Waspada
Waspada » Naluri, Nalar, Nurani Berpolitik
Opini

Naluri, Nalar, Nurani Berpolitik

Oleh Zulkarnain Lubis

Jadi silahkan mengikuti naluri, silakan bernalar, silahkan juga berimajinasi, tapi jangan lupa menggunakan hati nurani. Bila sudah mati, hidupkan kembali…

SETIDAKNYA ada tiga kata yang mempengaruhi perilaku dan tindakan manusia termasuk dalam tidak perlu dipelajari karena memang sudah bawaan (fitrah atau kodrat) dari Sang Pencipta.

Naluri adalah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir, pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu dan terdapat pada semua jenis makhluk hidup. Baik itu hewan maupun manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah naluri kebinatangan, naluri keibuan, naluri kebapakan, dan berbagai bentuk naluri lainnya. Seekor induk ayam dengan naluri keibuannya akan selalu berusaha melindungi anak-anaknya dari ancaman musuh.

Secara naluri, seorang laki-laki akan memiliki sifat maskulin, sebaliknya seorang perempuan akan bersifat feminin. Binatang buas juga punya naluri untuk memburu dan membunuh mangsanya dan dijadikannya sebagai santapannya.

Demikian juga dengan naluri berpolitik, setiap orang mungkin memiliki naluri berkuasa atau naluri berpolitik berupa dorongan hati atau nafsu untuk berkuasa melalui politik yang mungkin ada pada setiap diri manusia sejak dia lahir.

Dengan naluri berpolitik yang ada pada dirinya, wajar saja jika antarpolitisi, antarpartai, antaranggota partai ataupun antaraorang partai dan orang di luar partai terjadi persaingan, perebutan, pertentangan, perselisihan. Bahkan perpecahan, demi mendapatkan kekuasaan.

Poin kedua yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang termasuk mereka yang terjun dalam politik atau para politisi adalah nalar. Nalar berkaitan dengan aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis, memiliki jangkauan pikir, dan kekuatan pikir.

Karena itu, orang yang bernalar adalah orang yang mempunyai nalar, menggunakan nalar, dan berpikir logis. Dengan demikian, orang yang menggunakan nalar berarti orang yang menggunakan akal, pikiran, dan logikanya yang bertumpu pada benar dan salah.

Dengan kata lain, berdasarkan kemampuan menalar, maka manusia mampu menguasai pengetahuan dan mengembangkannya. sehingga bisa memutuskan sesuatu itu benar atau salah. Dengan menggunakan nalarnya, manusia dalam berpolitik bisa membedakan mana tindakan dan putusan politik yang benar dan mana tindakan yang salah.

Benar dapat saja diartikan sebagai sesuatu yang bisa memberi manfaat bagi dirinya dan salah bisa saja diartikan sebagai perbuatan atau keputusan yang tidak memberi manfaat. Atau bahkan bisa mencelakakan dan merugikan dirinya dan orang-orang yang sebarisan dengannya.

Dengan demikian, jika binatang mengikuti nalurinya dengan tenaga dan kekuatan fisiknya. Maka manusia termasuk para politisi, menggunakan nalar sebagai alat untuk mengikuti naluri berpolitiknya.

Dengan daya nalar seorang politisi, dia akan melakukan segala cara dengan maksimal yang untuk mengimplementasikan nalurinya. Yaitu untuk mempertahankan kedudukan dan posisinya, merebut kekuasaan yang diinginkannya, dan untuk menyingkirkan pihak yang dianggapnya menjadi hambatan.

Sebagaimana dikatakan Blaise Pascal bahwa nalar tak memiliki hati. Sehingga nalar hanya mengejar dan mencapai sesuatu yang benar menurut dirinya dan menghindar dan meninggalkan sesuatu yang salah menurut dirinya.

Dengan nalar yang ada pada dirinya, dia mengikuti naluri yang ada pada dirinya. Dengan berbohong demi kekuasaan, menipu untuk sebuah kekuasaan, ingkar janji atas nama kekuasaan, merampas kekuasaan, merebut kekuasaan, merampok kekuasaan, membegal kekuasaan, menelikung untuk kekuasaan, memfitnah untuk mengejar kekuasaan, menyakiti untuk berkuasa, menyingkirkan pesaing untuk merebut kekuasaan, membusukkan, merendahkan, menuding, menuduh, menghardik, mengancam, bahkan menyakiti, mencelakai, dan membunuh demi kekuasaan.

Tentu semua dilakukan dengan menggunakan nalar, dengan menggunakan akal, termasuk akal-akalan, akal bulus, dan mengakali. Termasuk mengintimidasi, melakukan agitasi dan provakasi.

Intinya apapun dilakukan dan diakali untuk melampiaskan naluri politiknya sehingga terwujud hasratnya, terlampiaskan nafsunya berkuasa dan terpuaskan hasratnya mempertahankan kekuasaan. Jadi tidak heran jika kita sering menyaksikan tokoh berambisi menjadi ketua partai, menjadi pejabat publik, atau menjadi pimpinan daerah dengan memaksimalkan nalarnya merealisasi ambisinya dengan segala macam cara termasuk yang bertentangan dengan kepatutan.

Perkara ketiga yang mempengaruhi perilaku politisi dalam menjalankan aktivitas politiknya adalah nurani. Nurani adalah perasaan atau lubuk hati terdalam yang selalu membisikkan dan mendorong kebaikan. Nurani berasal dari kata nur yang berarti cahaya atau perunjuk, sehingga nurani sering dikaitkan dengan sifat cahaya yang selalu menunjuk pada hal positif.

Kata nurani biasanya disejajarkan dengan hati, sehingga keduanya digabungkan menjadi hati nurani. Karena memang nurani erat kaitannya dengan hati. Hanya saja jika berdiri sendiri, antara nurani dan hati bisa berbeda konotasinya.

Nurani hanya terkait hal positif saja, sedang hati atau perasaan bisa digunakan untuk sesuatu yang positif maupun negatif. Sedangkan jika digabung menjadi hati nurani, maka diartikan sebagai suatu proses kognitif yang menghasilkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang.

Hati nurani sering digambarkan sebagai sesuatu yang berujung pada perasaan menyesal ketika seseorang melakukan tindakan bertentangan dengan nilai moral. Hati nurani juga selalu terbuka menerima dan menyampaikan sesuatu yang baik, membimbing mulut untuk berkata yang baik, mata untuk melihat yang baik, telinga untuk mendengar yang baik, serta kaki dan tangan juga untuk melakukan hal baik.

Dengan demikian berpolitik menggunakan nurani adalah berpolitik berlandaskan hal baik bukan sekedar benar, yaitu berpolitik berdasarkan moral, etika, kejujuran, keadilan, kesantunan, dan adab yang baik, serta akhlak mulia. Dengan demikian, berpolitik berdasarkan hati nurani menghindarkan politisi dari perbuatan menyimpang, menghindarkan dari keserakahan, dari ketamakan, dari kecurangan, dan kesewenangan, dari kezaliman, dan dari kebejatan.

Apa yang dilakukan para politisi yang lebih mementingkan diri sendiri, yang memiliki ambisi tanpa memikirkan dampak negatif, dan yang memiliki sifat iri dan dengki, adalah perilaku yang hanya mengandalkan naluri dan nalar saja, tidak menggunakan hati nurani. Sehingga lupa dengan etika, kepatutan, dan norma yang ada.

Mereka menganggap apa yang dilakukannya selalu benar, mereka menguasai dan memonopoli kebenaran, dan selalu merasa mampu mendapatkan dalil untuk menyalahkan orang lain dan menuduh pihak lain yang salah. Mereka tidak memiliki malu atau mungkin sudah hilang rasa malunya, mereka sering bersembunyi di dalam rumah kaca.

Sehingga sesungguhnya orang secara transparan mengetahui kebusukan, kelicikan, kepongahan, dan kebobrokan yang mereka lakukan. Mereka mungkin saja sudah tahu “boroknya sudah menganga”, tapi bisa saja mereka pura-pura tidak tahu, sehingga masih berani untuk tampil seperti tanpa dosa, dengan tetap berpura-pura benar dan berdalih bahwa mereka benar.

Sungguh banyak yang seperti ini dan masih berlangsung sampai saat ini. Bahkan beberapa hari ini masih juga terjadi. Sesungguhnya yang terjadi, hati nurani mereka sudah mati, rasa malunya telah pergi, dan harga dirinya sudah menghilang entah kemana lari, yang tinggal hanya naluri dan nalar yang dimaknai sendiri yang dibungkus keangkuhan dan ambisi—karena merasa memiliki materi, strategi, dan kekuatan yang tak bisa ditandingi.

Betul-lah apa yang dikatakan Albert Einstein bahwa nalar hanya akan membawa Anda dari tempat asal ke tempat yang dituju, tapi imajinasi mampu membawa anda dari tempat asal ke tempat lain ke manapun Anda ingini.

Jadi silahkan mengikuti naluri, silakan bernalar, silahkan juga berimajinasi, tapi jangan lupa menggunakan hati nurani. Bila sudah mati, hidupkan kembali, agar hidup terasa nikmat, diberkahi, dan mendapat ridha Ilahi.

Penulis adalah Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Ketua STIE MTU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2