Muhammadiyah Tak Kenal Lelah
Oleh Arifulhaq A, S.Pd., M. Hum.

  • Bagikan

Para warga persyarikatan Muhammadiyah tak kenal lelah untuk melakukan kebaikan bagi umat dimulai dari hal yang sederhana hingga berskala kecil (Mitsuo Nakamura)

Sebagai sebuah gerakan yang sejak awal berdirinya berbasiskan dakwah ‘amar makruf nahi munkar, hingga kini Muhammadiyah tetap teguh mewujudkan misinya. Tak berhenti meski berubah masa,dan tak menyerah meski berganti rejim.

Resmi berdiri di era kolonialisme Belanda pada 18 November 1912 / 08 Dzulhijjah 1330 H yang berarti usianya sudah hampir 109/113 tahun. Dengan berbekal prinsip dakwah sosial yang dianut, Belanda menganggap gerakan ini tidak mengancam kedudukannya pada masa itu bahkan memfasilitasinya.

Hal ini menjadi catatan penting dalam sejarah NKRI yang harus diingat oleh anak-anak negeri bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang tidak berbahaya dan bukan ancaman bagi rejim yang berkuasa.

Seiring perkembangan zaman, Muhammadiyah melahirkan berbagai gagasan yang multi dimensi, integrative dan inklusive untuk kemaslahatan ummat sebagaimana yang diusung oleh pendirinya KH. Ahmad Dahlan pada setiap ceramahnya dikenal sebagai gerakan “Al-Ma’un”(tolong menolong) singkat, padat,dan dahsyat.

Siapa sangka konsep yang ditawarkan dan diamalkan langsung oleh Sang Kiyai menjadi bekal utama bagi bagi anak negeri untuk membebaskan diri dari keterpurukan dimensional; akidah,ekonomi, dan jati diri.

Muhammadiyah sebagai organisasi besar terus berkreativitas menyelesaikan masalah mendasar tidak hanya urusan internal organisasi berbasis bangsa tetapi juga intra organsisasi berskala internasional dan hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran Muhammadiyah di berbagai negara lengkap dengan asset sosialnya.

Keunggulan Muhammadiyah
Diukur dengan pergeseran waktu pada sebuah organisasi, tentu saja Muhammadiyah telah merasakan dan melewati beberapa masa kepemimpinan yang berbeda, namun tetap bertahan.

Pengakuan terhadap organisasi ini datang dari berbagai kalangan dan berdecak kagum setelah menyusuri prinsipil keorganisasian yang dianut. Ada lima keunggulan yang dimiliki Muhammadiyah yaitu prinsip gerakan, sumber daya manusa (SDM), sistem organisasi, kiprah amal usaha, dan dakwah (Abdul Mu’ti,Sekjen PP Muhammadiyah).

Berbicara Sumber Daya Manusia, Muhammadiyah telah cekatan membangun para kadernya sehingga menjadi kekuatan unggul dalam membangun dan membesarkan ormas ini.

Berbagai strata pakar keilmuan bisa ditemukan dalam organisasi ini sehingga wajar bila sebuah keputusan yang dilahirkan telah melalui proses validitas comprehensive dan non anarkhis. Para kader, anggota dan simpatisan pun menjadi satu simpul kuat untuk membangun secara kolegial.

Keunggulan Muhammadiyah ini diakui oleh beberapa ilmuan yang telah melakukan analisis beberapa lama dan di akhir kajian mereka terkagum-kagum dengan hasil penelitiannya. Misalnya James L Peacock memberikan penilaian yang baik terhadap Muhammadiyah dan di bagian analisisnya beliau mengatakan bahwa kekuatan Muhammadiyah bisa bertahan karena kosistensi dalam berprinsip yakni memelihara ajaran Islam yang murni.

Selain itu, Robert Hefner juga menjelaskan hal yang sama bahwa Muhammadiyah mampu berkembang di tengah maraknya pergerakan dan semakin kokoh sebagai sebuah organisasi oleh karena memegang prinsip tajdid (reformation) dan berusaha mengembangkan lembaga-lembaga sosial di berbagai bidang.

Kekuatan lain dari Muhammadiyah adalah organisasi otonom,lembaga pendidikan dan ikatan batin para aktivis. Hal ini dapat dilihat dari link yang terbangun melalui berbagai jaringan sederhana di bawah bendera “Muhammadiyah’.

Semuanya merasa terpanggil memenuhi seruan-seruan “Fastabiqul Khairat” untuk ummat. Kadang tak bisa dipungkiri ada juga gerakan-gerakan sempalan yang mendompleng tapi akan lenyap seiring ketangguhan Muhammadiyah memegang prinsipnya.

Selanjutnya pengakuan keunggulan Muhammadiyah juga diterangkan oleh seorang ilmuan Jepang yang puluhan tahun menjadikan Muhammadiyah sebagai objek kajian. Beliau mengatakan bahwa pola kaderisasi yang sangat efektif yang ada di Muhamadiyah mampu melahirkan kader militan yang tercermin dari keluarga berlatar belakang Muhammadiyah.

Para warga persyarikatan Muhammadiyah tak kenal lelah untuk melakukan kebaikan bagi umat dimulai dari hal yang sederhana hingga berskala kecil (Mitsuo Nakamura).

Ketiga pendapat tersebut di atas disempurnakan oleh KH Mu’ti, bahwa proses kaderisasi di Muhammadiyah ditopang oleh pertama karakter warga Persyarikatan yang ulet dan militan dalam menghidupkan gerakan Persyarikatan.

Kekuatan Muhammadiyah itu tidak terletak pada jumlah masa di Muhammadiyah. Tapi terletak pada kekuatan dan militansi warga Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kedua adalah karakter pelayanan yang tumbuh di kalangan warga Persyarikatan Muhammadiyah, dan ketiga adalah kekuatan dengan jaringan nama baik dan amal baik Muhammadiyah (Abdul Mu’ti, Sekjen PP Muhammadiyah).

Strategi Dakwah
Strategi dakwah yang dimaksud adalah bagaimana Muhammadiyah melakukan pendekatan efektif berbasis manfaat lintas batas, artinya tidak hanya terfokus pada satu lingkup sosial semata akan tetapi meliputi aksi mumpuni yang mampu menembus batas-batas agama, ras, suku, dan asal usulnya. Muhammadiyah telah mencerahkan berbagai kalangan sehingga mereka yang pernah bersinergi dengan Muhammadiyah akan tetap merindukan keberadaanya.

Di kawasan Indonesia bagian Timur, Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai sebuah organisasi rahmatan lil’alamin, tidak banyak berbicara tetapi sebaliknya bekerja dan berbuat untuk kemanusiaan. Di tengah masyarakat mayoritas non-muslim Muhamamadiyah mampu mencerahkan dengan penuh kedamaian.

Sebagai contoh di tanah Papua;Provinsi Papua dan Papua Barat, ada empat PTM yaitu STIKOM Muhammadiyah di Jayapura, UMS Sorong, STKIP Muhammadiyah Sorong, dan STKIP Muhammadiyah Manokwari. Strategi yang dilakukan adalah pola universal yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat (Mulyadi Djaya,Ketua PWM Papua Barat).

Kolektif, Kolegial
Masalah kepemimpinan dalam Muhammadiyah yakni menganut prinsip kolektif kolegial, bukan kepemimpinan tunggal. Prinsip ini dianut agar tanggungjawab pimpinan persyarikatan lebih mudah untuk memimpin karena dikelola secara bersama-sama (Din Syamsuddin).

Model kolektif-kolegial ini merupakan hasil ijtihad para pendiri Muhammadiyah yang mampu menyerap semua paradigma personalitas menjadi pandangan modernis. Kepemimpinan ini diperkuat dengan adanya struktur otoritas yang ada pada lembaga musyawarah organisasi secara permanen sehingga menghasilkan keputusan-keputusan yang mengikat secara kolektif.

Kepemimpinan ampuh yang diterapkan oleh Muhammadiyah selama ini yaitu berorientasi pada dua model yakni sebagai leader dan sekaligus manajer sehingga pengembangan dakwah bisa elastis dan berkembang di berbagai lini.

Para pimpinan mampu berinovasi kreatif dengan acuan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh organisasi. Hasilnya adalah kemajuan yang tak terbatas.

Karena itu sistem kepemimpinan Muhammadiyah yang bersifat kolektif-kolegial dapat melenyapkan egosentris personal ketika berkiprah di organisasi ini. Riak-riak kecil memang tak bisa dinafikan akan tetapi kualitas dan keunggulan masing-masing pimpinan menjadikan katup kelemahan tersebut tertutup dengan sendirinya. Gerakan dakwah dan sosial berjalan terus tanpa risau akan kehilangan pendukung atau arah kebijakan.

Simpulan
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah ‘amar ma;ruf nahi munkar mampu eksis dan menjadi pilihan ummat untuk tumbuh dan berkembang membangun negeri ini karena memiliki kekuatan pada militansi warga, karakter pelayanan yang menembus sekat entitas masyarakat serta jaringan nama baik dan amal baik Muhammadiyah.

Muhammadiyah adalah organisasi yang kehadirannya tidak mungkin ditolak karena telah memberikan bukti bukan janji pepesan kosong, meskipun kadang-kadang orang tidak suka
Kehadirannya senantiasa dirindukan, dan tentu saja siapapun yang bergabung dalam persyarikatan ini akan merasakan manfaat dan adem sebagai organsisasi rahmatan lil’alamin. WASPADA

Penulis adalah Dosen FKIP UMSU Medan /SMK Negeri 1 Pancur Batu Deliserdang, Wakil Ketua PD Muhammadiyah Deliserdang, Mahasiswa Program Doktor LTBI Unimed Medan, Aktivis Sosial.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.