publik yang hanya terkait dengan ingatan kebencian, contoh seperti itu tidak hanya harus ditoleransi tetapi juga kepemimpinan dari mereka yang diambil.

Penutup
Bagaimana di Indonesia? Dengan segenap reputasinya masa lalu Neokomunisme bukan sesuatu yang asing.

Ini lebih dari sekadar adanya peramu isu komunis dan PKI sebagai tujuan instrumental untuk kekuasaan politik (proxy maker). Orang yang terus bekerja mengembangkan neo-komunis atau neo-PKI dengan penuh kesadaran ideologis dan pemahaman akademik yang mumpuni, dimiliki oleh Indonesia saat ini.

Secara bersamaan, orang yang terus bekerja melawan neo-komunis atau neo-PKI dengan penuh kesadaran ideologis dan pemahaman akademik yang mumpuni, juga dimiliki Indonesia.

Itu sejalan dengan adanya orang yang terus berjuang melegalisasi kembali PKI namun perilakunya sangat bertentangan dengan komunis karena amat berorientasi kapitalisme.

Merasa diri komunis atau PKI dan terus bersemangat mengembangkannya padahal tidak tahu abcd komunis atau PKI itu kecuali karena dendam sejarah, mungkin jumlahnya sangat besar sebandaing dengan orang yang merasa diri anti komunis atau PKI dan terus bersemangat menumpasnya padahal tidak tahu abcd komunis atau PKI itu kecuali karena dendam sejarah.

Terus berjuang melawan legalisasi kembali PKI namun perilakunya dapat sangat identik dengan komunis (dikatatorship, anti demokrasi, dan sebagainya), ada di Indonesia.

Tidak mempersoalkan ideologi apa pun karena yang dipentingkan hanya peluang untuk akses dan penguasaan sumberdaya (pragmatis), jumlahnya besar di Indonesia. Semua akan tergantung kehendak rezim berkuasa.

Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

  • Bagikan