Menuju Muktamar PWNU dan PCNU se-Sumut Terbelah Dua
Oleh: Dr. Abrar M. Dawud Faza.

  • Bagikan

Hingga tulisan ini dimuat, bursa calon Ketum (Ketua Umum) PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)
masih menguat pada 2 figur utama PBNU, yaitu Kyai Said Aqil Siradj yang masih menjabat Ketum PBNU saat ini dan Gus Yahya Kholil Staquf yang saat ini menjabat Katib Aam PBNU. Kuatnya pengaruh Kyai
Said dan Gus Yahya di akar rumput belum dapat tertandingi oleh nama-nama lainnya.

Kyai Said menjabat Ketum PBNU sudah periode kedua, periode pertama terpilih pada Muktamar Ke-
32 di Makasar tahun 2010 dan Muktamar Ke-33 di Jombang tahun 2015. Periode kedua seharusnya
sudah berakhir tanggal 22 Agustus 2020, namun akibat pandemi Covid-19 kepengurusan PBNU
diperpanjang melalui keputusan Munas-Kombes PBNU 24 September 2020 hingga dapat diselenggarakannya Muktamar NU Ke-34.

Gus Yahya kemudian muncul sebagai kandidat calon ketum pasca dilantiknya sang adik Gus Yaqut
Kholil Choumas sebagai Menteri Agama dan dinyatakan secara terbuka pada saat Munas Kombes NU bulan September 2021. Gus Yahya bercerita sudah menemui Ketum PBNU Kyai Said untuk meminta
restu dan mengutarakan niatnya untuk maju sebagai calon Ketum PBNU.

Kedua calon baik Kyai Said maupun Gus Yahya sama-sama memiliki alasan dan latar belakang
tersendiri untuk kembali maju menjadi calon Ketum PBNU.

Kyai Said pada awal tahun 2019 diberitakan berbagai media tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai
calon Ketum PBNU. Hal ini dinyatakannya secara langsung pada beberapa tempat ketika berpidato
terutama pada saat memberi sambutan dalam acara Hari Lahir Muslimat Nahdlatul Ulama Ke-73 di
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Pada pertengahan tahun 2019 kemudian muncul pernyataan dan dukungan berbagai kalangan yang
menginginkan Kyai Said untuk memimpin PBNU kembali, salahsatu di antaranya dari PWNU Sumut
dengan melaksanakan Konsolidasi PWNU-PCNU se-Sumut tanggal 27-28 Agustus 2019 dan disusul
oleh PWNU lainnya. Meskipun pernyataan dan dukungan terus berdatangan, namun hingga Munas
Kombes NU bulan September 2021 belum ditanggapi Kyai Said secara terbuka dan di samping PBNU
pun disibukkan dengan berbagai kegiatan ikut mengatasi situasi pandemi Covid-19 yang belum reda.

Sementara Gus Yahya menjelang Munas Kombes NU September 2021 semakin tancap gas
mensosialisasikan dirinya sebagai calon Ketum PBNU. Berbagai pertemuan pun dilaksanakan dengan unsur pengurus wilayah dan cabang NU seluruh Indonesia pasca Munas Kombes NU tersebut.

Melalui Munas Kombes yang berakhir tanggal 25 September 2021 Kyai Said mengumumkan bahwa pelaksanaan Muktamar NU Ke-34 direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 23-25 Desember 2021 dengan mempertimbangkan masukan Gugus Covid Pusat maupun Daerah.

Beberapa hari pasca Munas Kombes, Kyai Said menemui Presiden Joko Widodo untuk melaporkan rencana Muktamar NU ke-34 di Istana Negara dan kemudian mendeklarasikan diri akan maju mencalon sebagai Ketum PBNU pada periode berikutnya.

Pencalonan Kyai Said ini ditanggapi dengan sorotan isu tidak lazimnya masa jabatan Ketum PBNU 3 periode.

Melalui AD/ART NU dan catatan sejarah perjalanan masa jabatan Ketum PBNU ternyata tidak diatur batasan masa jabatan Ketum dan terdapat beberapa rekam jejak Ketum PBNU yang lebih dari 2 periode, salah satunya adalah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Begitu juga dengan pencalonan Gus Yahya diwarnai interupsi jejak digital hubungannya yang tidak lazim dengan pihak tertentu di
negara Israel.

Dinamika Muktamar NU ini kian hangat terkait gerakan masing-masing kubu bakal calon yang mulai
saling melempar isu soal latar belakang organisasi hingga profil rekam jejak pemikiran dan jaringan
kedua tokoh tersebut.

Kyai Said sendiri bagi kalangan Nahdliyyin telah berhasil membawa perubahan dan kemajuan bagi
Nahdlatul Ulama dalam berbagai bidang, seperti politik, sosial, budaya dan bahkan pendidikan. Dalam
bidang-bidang tersebut NU semakin diperhitungkan dan memiliki positioning yang baik dalam kancah
nasional. Sementara Gus Yahya dianggap sebagai calon kompetitor muda yang diharapkan dapat
menyegarkan kembali gerakan perjuangan NU dengan membawa gagasan baru untuk kemajuan NU
di masa depan.

Sikap PWNU Sumut

Keberadaan 2 calon Ketum PBNU ini tentu saja menimbulkan ‘kegamangan pilihan’ bagi PWNU Sumut karena adanya hubungan dekat dengan kedua calon. PWNU Sumut memiliki persahabatan erat dengan Kyai Said dan begitupun dengan Gus Yahya telah terjalin hubungan bersinergi melalui adiknya Gus Yaqut.

Sudah dimafhumi bahwa Kyai Said memiliki hubungan yang sangat dekat dengan PWNU Sumut sejak beliau aktif turun berkunjung dan bahkan berkeliling di Sumatera Utara mulai tahun 2010 hingga saat ini. Berbagai kegiatan PWNU maupun PCNU disambangi Kyai Said di Sumatera Utara. Beliau juga begitu dikenal di kalangan warga NU dan pengurus NU baik di tingkat wilayah maupun cabang.

Mulai dari kegiatan maulid Nabi Saw., rapat koordinasi dan bahkan kegiatan kaderisasi dihadiri Kyai Said bila diundang oleh keluarga besar NU Sumut. Keakraban ini pun berlanjut pada kontribusi Kyai Said membantu proses izin operasional berdirinya kampus UNUSU (Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara) pada tahun 2015 dan kampus ITS NU (Institut Teknologi Swasta NU)
Padangsidimpuan Oktober 2021 baru-baru ini.

Begitu juga hubungan dengan Gus Yahya terjalin melalui adiknya Ketum GP Ansor NU Pusat Gus Yaqut
dengan Ketum GP Ansor NU Sumut Adlin Tambunan. Hubungan ini mau tidak mau mendekatkan Gus
Yahya dengan PWNU Sumut yang diketuai paman dari Ketum GP Ansor NU Sumut yaitu Syahrial Tambunan.

PWNU Sumut secara resmi memang belum mencabut dukungannya kepada Kyai Said yang dinyatakan
melalui Rakorwil PWNU PCNU Se-Sumut pada tahun 2019. Tetapi kenyataan di daerah-daerah bahwa
para ketua PCNU-PCNU juga menerima kunjungan unsur PWNU yang meminta dukungan kepada Gus Yahya. Ditambah lagi adanya pemberitaan keberangkatan seluruh Ketua PCNU se-Sumut ke Jakarta
untuk bertemu Gus Yahya.

Baik kepada Kyai Said dan Gus Yahya hingga hari ini belum ada pernyataan dukungan resmi atau langsung dinyatakan oleh PWNU Sumut dan juga PCNU-PCNU se-Sumut.

Bagaimana hal ini terjadi, tentu disebabkan adanya dikotomi pandangan PWNU Sumut terhadap calon Ketum PBNU Kyai Said
atau Gus Yahya.

Meskipun demikian tentu saja konstelasi jelang Muktamar NU harus tetap menjaga dan mengedepankan marwah NU dan para kyai atau ulama di dalamnya. NU bagaimanapun bukan organisasi atau partai politik melainkan organisasi keumatan.

Siapapun yang berkontestasi tentu
adalah merupakan figur-figur yang terbaik dan mumpuni serta patut dihormati sehingga harus dihindari upaya saling menjatuhkan secara personal.

Tantangan NU ke depan semakin berat seiring dengan era globalisasi, belum lagi pengaruhnya pada aspek keterbukaan informasi, NU saat ini dihadapkan pada massifnya penyebaran paham dan gerakan
ideologi transnasional yang tidak sedikit bertolakbelakang dengan semangat moderasi beragama.

Semoga organisasi besar keumatan ini dapat melalui kontestasi dengan baik, bermarwah dan maslahat bagi umat.

*) Pengamat Politik Islam dan Dosen UIN Sumatera Utara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *