Menyulap Kesawan-Malioboro - Waspada

Menyulap Kesawan-Malioboro

  • Bagikan

Untuk memenuhi keinginan dan narasi besar memutasi Kesawan menjadi Maliboro Pemko Medan harus memiliki komitmen politik dan komitmen kultural

Belum lama ini saat Pelaksana Tugas Wali Kota Medan dan Gubernur Sumatera Utara menghadiri Rapat Pemaparan Terkait Bangunan Warenhuis dan Heritage Kota Medan di Kantor Gubernur Sumatera Utara (12/2/2020) menyampaikan rencana dan keinginan pemerintah kota Medan menyulap kawasan Kesawan menjadi Malioboro. Apa yang disampaikan dalam rapat di atas harus disambut gembira karena jika terlaksana akan ada tata ulang, pergeseran dan perubahan dalam pengelolaan bangunan bersejarah, heritage di kota Medan.

Kesawan adalah wilayah pecinan hasil kreasi dua taipan kolonial kesohor Tjong Yong Hien dan Tjong A Fie di masa kolonial Belanda. Sewaktu Sumatera Timur di bawah kekuasaan kolonial taipan kakak beradik ini merantau berdagang ke Medan. Sejalan dengan tumbuh kembangnya perekonomian kolonial di sektor industri perkebunan, beragam bisnis dua bersaudara terkerek ikut membesar. Karena mempunyai kapital yang diraup dari keuntungan sektor industri perkebunan, pelan tapi pasti kedua taipan ini membangun kerajaan bisnis dengan ragam percabangan aktivitas ekonomi. Salah satu di antaranya membangun Kesawan.

Setelah Medan berubah menjadi kota modern-kosmopolitan, kedua taipan kolonial ini mendirikan gedung-gedung pertokoan di sekitar kawasan Kesawan sekarang. Gedung-gedung yang berdiri dengan megahnya di masa itu menjadi pusat aktivitas bisnis baru. Gedung komersial yang berjajar bercat putih dengan kokohnya berdiri menyediakan aneka macam keperluan konsumsi masyarakat kulit putih, Timur Asing dan keluarga kaya pribumi. Karena dirancang memenuhi kebutuhan konsumsi elit kolonial modern di Kesawan banyak gerai menjual barang kebutuhan masyarakat kelas sosial atas yang beroleh keberlimpahan dari ekonomi industri perkebunan. Toko atau gerai menjual bermacam perlengkapan barang pecah belah rumah tangga, obat-obatan, kuliner, busana, alat olah raga, minuman, perlengkapan sepeda, suku cadang mobil dan sebagainya.

Dengan demikian tak pelak Kesawan menjadi wilayah eksotik yang mampu menarik orang Eropa ke Medan. Bagi orang kulit putih yang merasa superior acap membelanjakan uangnya di Kesawan. Sedangkan kalangan Tionghoa selain pemilik toko yang menggerakkan perekonomian juga yang mengatur hasrat kebutuhan para penerima keberuntungan hasil industri perkebunan. Sejak berdirinya sampai sekarang Kesawan menjadi sumbu perekonomian di kota Medan.

Setelah kemerdekaan sampai sekarang wajah Kesawan nyaris tidak berubah, tetap meneruskan fungsi sebagai kantong ekonomi. Di wilayah ini aktivitas ekonomi lebih menonjol ketimbang aktivitas kerja kebudayaan. Sedari mula trotoar sepanjang Kesawan mulai dari perempatan Jalan Pemuda sampai Jalan Balai Kota bersih dari pedagang kaki lima. Juga hampir tidak pernah terdengar kawasan Kesawan digunakan sebagai tempat dan media kerja-kerja kebudayaan misalnya baca puisi, menjual produk kerajinan lokal, diskusi, tempat berkumpul seniman dan sastrawan, dan pelancong mancanegara menikmati sajian kesenian lokal dan sebagainya.

Di samping ini pelancong lokal dan mancanegara tidak banyak yang berkunjung ke wilayah Kesawan. Kesawan tampak lengang di siang dan malam hari. Sepanjang pagi sampai malam hanya toko yang terlihat buka tutup, sedangkan malam hari nyaris tidak ada lagi kegiatan lain setelah ratusan toko menutup kegiatan ekonominya. Terkuncinya toko di malam hari menunjukkan tidak ada aktivitas di malam hari di Kesawan. Bahkan toko atau gerai yang tutup di halaman toko nyaris tidak ada kegiatan komersial yang diisi pedagang kaki lima membuka lapak dagang, jajanan pangan dan minuman. Tersebab itu malam hari Kesawan relatif sepi dari huruk pikuk kegiatan ekonomi informal (pedagang kaki lima), kecuali restoran Tip Top dan hotel.

Lain Kesawan berbeda pula dengan Malioboro. Malioboro adalah destinasi wisata di Yogyakarta berlokasi di Jalan Margo Utomo membentang mulai Tugu Yogyakarta sampai ke Kantor Pos Yogyakarta. Di sepanjang jalan ini deretan toko komersial dipenuhi bermacam produk lokal dan mondial. Kehadiran toko komersial sudah cukup lama dan berdiri ratusan tahun lalu pada masa kolonial Belanda abad ke sembilan belas. Menurut sejarah nama Malioboro berasal dari malyabhara yang artinya berhiaskan untaian bunga.

Kemudian di tahun 1980-an di jalan yang dulunya bernama Mangkubumi ini dipasang iklan rokok terkenal Malioboro selama bertahun lamanya. Iklan rokok dari negeri Paman Sam ini sangat populer di sekitar jalan ini sehingga lama kelamaaan merek rokok ini akrab di telinga publik setempat yang akhirnya melengkapi nama Margo Utomo menjadi Malioboro.

Budaya

Malioboro tidak saja sebagai pusat komersial, tetapi juga aktivitasnya dipadati bermacam kegiatan sosio kultural. Mulai pagi sampai malam hari deretan toko komersial di sepanjang jalan padat ini tetap buka dan ramai didatangi pelancong lokal dan mancanegara. Selain menjual aneka macam keperluan rumah tangga, asesoris, perhiasan, busana, batik, kerajinan lokal juga menyediakan kuliner. Bahkan di halaman deretan toko yang tidak terlalu luas di ujung halamannya setiap hari dikerubut pedagang kaki lima menjual berbagai produk lokal dari seluruh wilayah negeri ini.

Juga di pinggir jalan atau trotoar di malam hari ratusan pedagang menjual ragam kuliner berbagai daerah. Namun yang terkenal adalah gudeg, kuliner lokal yang digemari lidah banyak orang. Di tengah keramaian Malioboro selalu hadir atraksi macam jenis musik lokal yang menarik pelancong mendengar dan menikmati sembari berjoged di tengah alunan musik lokal (tradisional). Masih di Maliboro juga, aktivitas kebudayaan selalu silih berganti yang diinisiasi bermacam komunitas yang mencurahkan perhatian pemajuan kebudayaan.

Sejak lama para satrawan, budayawan, dan penggiat komunitas kebudayaan selalu berdiskusi di beberapa lokasi di Malioboro. Diskusi sosio kultural yang terus berlangsung sampai hari ini telah banyak menelurkan sastrawan dan budayawan terkemuka Yogyakarta. Sebagai pelengkap belum lagi sejumlah hotel yang tersebar di sekitar wilayah ini menyediakan tempat bermalam siapa saja yang bertandang ke Malioboro membuat kawasan ini tak tak pernah mati dari keramaian setiap harinya.

Di ujung Selatan Malioboro terdapat lapangan besar (alun-alun), keraton Yogyakarta dan Kantor Pos peninggalan kolonial. Pada malam hari lapangan besar (alun-alun) Keraton Yogyakarya banyak dikunjungi orang sembari menikmati kuliner lokal (wedang jahe, gudeg dan sebagainya). Sambil menikmati kuliner lokal pelancong dapat menikmati suasana malam yang menenangkan, sedangkan siang hari pelancong dapat meluangkan waktunya melihat ke Karaton Yogyaakarta. Jika libur akhir pekan di depan perempatan Kantor Pos Yogyakarta dan ujung Selatan Malioboro acap menjadi tempat olah raga dan titik kumpul pelbagai komunitas budaya yang berkegiatan di Malioboro. Di sini Malioboro tidak saja menjadi destinasi wisata, melainkan juga menjadi ruang publik yang ramah kepada semua orang.

Sewaktu Pelaksana Tugas Wali Kota Medan dan Gubernur Sumatera Utara berkeinginan menyulap Kesawan meniru Malioboro patut diapresiasi. Diapresiasi lantaran telah mencuat gagasan besar mengubah Kesawan sebagai menjadi Malioboro. Keinginan menyulap Kesawan yang tentu saja memiliki ekosistem dan karakteristik yang berbeda dengan Malioboro bukan perkara mudah dan dapat dilaksanakan selekasnya. Rancang bangun, penataan dan pengelolaan serius dan berkelanjutan dengan mengutamakan muatan budaya harus diutamakan jika bermaksud mengubah ekosistem dan karakteristik sebuah kawasan.

Kesawan merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang dirawat, dipelihara dan dilindungi. Meski menjadi kawasan cagar budaya Kesawan masih belum beroleh perhatian sungguh metransformasikannya menjadi kawasan destinasi wisata. Sependek pengetahuan pengelolaan kawasan cagar budaya Kesawan masih berjalan di tempat, belum ada pergerakan kultural yang dirancang terorganisir dan terencana menuju destinasi wisata.

Untuk memenuhi keinginan dan narasi besar memutasi Kesawan menjadi Maliboro Pemko Medan harus memiliki komitmen politik dan komitmen kultural mematangkan pengelolaan kawasan cagar budaya Kesawan dengan tidak memotong-motongnya menjadi kegiatan parsial, tetapi menjalankannya secara serempak mulai dari Lapangan Merdeka sampai ke Istana Maimoon. Tanpa memiliki perencanaan menyeluruh, serempak, berkelanjutan komitmen politik dan komitmen pemajuan kebudayaaan keinginan melambung menyulap Kesawan menjadi Malioboro tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU
  • Bagikan