Mi Balap Medan - Waspada

Mi Balap Medan
Budi Agustono

  • Bagikan

Mi balap tidak hanya menyediakan makanan murah, melainkan juga menjadi katup penyelamat ekonomi masyarakat bawah

Jika bepergian ke kota lain dari bandara Kualanamu Deli Serdang penumpang yang akan terbang melapor ke konter maskapai penerbangan sampai akhirnya menuju berlanjut ke ruang tunggu.

Di ruang tunggu bandara acap terlihat penumpang menenteng bungkusan plastik keresek atau kotak kardus berlogo membawa bolu Meranti.

Bolu Meranti adalah buah tangan terkenal dari Medan. Siapa saja yang ke Medan dengan tujuan rekreasi, wisata, berkunjung sanak saudara, perjalanan dinas dan sebagainya jika pulang selalu mencari Bolu Meranti.

Popularitas dan lezatnya bolu Meranti karena rasa, ada yang bersumber pribadi ada pula yang dari mulut ke mulut membuat banyak pelancong tergoda membeli bolu ini sebagai buah khas Medan.

Setiap harinya gerai bolu Meranti dipadati pembeli yang akan kembali dari perjalanan ke Medan. Bolu Meranti merupakan salah satu buah tangan paling terkenal dari kota berbilang etnik ini.

Demikian larisnya Bolu Meranti hampir semua pelancong yang ke Medan memburunya untuk bawaan buah tangan sebagai pertanda pernah ke Medan. Sejak berdiri sampai sekarang Bolu Meranti masih terus berkibar sebagai bisnis kukis terbesar di Medan.

Belum ada yang menandingi dan menyaingi popularitasnya. Belum lengkap rasanya bila ke Medan tidak membawa buah tangan ini.

Beberapa tahun belakangan bermunculan bisnis kukis (bolu), tetapi bolu yang bermacam merek dagang belum dapat bersaing dengan bolu Meranti yang masih menguasai pasar bisnis buah tangan dari kota Medan.

Selain bolu Meranti, usaha kecil kuliner lain yang bertumbuh adalah mi balap. Mi sudah lama dikenal di Nusantara. Orang mengonsumsi mi sebagai pengganti nasi. Terigu bahan baku mi mudah didapat di mana saja sehingga secara mudah pula diolah menjadi sumber karbohidrat.

Saat ini di kedai pinggir jalan, instansi pemerintah, perusahaan swasta, restorai, café dan sebagainya mudah sangat digemari sebagai makanan tambahan sebagai pengganti nasi.

Kehadiran mi balap belum lama. Lokasinya di pinggir jalan non protokol, rumah toko atau berdekatan dengan pasar tradisional setiap pagi ramai didatangi pembeli dari mana saja. Istilah mi balap tidak diketahui asal mulanya.

Namun sekelebat diksi balap ini terkait dengan balapan. Layaknya balapan tentu ada yang dipertandingkan seperti balap sepeda, sepeda motor dan mobil. Balap sepeda, sepeda motor dan mobil dilakukan dengan kecepatan tinggi. Siapa yang mampu bertanding dengan kecepatan paling tinggi akan memenangi pertandingan.

Jika ini dikaitkan dengan istilah mi balap boleh jadi akan bersinggungan dengan kecepatan. Kecepatan memasak mi. Yang dimasak adalah mihun, mi kuning dan kwetiau. Masak cepat dan cepat masak ini berhubungan dengan lokasi penjual mi balap yang kebanyakan di pinggir jalan non protocol.

Lokasi relatif sempit, sempit, meja kecil, dan beberapa kursi. Ada yang berjualan menggunakan tenda, ada yang hanya beralaskan langit. Karena mi balap menjual mi di pagi hari tentu memerlukan kesigapan dan kecepatan memasak dan dimakan dengan cepat mengingat tempatnya yang kecil agar dapat bergantian dengan pembeli lain.

Meski tempatnya kecil dan sempit, jika mi balap enak dilidah banyak orang mendatangi dan membelinya. Ada yang dimakan di tempat, ada yang dibungkus di bawa tempat kerja atau disantap di rumah. Karena masa jualnya pendek, semuanya dikerjakan dan disajikan dengan cepat bagaikan orang bertanding di sebuah balapan.

Katup Penyelamat

Saat ini di pinggir jalan non protokol kota terus bermunculan mi balap. Tidak saja lantaran harganya murah, tetapi rasa yang enak mendorong banyak orang antri membelinya.

Berbeda dengan Bolu Meranti yang pembeli berlatar belakang kelas menengah atas, pembeli mi balap berasal dari kelas ekonomi bawah (masyarakat kebanyakan).

Kelas ekonomi menengah atas tempat sarapannya tidak berlokasi di mi balap, melainkan lebih memilih ke kedai-kedai makanan yang tertata baik, bersih, enak, dan harganya lebih mahal. Tersebab itu amat jarang kendaraan roda empat parkir berhenti mampir membeli mi balap di pinggir jalan.

Masyarakat kelas ekonomi bawah membeli mi balap lantaran harganya murah dan terjangkau, dimasak cepat dan cepat saji, malah dapat dimakan hangat karena baru dimasak di atas kuali.

Pembeli datang silih berganti dan kebanyakan dipesan dan dibawa pulang karena lokasinya yang sempit dan terbatas.

Mulanya tidak banyak penjual mi balap di pinggir jalan non protokol. Tetapi enam atau tujuh tahun belakangan berdatangan pesaing-pesaing penjual mi balap di banyak sudut jalan kota. Tidah heran jarak antara satu penjual mi balap dengan yang lain relatif berdekatan.

Pertumbuhan mi balap cukup kencang bagaikan jamur di musim hujan. Hampir di setiap jalan non protokol kota selalu ada mi balap dengan harga murah yang dapat dijangkau kelas ekonomi bawah.

Dengan harga lima atau tujuh ribu dapat menikmati mihun, mi kuning atau kwetiau hangat yang dilahap pagi hari.

Mi balap memberi ruang buat kalangan ekonomi kecil menikmati makanan siap saji. Bagi yang tidak ada waktu tidak perlu repot-repot memasak, cukup keluar rumah membeli mi balap yang dapat dihidang cepat dengan keluarga di rumah. Mi balap yang sering ditambah nasi saat dimakan menjadi pilihan sarapan masyarakat bawah kota.

Mi balap tidak hanya menyediakan makanan murah, melainkan juga menjadi katup penyelamat ekonomi masyarakat bawah. Masyarakat urban yang terbiasa mengonsumsi makanan murah dengan adanya mihun, mi kuning dan kwetiau jika tangannya pandai memasak, dapat membuka talentanya dengan menjual mi balap.

Penjual mi balap sedikitnya memerkejakan satu atau dua orang menjadi pembuka lapangan kerja penduduk kota.. Adanya penghasilan warga meski tidak besar mengeluarkan penduduk dari sebutan penangguran.

Meski mi balap diminati warga urban tetapi kontestasi usaha kuliner ini di kelompok masyarakat bawah pesaing-pesaing barunya cukup besar. Jika ada yang sukses membuka mi balap, sangat terbuka peluang orang lain mendirikan usaha kecil yang sama.

Kompetisi harga dan tentu saja rasa enak menjadi pertimbangan utama laris tidaknya pembeli menghampiri atau singgah ke mi balap. Saat ini mi balap dengan mudah dijumpai di Jalan Setia Budi, Jalan Krakatau, Jalan Mansur, Jalan Gatot Subroto dan sebagainya.

Dari pukul enam pagi sampai menjelang pukul sebelas mi balap selalu hadir menemani warga kota yang akan mengisi perut untuk makan pagi (sarapan). .

Daya hidup mi balap sangat kompetitif karena mendapat kontender dari penjual sejenis yang bermunculan setiap waktu. Jika rasanya enak dan harga murah akan tersebar cepat dari mulut ke mulut sehingga mendorong pembeli menikmati makanan ini.

Mi balap (mihun, mi goreng dan kwetiau) tumbuh menjadi penguat usaha kecil dalam sektor ekonomi informal. Jika usaha kecil ini semakin beroleh respons pasar perlahan-lahan akan menjadi potensi berkembangnya sektor ekonomi informal.

Jika mi balap terus berkembang bukan tidak mungkin akan menggelinding menjadi bisnis kuliner (mi) seperti di pusat perbelanjaan modern meskipun dengan lokasi berbeda dan pelanggan yang berbeda pula tanpa berubah menjadi arena balapan bisnis kuliner (mi).

Tetapi hidup berdampingan dengan pangsa pasar yang berbeda seperti perbedaaan pelanggan bolu Meranti dengan mi balap.

Penulis adalah Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

  • Bagikan
Search and Recover