Waspada
Waspada » Merajut Integrasi Melalui Sumpah Pemuda
Headlines Opini

Merajut Integrasi Melalui Sumpah Pemuda

Belajar dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia bahwa, faktor utama sulitnya para pejuang mengusir penjajah dari bumi persada Nusantara adalah karena tidak ada rasa persatuan

Tanggal 28 Oktober 1928 sekelompok pemuda yang dipelopori, Muh. Yamin, Kuncoro Purbopranoto, Wongsonegoro, mendeklarasikan Sumpah Pemuda menuju Indonesia merdeka. Sumpah ini berisi pernyataan sikap seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan formulasi rumusan:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, 2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia, 3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia.

Dengan pernyataan sikap ini, maka menjadi momen pertama secara resmi kita mengenal nama Indonesia yang sebelumnya berasal dari kerajaan-kerajaan seperti, Kerajaan Aceh, kerajaan Sriwijaya, kerajaan Mojopahit, Kerajaan Singosari, Kerajaan Mataram dan lain-lain.

Belajar dari beberapa pengalaman sejarah bangsa Indonesia untuk mengusir bangsa penjajah dari bumi persada nusantara, kelemahan utama yang sangat dirasakan adalah karena tidak ada rasa persatuan, kekuatan yang tidak terkoordinir untuk melawan penjajah sehingga mudah ditaklukkan.

Dengan pengalaman tersebut, maka para pemuda memiliki keinginan yang kuat untuk mendeklarasikan Sumpah Pemuda dalam rangka menyatukan seluruh tumpah darah dari Sabang sampai Merauke dalam satu bangsa dan satu Bahasa tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan.

Pengalaman Sejarah

Pengalaman sejarah menunjukkan, terdapat beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia, secara berurutan yaitu, Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang. Perlawanan untuk melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing tersebut sudah dimulai jauh sebelum dicetuskannya Sumpah Pemuda.

Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan yang sudah mencapai masa ke-emasannya sejak abad VII – XII telah berusaha menghalau masuknya bangsa penjajah, namun karena perpecahan yang terjadi pada internal kerajan dan pertentangan dengan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitarnya termasuk serangan dari kerajaan Majapahit, menyebabkan kekuatannya melemahkan sehingga mudah ditaklukkan bangsa penjajah.

Demikian juga dengan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur yang sudah mencapai masa keemasannya sekitar abad XIII – XVI juga telah berusaha menghalau masuknya bangsa penjajah hasilnya tetap sama, karena terjadinya perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan, konflik dengan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya sehingga melemahkan kekuatannya dan mudah ditaklukkan bangsa penjajah.

Memasuki abad XVII, perlawanan oleh segenap bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Barat semakin berkecamuk. Kita mengenal beberapa nama pahlawan yang berjuang dengan gigih antara lain:
Sultan Agung di Mataram (1645), Hasanuddin di Makasar (1660), Sultan Iskandarmuda di Aceh (1635), Pangeran Antasari di Kalimantan (1860), Anak Agung Made di Lombok (1895), Badaruddin di Palembang (1817), Sisingamangaraja di tanah Batak (1990).

Apabila kita perhatikan perlawanan yang dilakukan masing-masing kerajaan tersebut hampir terjadi di seluruh wilayah yang kini kita kenal dengan nama Indonesia. Namun sangat disayangkan karena perlawanan secara fisik itu dilakukan secara sendiri-sendiri pada tiap-tiap daerah, tidak ada persatuan dan koordinasi perlawanan sehingga mudah ditaklukkan.

Kegagalan-kegagalan melalui perlawanan fisik yang tidak terkoordinasi, mendorong para pemimpin-pemimpin pergerakan Indonesia untuk memilih cara perlawanan yang berbeda yaitu, dengan menyadarkan bangsa Indonesia akan pentingnya bernegara.

Untuk kepentingan tersebut lahirlah bermacam-macam organisasi politik disamping organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial. Organisasi sosial politik yang pertama lahir adalah Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Mereka yang tergabung dalam organisasi itu mulai merintis jalan baru ke arah tercapainya cita-cita perjuangan bangsa Indonesia dengan tokohnya yang terkenal dr. Wahidin Sudirohusodo.

Kemudian pada tahun 1909 lahir lagi organisasi pergerakan Sarikat Dagang Islam kemudian berubah bentuknya menjadi pergerakan politik dengan mengganti nama Sarikat Islam (1911) di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto.

Masuknya Jepang ke Indonesia pada tanggal 9 Maret 1942, telah merubah bentuk penjajahan dan memperpanjang penderitaan rakyat. Jepang memahami keinginan dari rakyat Indonesia yaitu kemerdekaan dan tanah airnya.

Untuk mendapat bantuan rakyat Indonesia, Jepang mempropagandakan kedatangannya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman Belanda. Untuk meyakinkan propagandanya, Jepang memperbolehkan rakyat Indonesia mengibarkan Bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Walaupun propaganda Jepang ini hanyalah tipu muslihat, tapi paling tidak nama Indonesia sudah semakin populer dari Sabang hingga Merauke sehingga dapat mempersatukan berbagai suku, keturunan, ras, agama, golongan dan kelompok etnis menuju perjuangan merebut kemerdekaan.

Dengan pecahnya perang Pasifik menjadi pertanda akan berakhirnya perang dunia ke-2. Jepang menyadari kekuatannya yang kian lemah, sehingga berusaha kembali mengambil hati rakyat Indonesia. Jepang yang pada waktu itu berada di ujung kekalahan mencoba menarik hati bangsa Indonesia dengan mengumumkan suatu janji yaitu, Indonesia akan diberikan kemerdekaan oleh Jepang apabila bersedia membantu melawan Sekutu setelah perang usai.

Untuk menerima janji kemerdekaan dari Jepang tersebut, kepada para pemuda dan rakyat Indonesia dianjurkan membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan ini kemudian bertugas merumuskan apa yang akan dijadikan dasar Indonesia merdeka sehingga memenuhi syarat sebagai mana layaknya negara yang merdeka.

Walaupun kemerdekaan yang dijanjikan Jepang tidak jadi diserahkan seiring kekalahan mendadak pasca dijatuhkannya bom atom di Hirosima dan Nagashaki oleh Tentara Sekutu, akan tetapi para pemuda yang tampil mengisi kemerdekaan RI pasca kekalahan Jepang pada umumnya berasal dari pencetus ide Sumpah Pemuda seperti, Sukarno, Mohd. Hatta, Mr. Muhammad Yamin dan lain-lain.

Dengan demikian, Sumpah Pemuda tidak hanya sebagai awal lahirnya nama Indonesia, terciptanya rasa persatuan dan kesatuan bangsa akan tetapi juga sebagai momentum awal lahirnya tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan untuk mengisi kemerdekaan pada awal proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Penutup

Menyambut peringatan Sumpah Pemuda yang Ke-92 pada tanggal 28 Oktober 2020 ini, mari kita bangun semangat integrasi untuk merajut kembali rasa persatuan dan kesatuan. Belajar dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia bahwa, faktor utama sulitnya para pejuang mengusir penjajah dari bumi persada Nusantara adalah karena tidak ada rasa persatuan.

Karenanya aneka persoalan bangsa mulai dari isu penolakan penanganan Covid 19, demonstrasi penolakan RUU Omnibuslaw Cipta Kerja di berbagai daerah yang dapat mengancam integrasi bangsa.

Mari kita sikapi secara bijak dan arif dengan mengedepankan kepentingan segenap elemen rakyat dan pemerintah sehingga semangat Sumpah Pemuda yang telah dirintis kesuma bangsa tetap tegak dalam konsep satu tanah air, satu bangsa dan satu Bahasa. Semoga..!. Waspada

Penulis adalah Dosen Fisipol Universitas Medan Area, Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan USU.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2