Negeri Penuh Kepalsuan Oleh Budi Agustono - Waspada

Negeri Penuh Kepalsuan Oleh Budi Agustono

  • Bagikan
Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

 

Masyarakat sangat dekat dengan kepalsuan. Kepalsuan ini dapat terjadi lintas agama, etnik dan kelompok…

Belum lama ini tersebar luas pemalsuan alat tes anti gen Covid di bandara Kualananamu Deliserdang, Sumatera Utara. Terbongkarnya pemalsuan alat anti gen Covid karena orang merasa sehat tetapi setelah menjalani pemeriksaan anti gen hasilnya positif.

Banyak orang diperiksa hasilnya positif memunculkan kecurigaaan publik yang berujung pelibaatan kepolisian menyelidik tes anti gen di bandara Kualanamu. Temuannya alat tes anti gen yang digunakan merupakan alat tes yang sudah digunakan tidak dibuang dan diganti yang baru. Melainkan dicuci, didaur ulang, dan dipakai kembali sebagai alat periksa anti gen.

Penemuan alat bekas (daur ulang) menggegerkan publik. Ini merupakan kejahatan kesehatan terhadap manusia. Para pelaku kejahatan kesehatan ini tidak saja bermaksud meraup keuntungan ekonomi, tetapi secara sengaja meremehkan nyawa manusia. Nyawa manusia tak berarti karena dianggap kumpulan angka.

Makin banyak jumlah orang tes anti gen meski hasilnya positif makin besar keuntungan ekonomi yang didapat. Padahal dengan mendaur ulang alat tes anti gen orang yang sehat dan tidak terinveksi virus menjadi positif Covid lantaran alat tes anti gen bekas yang sebelumnya digunakan ke orang lain.

Alih-alih dinyatakan negatif, pemakaian alat bekas anti gen makin mempercepat penularan virus pandemi global ini. Kemudian jika hasil pemeriksaan positif bila tidak lagi dikonfirmasi periksa ulang ke fasilitas kesehatan sangat merugikan karena tidak diketahui pasti dirinya positif atau negative. Atau juga apa terinfeksi virus atau tidak lantaran alat tesnya palsu alias bekas yang pernah digunakan untuk melakukan tes yang sama.

Pemberitaan alat tes antigen bekas memerlihatkan secara telanjang bahwa di negeri tercinta ini memalsukan atau meniru produk seperti terlihat aslinya bukan sesuatu yang baru. Dalam kebutuhan sehari-hari beras misalnya yang menjadi kebutuhan dasar manusia pernah dipalsukan dengan plastik.

Melalui proses rekayasa plastik dibuat menjadi beras. Kemudian beras plastik ini diedarkan dan dikonsumsi masyarakat. Pemalsuan beras plastik ini sangat merugikan masyarakat karena jika dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan kematian.

Di republik ini tidak hanya alat tes anti gen dan beras yang dipalsukan. Hampir semua jenis produk barang dipalsukan. Oli kendaraan juga dipalsukan. Oli bekas pakai bukannya dibuang tetapi didaur ulang seperti aslinya lalu dijual di pasar. Oli palsu jika digunakan sebagai pelumas kendaraan akan merusak mesin kendaraan. Konsumen dirugikan, yang meraup keuntungan pemalsu oli.

Merk dagang busana, celana, tas dan sebagainya acap ditiru dan dipalsukan. Di berbagai pusat perbelanjaan di kalangan menengah bawah sering dijumpai merek dagang terkenal seperti busana atau jeans dipalsukan.

Palsu karena bahan dasarnya tidak saja berbeda juga merek dagangnya ditiru tetapi harganya jauh lebih murah. Masyarakat sadar kalau merek dagang dan bahan dasar dipalsukan, tetapi tetap merasa senang memakainya. Ada rasa gengsi memakai merek dagang terkenal di jagad raya meski palsu dan harganya lebih murah.

Kosmetika disinyalir banyak palsu, terutama dengan memalsukan bahan dasar. Bahkan memakai bahan berbahaya dengan harga jual lebih murah. Namun masyarakat tidak mengetahui jika dipakai waktu lama dengan bahan berbahaya akan menyebabkan berbagai penyakit kulit. Lagi-lagi masyarakat (konsumen) sangat dirugikan memakai bahan palsu. Kosmetika dengan bahan berbahaya ini sering dirazia dan larang edar.

Janji
Pemalsuan sangat merugikan masyarakat, tetapi pemalsuan tak pernah berhenti dan terus berlangsung sepanjang waktu. Uang misalnya, di manapun tempatnya, acap dipalsukan. Uang palsu begitu sering terdengar, tetapi begitu beredar dengan cepat digulung kepolisian.

Tidak hanya uang dipalsukan, jenis pekerjaan pun tak berhenti dipalsukan. Dalam kehidupan keseharian sering terdengan polisi, tentara dan aparatur sipil negara dipalsukan identitasnya. Mereka yang memalsukan identitas sebagai polisi, tentara atau aparatur sipil negara dapat ditebak hanya semata ingin memburu keuntungan cepat.

Polisi dan tentara palsu tujuannya tidak lain mencari uang atau menipu orang entah itu mencari uang atau merayu perempuan agar mudah diperdaya. Pun aparatur sipil negara palsu bertujuan sama menipu orang lain mencari uang dengan cara menjanjikan pekerjaan jika memberi sejumlah uang.

Setelah uang diberi, janji pekerjaannya tidak pernah dipenuhi atau malah melarikan diri raib tak tahu rimbanya. Orang yang tertipu polisi palsu, tentara palsu dan aparatur sipil negara palsu melapor ke kepolisian dan membangkar kasus pemalsuan ini.

Harus pula diakui masyarakat terlalu mudah percaya dengan rayuan palsu. Tetapi ini tak sepenuhnya salah masyarakat karena ingin bekerja. Apalagi pekerjaan yang baik tentu akan membanggakan keluarga dan melepaskan diri dari pengangguran sehingga rela mengeluarkan uang membayar jasa kepada orang yang membantu pekerjaan.

Sukarnya mencari pekerjaan membuat masyarakat tertipu jika ada orang yang membantu menolong pekerjaan. Masyarakat sangat dekat dengan kepalsuan. Kepalsuan ini dapat terjadi lintas agama, etnik dan kelompok.

Demikian pula para pejabat publik yang acap mengeluarkan slogan nasionalistik, berapi berbicara dan sering memakai bahasa agama dalam berbagai kesempatan. Ternyata sebagaimana kita saaksikan terjerat korupsi.

Setelah tertangkap masih juga terdengar pembelaan publik dengan mengatakan. Padahal agama dan tutur katanya bagus kok bisa terjerat korupsi dan tak menyangka korupsi.

Tidak menyatu antara kata dan perbuatan kerap terjadi saat bertiup musim kampanye pemilihan anggota legislatif dan kepala daerah. Saat berkampanye untuk memenangkan pertarungan kepala daerah menebar berbagai janji melambung tinggi menyembur dari mulut calon kepala daerah.

Setelah terpilih masyarakat kecewa karena janji yang pernah dikumandangkan tenggelam dalam hiruk pikuk rengkuhan kekuasaan. Janji-janji kampanye menjauh dan terus menjauh ketika terpilih sebagai kepala daerah.

Inilah janji politik, janji palsu. Ironi di negeri penuh kepalsuan yang masyarakat selalu terpedaya dengan ucapan dan kata-kata sakti yang meluncur dari seseorang. Namun semua itu tak sesuai antara kata dan perbuatan.

Terkait kepalsuan dunia pendidikan pernah dihebohkan dengan ijazah palsu yang dikeluarkan pialang pendidikan. Gelar akademis sangat diagungkan. Gelar akademis dicari bukan layaknya menjadi mahasiswa kuliah, membaca dan mengerjakan bermacam tugas, mengisi absensi, ujian, menulis skripsi sampai akhirnya wisuda.

Siapa saja yang mengikuti prosedur kuliah sampai sarjana memerlukan perjuangan, belajar ekstra dan menghabiskan waktu sedikitnya delapan semester. Namun karena masyarakat masih berorientasi gelar dan ingin instan mendekap ijazah dan tentu saja mengorupsi tahapan menuju sarjana, akhirnya mencari jalan pintas.

Tidak mengikuti kuliah dan administrasi ikutannya dan tak mau berduduk lama di bangku kuliah untuk mendapat gelar, akhirnya mencari pialang yang bisa mengeluarkan ijazah. Sarjana didapat tapi dengan ijazah palsu.

Mendapat ijazah palsu tentu mengeluarkan biaya. Siapa saja akan iri menyaksikan orang yang tak pernah bersungguh kuliah tetapi mendapat ijazah. Banyak orang yang tak bekerja keras, tetapi amat mudah terekecoh mendapat ijazah palsu.

Di negeri penuh kepalsuan orang lebih memilih jalan pintas, membayar atau menyogok dalam memperoleh sesuatu ketimbang kerja keras dan banting tulang. Sama seperti orang kaya jika diperoleh dengan kerja keras dan banting tulang akan mendapat penghargaan tinggi. Tetapi publik akan bertanya orang yang tidak gigih, ulet dan kerja keras memiliki kekayaan.

Untuk memangkas kepalsuan diperlukan strategi dan penataan budaya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa.

 

  • Bagikan